Headline

Previous
Next

Thursday, 21 September 2017

Hijrah Itu Berpindah Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik

Hijrah Itu Berpindah Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik

Di era sekarang, makna hijrah itu adalah berpindah menuju kehidupan lebih baik dan bermakna, dan indah, bukan berpindah justru untuk berperang dan saling baku bunuh. Pernyataan itu dilontarkan Ketua Lembaga Dakwan PBNU, KH Maman Imanulhaq, dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1439 H.

“Hijrah itu pada hakikatnya sebuah semangat untuk melakukan perubahan. Manusia yang berpindah, diharapkan juga mengusung semangat perubahan menuju kehidupan yang semakin baik, indah, dan bermakna,” ungkap Maman Imanulhaq di Jakarta, Kamis (21/9/2017).

Untuk itu, siapa pun (khususnya umat Islam) yang ingin mewarisi semangat hijrah harus mempunyai gairah untuk terus mencari hal-hal yang baru, baik, dinamis, dan progresif dalam kehidupan yang kaya warna dan nuansa.

Dirinya mencontohkan, Rasulullah melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah pada hari Jumat tanggal 13 Rabi‘ul Awwal atau 24 September 622 Masehi karena ingin mengubah tatanan hidup, kebudayaan, dan peradaban umat manusia yang rendah, primitif, bobrok, kejam, timpang, dan tidak manusiawi, menuju tatanan hidup, kebudayaan, dan peradaban yang sehat, adil, baik, sejahtera, dan manusiawi. Rasulullah menawarkan ajaran Islam sebagai alternatif dan solusi kehidupan yang baik dan sehat.

"Saat itu, Rasulullah bersama pengikutnya terpaksa “menyingkir” dari Makkah karena mendapatkan gempuran bertubi-tubi dari kaum kafir Quraisy, yang merasa terancam dengan ajaran baru yaitu islam. Gempuran itu sangat membahayakan dan mengancam keselamatan jiwa Rasulullah dan para pengikutnya," katanya menceritakan.

Peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah itu, oleh Khalifah Umar ibn Khaththâb dijadikan sebagai tonggak awal diberlakukannya tahun baru dalam Islam yang disebut tahun hijriyah atau hijrah.

Seperti diketahui, seiring maraknya propaganda radikalisme dan terorisme, tahun baru hijriyah itu dijadikan ajang propaganda untuk menarik pengikutnya untuk bergabung berperang di negeri konflik seperti Suriah, Filipina, dan terakhir ke Myanmar.

Menurut Kiai Maman, langkah-langkah itu jelas tidak sesuai dengan ajaran Rasululloh. Ia menegaskan bahwa hijrah sebaiknya dilakukan dengan niat yang tulus dengan cara melepaskan diri dari belenggu ambisi pribadi, kepicikan, dan kepentingan sesaat. Bukan berhijrah untuk melakukan kekerasan, apalagi pembunuhan. “Manusia yang hijrah harus selalu memiliki optimisme dalam menyongsong masa depan yang semakin baik,” ujarnya Maman.

Dalam konteks dunia dan global, lanjut pria yang juga anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB ini, semangat hijrah misalnya bisa diisi dan diwarnai dengan perjuangan yang tak kunjung usai untuk menegakkan keadilan dan perdamaian. Selain itu, semangat hijrah dalam pentas Indonesia mutakhir bisa diwarnai dengan perjuangan melawan segala bentuk ketidakadilan, kekerasan, penindasan, narkoba, korupsi, serta upaya-upaya disintegrasi yang mengancam keutuhan NKRI. (Adri Irianto)

Tuesday, 19 September 2017

Agar Tak Mudah di Adu Domba, Diperlukan Kewaspadaan Bermedia Untuk Merawat Kebhinnekaan

Agar Tak Mudah di Adu Domba, Diperlukan Kewaspadaan Bermedia Untuk Merawat Kebhinnekaan

Kebhinekaan yang ada di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru. Masyarakat Indonesia sejatinya harus mensyukuri, menghargai dan harus dapat merawat Kebhinekaan termasuk kearifan lokal ataupun budaya yang ada di Indonesia sebagai upaya untuk mewaspadai adu domba dan menjadi benteng terakhir dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Untuk menjaga kebhinekaan dan kearifan lokal yang ada tentu juga harus dengan kewaspadaan. Kewaspadaan ini agar supaya berbagai macam perbedaan yang dimiliki bangsa ini tidak dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk memecah belah bangsa ini,” ujar Wakil Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag di Jakarta, Senin (18/9/2017).

Pria yang juga dosen pasca sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini mengatakan bahwa dari dulu hingga sekarang ini sebenarnya sudah ada usaha-usaha kelompok tertentu untuk memecah belah persatuan bangsa ini diantaranya dengan cara mengadu domba. “Cuma sekarang cara yang dilakukan untuk mengadu domba sudah lebih banyak, Diantaranya melalui media, baik yang dilakukan media mainstream dan juga media sosial,” ujarnya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa kewaspadaan dalam menjaga Kebhinekaan untuk media itu sebenarnya di dalam islam itu harus dengan memperluas permaknaan iqro.  Dimana  iqro itu menurutnya ibarat pada jaman dahulu kala kalau wahyu pertama turun itu dipahami sebagai literasi teknis, kemudian literasi fungsional, kemudian literasi kebudayaan dan sekarang itu ada literasi media baik literasi media sosial maupun literasi media mainstrem.

“Dan yang dalam kewaspadaannya itu sekarang ini bahwa ancaman bagi media mainstream itu lebih dari kepentingan pemilik modal. Sehingga perlu upaya agar pemilik media mainsstream ini tetap menjaga obyektifitas dari medianya agar media sebagai pilar demokrasi yang keempat yaitu NKRI bisa tetap terjaga,” ujar pria kelahiran Klaten, 1 April 1961 ini.

Sebab menurutnya akan menjadi sebuah bahaya besar bagi persatuan bangsa ini jika media mainstream itu tidak dipercaya lagi oleh masyarakat. Karena masyarakat percayanya pada berita hoax. “Tentu bahaya banget itu nanti kalau sampai terjadi. Masyarakat akan mudah di adu domba dan termakan isu,” ujarnya.  

Menurutnya, ketika dalam kenyataan seperti dirasakan oleh sebagian orang ketika bahwa media itu tidak obyektif, maka kewaspadaanya yakni masyarakat harus bisa memiliki kecerdasan untuk menyaring atau menerima informasi itu. Dan pendidikan untuk hal tersebut sangat penting sekali. Namun yang terjadi sekarang ketika pendidikan itu penting ternyata ada persoalan lagi apalagi dengan berkembangnya internet.

“Dengan berkembangnya internet sekarang ini kecenderungan orang itu untuk berfikir dangkal, tidak mau berfikir yang mendalam.  Mudah-mudahan kita bisa mengatasi, jadi ini tantangan dunia pendidikan sehingga sekarang dunia pendidikan itu harus menanamkan kecerdasan bermedia,” ujarnya.

Untuk itu menurutnya diperlukan penegakan hukum yang kua. Sehingga selain melalui kecerdasan bermedia melalui pendidikan maka penegakan hukum itu menjadi penting. Pengalaman di masyarakat kita sendiri bisa menjadi pelajaran. Dirinya memberikan contoh beberapa kasus konflik yang terjadi di negara Indonesia juga karena media sosial,

“Untuk itu mau tidak mau penegakan hukumnya harus lebih ditegakkan lagi. Sebab jika tidak terjadi penegakan hukum itu sangat bahaya. Contonya sekarang ini di medsos namanya saracen. Setelah saracen itu ditemukan, maka hoax di medsos itu turun sampai 50 persen,” tuturnya.

Demikian juga dalam menjaga kearifan lokal yang merupakan budaya turun temurun di negeri kita. Pria yang juga dosen Magister Studi Islam (MSI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini berpesan agar budaya dan kearifan lokal sangat penting untuk dijaga dan dirawat di era sekarang ini. Apalagi intervensi dari budaya-budaya barat dan negara lainnya sudah cukup mengkhawatirkan masuk ke Indonesia.

"Saya kira merawat, menjaga kearifan lokal dan budaya sangat penting. Karena intervensi peradaban barat dan dari negara lain sangat mendesak kita. Kalau kearifan lokal itu hilang tidak ada lagi kebanggan bagi bangsa kita. Kearifan lokal ini juga sebagai upaya kita untuk merawat NKRI. Dan kita harus bangga dengan banyaknya budaya yang ada di negeri kita," ujarnya mengakhiri.(Adri Irianto)

Friday, 15 September 2017

Solidaritas Kemanusiaan Dikedepankan tanpa Merusak Kebhinekaan Bangsa

Solidaritas Kemanusiaan Dikedepankan tanpa Merusak Kebhinekaan Bangsa

 Tragedi Rohingnya di Myanmar telah menyodot perhatian publik di Tanah air. Atas nama solidaritas, banyak masyarakat menunjukkan simpati dan empatinya untuk melakukan aski turun jalan, rencana berangkat ke daerah konflik tersebut hingga upaya tidak produktif dengan menanamkan kebencian terhadap umat lain.

Sayangnya, sebagaimana diketahui, konflik kemanusiaan yang terjadi di negara bagian Rakhine ini telah dimanfaatkan oleh beberapa kelompok untuk membenturkan masyarakat di dalam negeri melalui isu sentimen keagamaan.

Direktur Eksekutif Indonesian Conference in Religion and Peace (ICRP), Muhammad Monib, mengatakan bahwa solidaritas kemanusiaan merupakan cara efektif sebagai cara pandang dalam menyikapi konflik tanpa menimbulkan sekat ideologis dan identitas masyarakat yang dapat merusak kebhinekaan bangsa. Solidaritas yang sempit justru akan membenturkan masyarakat dan menimbulkan persoalan baru di dalam negeri.

"Agama seakan menjadi bumbu penyedap saat kondisi masyarakat didominasi oleh sentimen agama. Rendahnya kualitas tabayyun, dan klarifikasi pemahaman terhadap masalah menyebabkan banyak golongan yang memperoleh keuntungan politik dengan menggunakan instrumen agama," ujar Muhammad Monib

Lebih lanjut pria kelahiran Bangkalan ini menegaskan bahwa setiap agama sebenarnya mempunyai potensi radikal, fanatik dan ekstrimis. Namun yang perlu diperhatikan bahwa tindakan individu tidak bisa mewakili ajaran agama dan pandangan mayoritas umat yang lain.

"Sebenarnya dalam kasus Rohingya ini kita tidak perlu memusuhi umat-umat lain yang ada di Indonesia, karena kejadian ini bukan persoalan negara kita dan sangat berbahaya terhadap cara kita berbangsa yang majemuk. Jadi hal itu harus diwaspadai, masyarakat kita jangan mudah terpancing,” tegasnya.

Karenanya Monib mengajak masyarakat dalam mengekspresikan solidaritas harus mengedepankan nilai dan aksi kemanusiaan. Selain itu penting untuk mendorong keterlibatan pemerintah dan lembaga internasional seperti PBB, OKI, Negara ASEAN agar mengambil peran lebih terukur, lebih terlihat, dan lebih nyata dalam kerja diplomatik.

"Justru hal paling penting yang bisa dilakukan masyarakat adalah aksi nyata semisal bantuan real terhadap muslim Rohingya yang terdapat di penampungan. Rasanya tak akan selesai persoalan apabila hanya dengan pola-pola pendekatan, teriakan dan mengorbankan sentimen keagamaan.”ujarnya mengakhiri. (Adri Irianto)

Wednesday, 13 September 2017

Waspada Adu Domba Berbungkus SARA

Waspada Adu Domba Berbungkus SARA

Kerukinan hidup yang dimiliki bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam, suku, bangsa, bahasa, terus diuji. Kemajemukan inilah yang sering dimanfaatkan kelompok-kelompok yang ingin menggoyahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan menghembuskan isu-isu negatif, terutama SARA, demi untuk mengadu domba anak bangsa. Hal ini wajib diwaspadai karena kelompok tersebut menggunakan berbagai cara untuk melancarkan aksinya.

“Tidak hanya peristiwa di dalam negeri seperti Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu, sekarang pun kasus kemanusiaan di Myanmar juga ‘digoreng’ dengan membenturkan agama islam dan budha. Upaya-upaya ini harus diwaspadai karena isu SARA itu sangat rentan di masyarakat kita,” papar pengamat intelijen Marsda Purn Prayitno Ramelan di Jakarta, Rabu (13/9/2017).

Menurut Pray, panggilan karib Prayitno Ramelan, apa yang terjadi Myanmar itu sebenarnya bukan konflik agama, tapi konflik kemanusiaan yang dilandasi politik dan ekonomi, juga karena sistem demokrasi yang belum berjalan. Karena itu, sangat tidak relevan bila kasus itu justru digunakan kelompok-kelompok tertentu untuk mengganggu stabilitas keamanan di dalam negeri.

Ia menguraikan, apa yang terjadi di Indonesia merupakan imbas dari peristiwa 411, 211, dan Pilkada DKI Jakarta, dimana kelompok islam dianggap menang sehingga mereka terus butuh momentum. “Kebetulan kasus Rohingya itu ada benturan antara agama islam dan budha, sehingga faktanya isu kemanusiaan tapi digeser menjadi isu agama. Tujuannya untuk solidaritas menggerakkan massa. Apalagi ini solidaritas islam, pasti ribuan orang yang turun seperti kasus Al Maidah,” tukas Pray.

Dari fakta itu, Pray mengajak seluruh anak bangsa untuk berpikir jernih mencermati kondisi yang terjadi akhir-akhir ini. Apalagi pemerintah Indonesia sudah melakukan langkah terbaik untuk memberikan bantuan kemanusiaan ke Myanmar. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk kembali memperkuat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk menjaga NKRI.

Sebenarnya, lanjutnya, upaya-upaya adu domba itu sudah biasa dihadapi bangsa Indonesia, sejak belum merdeka dulu. Tapi alangkah baiknya bangsa Indonesia belajar dari masa lalu dengan mewaspadai hal-hal berbau SARA.

Apalagi, ia juga khawatir kondisi itu memicu terjadinya aksi terorisme, terutama dengan adanya rumor pengiriman tenaga ke Myanmar untuk ikut berperang di sana. Juga kemungkinan kasus itu ditunggangi kelompok radikal ISIS, untuk melebarkan sayapnya di kawasan Asia Tenggara, selain di Marawi. “Mungkin saja dimanfaatkan kelompok radikal. Karena saat ini di Suriah, tokohnya itu ingin menghidupkan ISIS di Asia Tenggara (ISIS), setelah Al Qaeda memperkirakan pada 2017  ISIS habis di Timur Tengah. Bisa saja ISIS mungkin bermain di Marawi dan Myanmar,” terangnya. (Adri Irianto)
KSAL Resmikan KRI Bima Suci Untuk Maneggantikan KRI Dewa Ruci

KSAL Resmikan KRI Bima Suci Untuk Maneggantikan KRI Dewa Ruci

Kepala Staf Angkatan laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi, telah meresmikan nama kapal latih terbaru untuk kadet taruna TNI AL sebagai “KRI Bima Suci”, dalam sebuah upacara yang berlangsung di fasilitas Freire Shipyard, Vigo, Spanyol, pada hari Selasa (12/9/2017).  Upacara tersebut sekaligus menandakan proses pembangunan kapal latih tinggi ini sudah tuntas secara keseluruhan dan untuk selanjutnya kapal akan dipersiapkan untuk dilayarkan ke Tanah Air.

Meski merupakan kabar baik bagi selurun bangsa, sayangnya KRI Bima Suci tak bisa ikut ditampilkan dalam defile HUT TNI Ke-72, 5 Oktober 2017 mendatang. Merujuk ke pernyataan Dubes RI di Spanyol Yuli Mumpuni Widarso sebelumnya, disebutkan setelah selesai KRI Bima Suci sejatinya akan diberangkatkan dari Spanyol pada 15 Agustus 2017. Namun jelas rencana telah bergeser karena upacara peresmian KRI Bima Suci baru dilangsungkan pada 12 September kemarin.

Menurut siaran pers dari Sekretariat Akademi Angkatan Laut (12/9/2017) yang diterima zonasatu.co.id, menyebutkan bahwa KRI Bima Suci akan tiba di Indonesia pada 26 November 2017. Kapal kelas Bark (Barque, bahasa Inggris) dengan tiga tiang ini akan menuju Indonesia melewati rute Vigo (Spanyol) – Roma (Italia) – Port Said (Mesir) – Jeddah (Arab Saudi) – Salalah (Oman) – Colombo (Srilanka) – Padang – Jakarta – Surabaya. Saat berlayar ke Indonesia, KRI Bima Suci akan membawa 128 awak dan penumpang, terdiri dari delapan orang staf pelatih, satu orang wartawan dan Taruna AAL sebanyak 119 orang.

Dalam misi yang diberi nama Satuan Latihan Kartika Jala Kridha (Satlak KJK) Vigo Spanyol 2017, Satlak KJK akan menggunakan KRI Bima Suci sebagai tempat latihan bagi para Taruna dengan tujuan untuk melaksanakan pelayaran navigasi lingkaran besar, astronomi dan mempraktekkan semua profesi dasar matra laut pada keadaan sebenarnya. Selain itu juga memberikan wawasan kepada para Taruna tentang tempat-tempat yang disinggahi dan menambah wawasan tentang etika pergaulan internasional serta mengenal kondisi sosial masyarakat setempat. 


Peran diplomasi TNI Angkatan Laut sebagai duta bangsa dan negara diemban oleh para Taruna dalam pelayaran ini termasuk untuk mempromosikan budaya Indonesia dan mempublikasikan TNI Angkatan Laut dan Akademi Angkatan Laut dalam rangka menuju World Class Navy dan World Class Naval Academy.

KRI Bima Suci memiliki 26 layar dengan luas keseluruhan layar 3.352 meter persegi. Ketinggian dek utamanya 9,20 meter dari permukaan laut. Keistimewaan kapal ini terletak pada instrumen navigasi pelayarannya yang lebih canggih, instrumen pemurnian air laut menjadi air tawar, hingga alat komunikasi dan data digitalnya. KRI Bima Suci memiliki ukuran panjang totalnya 111,20 meter, lebar 13,65 meter, kedalaman draft 5,95 meter, dan tinggi maksimal tiang layar 49 meter dari permukaan dek atas.

Dari sisi performa, KRI Bima Suci punya kecepatan maksimal 12 knot jika menggunakan daya dorong mesin dan 15 knot jika menggunakan layar. Sementara itu untuk tingkat endurance (ketahanan berlayar tanpa mengisi BBM) dapat mencapai 30 hari. Kapal layar tiang tinggi ini dilengkapi dengan 5 dek, 7 kompartemen, dan 48 blok. Dari segi kapasitas, kapal ini dapat menampung 120 taruna dengan 80 awak kapal. (Noopr Irawan)
Kisah Penyesalan Para Deportan Eks Simpatisan ISIS

Kisah Penyesalan Para Deportan Eks Simpatisan ISIS

Sebanyak 18 orang warga negara Indonesia (WNI) yang pernah menjadi pendukung jaringan kelompok radikal terorisme Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) dipulangkan ke Tanah Air pada 12 Agustus 2017 silam setelah dijemput pihak dari kementerian Luar negeri (Kemenlu) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Mereka diterbangkan dari Erbil, Irak pada 11 Agustus dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, sehari kemudian.

Beberapa orang deportan eks simpatisan ISIS itu menceritakan kisah kelamnya saat bergabung dengan kelompok militan ISIS di Irak dan Suriah. Dalam sebuah video kesaksian yang dibuat oleh Pusat Media Damai (PMD) BNPT dan ditayangkan di situs BNPT.go.id, semua WNI itu satu suara, dan menyatakan bahwa mereka tertipu. Semua yang dijanjikan ISIS di dunia maya, menurut mereka hanyalah kebohongan.

Heru menceritakan kisah seram yang dilihatnya. Dia memang tidak pernah melihat eksekusi langsung yang dilakukan ISIS, tapi ada satu pengalaman yang terngiang di kepalanya hingga saat ini. "Saya takut," katanya. Dia bercerita, ada sesosok mayat yang telah dieksekusi dan disandarkan. "Kepalanya dibuat mainan sama anak-anak, ditendang-tendang. Orang sudah mati saja digituin. Mual saya," katanya.

Merasa tertipu. Itulah, yang dirasakan WNI lainnya, Dwi Djoko Wiwoho, lelaki yang dulu pernah menjabat sebagai Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Badan Pengusahaan (BP) Batam yang dilaporkan hilang sejak tahun 2015 bersama keluarganya ini menilai ISIS tak lebih sebagai kelompok pencari wanita.

"Banyak itu yang nawar, melamar datang. Sampai anak saya yang kecil itu ditanya, kalau sudah haid kasih tahu ya," kenang Djoko yang terlihat kurus dan letih.

Djoko yang dulu meninggalkan Batam bersama anak-anak perempuannya dan istri ke Suriah mengaku melihat hal yang jauh berbeda dari ISIS yang mereka kenal di jejaring sosial. "Katanya dulu ada sekolah gratis. Tapi begitu nyampe di sana malah disuruh kawin," ujar Djoko.
Naila, seorang perempuan yang berangkat ke Suriah mengatakan, tindakan-tindakan yang dilakukan ISIS, di luar nalar manusia. "Aku enggak nyangka separah setelah aku masuk ke Suriah. Pas di Suriah sampai asrama perempuannya, kelakuannya itu, Ya Allah, bisa kubilang lebih parah dari binatang," kata Naila dalam kesaksiannya.

Lain Naila, lain lagi Heru. Pria yang sempat bergabung dengan ISIS itu heran dengan kelakuan orang-orang yang disebut pejuang itu. "Hampir seminggu, dua atau tiga kali terjadi perkelahian, penyebabnya, makanan, senggolan, istilahnya kayak preman," katanya.

Menurut kesaksian lain yang diungkapkan Difansa, di ISIS, harga nyawa manusia sangatlah murah. "Di luar ISIS kafir, main asal bunuh saja," kata dia.

ISIS, kata Difansa, mengejar tiga hal, yakni kekuasaan, harta dan perempuan. "Itu nyata sekali, keluarga saya yang masih single dikejar, jihad nikah. Menikah itu seperti lomba, abis menikah, cerai, dan semua itu difasilitasi negara, ISIS dapat uang," kata dia.

Difansa menyarankan agar setiap orang Indonesia yang berniat menuju ke ISIS mengurungkan niatnya. "Orang-orang yang belum masuk sana bersyukurlah. Lubang penipuan semua, Saya luar biasa menyesalnya," katanya, (Adri Irianto)

Berikut link video penyesalan para WNI Deportan Eks Simpatisan ISIS :

https://www.bnpt.go.id/kisah-para-deportan-isis.html

video


Thursday, 7 September 2017

Masyarakat Diminta Cermati Masalah Rohinya Dengan Baik Agar Tak Mudah Terprovokasi

Masyarakat Diminta Cermati Masalah Rohinya Dengan Baik Agar Tak Mudah Terprovokasi

 Masyarakat diminta untuk waspada akan politisasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal terhadap krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya yang terjadi di Rakhine State, Myanmar yang dapat berakibat memicu konflik di dalam negeri sendiri. Apalagi krisis etnis Rohingya ini ‘dibumbui’ isu agama tentunya akan dapat merusak persatuan bangsa kalau tidak disikapi dengan cermat duduk permasalahannya.

“Kita harus bisa mendudukkan persoalan masalah etnis Rohingya ini dengan cermat. Sebenarnya ini kan masalahnya multi konflik atau multi faktor yang sudah lama berkembang. Ada faktor geopolitik, ada faktor sumber daya alam, etnis dan faktor-faktor lainnya,” ujar (Peneliti dari Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan /Ekonomi dan Sosial/LP3ES, .Dr. Adnan Anwar, MA, di Jakarta, Kamis (7/9/2017)

Dijelaskan mantan Wakil Sekjen PB NU ini, masalah konflik etnis Rohingya di Myanmar ini bukanlah konflik agama, meski  banyak umat muslim yang menjadi korban dalam kekerasan di Rakhine, Myanmar tersebut.

“Lalu jangan serta merta disimpulkan menjadi konflik antar agama. Ini kan konflik multi faktor, multi sektoral.  Jadi kalau ada yang mengatakan ini pembantaian terhadap umat islam sudah pasti tidak benar lah. Masalah ini harus didudukkan yang sebenarnya,” ujar tokoh muda NU ini.

Menurutnya, adanya upaya mobilisasi masyarakat muslim dunia termasuk masyarakat di Indonesia yang menyatakan bahwa konflik di Rakhine ini  masalah konflik agama tentunya sama sekali tidak dibenarkan.

“Dan tentunya itu sangat salah sekali. Masyarakat harus lebih cerdas mencermati masalah tersebut dan jangan sampai terprovokasi. Kalau isu masalah agama itu terus dikembangkan bisa-bisa masyarakat kita yang terpecah,” ujarnya

Dirinya meminta kepada masyarakat untuk tetap waspada  agar tidak mudah diadu domba oleh segelintir kelompok tertentu yang berusaha mengajak masyarakat kita untuk pergi berjihad dengan dalih membantu etnis muslim Rohingnya di Myanmar

“Saya kira itu juga tidak relevan. Lalu disini membikin aksi untuk menyerang agam tertentu. Bahkan melakukan demonstrasi di candi Brobudur, Saya kira itu tidak tepat. Karena sejatinya masalah tersebut bukanlah isu agama.,” tuturnya..

Namun demikian dikatakan alumni Hubungan Intenasional Universitas Airlangga Surabaya ini, yang bisa dilakukan masyarakat saat ini yakni melakukan penekanan kepada pemerintah. Karena pemerintah lah yang memiliki hak untuk bersuara di level ASEAN atau kepada PBB  untuk menekan pemerintah Myanmar agar aparat  militernya tidak melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

“Harusnya seperti itu yang dilakukan. Yang bisa kita lakukan ini kan namanya second track diplomacy sebagai kekuatan masyarakat. Menyampaikan second track diplomacy itu harus ada di belakangnya pemerintah,” ujar pria yang ditunjuk sebagai pengembang organisasi NU di kawasan Timur Tengah ini.  
   
Lalu upaya lainnya seperti apa yang sudah dilakukan masyarakat Islam dengan melakukan dzikir bersama atau membaca doa Qunut Nazilah sebagai upaya untuk menolong masyarakat muslim yang menjadi korban di Myanmar menurutnya sudah cukup bagus. “Itu saja digalakkan di masjid-masjid atau mushola untuk membantu masyarakat muslim dari etnis Rohingya supaya terhindar dari mara bahaya,” ujarnya

Langkah lainnya menurut pria yang pernah menempuh pendidikan master di Belanda ini yakni dengan membikin solidaritas kemanusiaan melalui donasi dengan menggalang dana yang dilakukan oleh berbagai elemen selama ini dinilainya juga sudah cukup bagus. Bahkan dengan menolong atau menyelamatkan anak-anak saya juga sudah banyak dilakukan.

“Saya kira itu lebih patut di kalau kita dudukkan, ,tindakan kita sebagai warga negara Indonesia ya disitu itu. Selebihnya kita tidak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah mencampuri urusan negara orang lain,” ujarnya.

Oleh karena dirinya kembali menenkankan bahwa cara yang lebih santun atau sesuai dengan tata krama yakni dengan  mendorong pemerintah atau lembaga-lembaga internasional untuk bertindak agar konflik tersebut dapat segera diselesaikan dengan baik tanpa jatuh korban yang lebih banyak lagi.  

“Jadi harus benar-benar didudukkkan ke persoalan sesungguhnya Dan peneggakannya juga harus komprehensif, tidak hanya satu isu itu saja. Pemerintah harus bisa meminta lembaga-lembaga internasional untuk segera menyelesaikannya secara cepat agar tak jatuh korban lebih banyak lagi,” ujarnya mengakhiri.   (Adri Irianto)

Tuesday, 5 September 2017

Masyarakat Jangan Mudah di Adu Domba Terkait Tragedi Rohingya

Masyarakat Jangan Mudah di Adu Domba Terkait Tragedi Rohingya

Masyarakat Indonesia diminta tak mudah terpengaruh dan harus mewaspadai krisis yang dialami etnis Rohingya di Myanmar yang telah menyebar dan menjadi masalah kemanusiaan yang berpotensi pada perpecahan bangsa-bangsa, khususnya di Asia Tenggara. Karena kondisi ini bisa dimanfaatkan kelompok radikal untuk lebih memperkeruh suasana. Apalagi krisis Rohingya ini ‘dibumbui’ isu agama.

“Populisme agama akan mendapat tempat kokoh di tengah krisis kemanusiaan semacam ini, apalagi aktor yang terlibat dalam krisis, berbeda secara diameteral dalam soal agama dan etnis. Diskriminasi ganda dan dugaan genosida atas dasar agama dan etnis yang dialami oleh Rohingya sangat mungkin menghimpun solidaritas dan dukungan publik,” ujar Ketua Setara Institute, Hendardi di Jakarta, Senin (4/9/2017).

Karena itu, Hendardi mendukung langkah yang telah dilakukan pemerintah Indonesia dengan mengirim Menlu Retno Marsudi ke Myanmar untuk melakukan lobi perdamaian. Namun selain itu, pemerintah juga harus mengantisipasi kelompok-kelompok masyarakat yang mengkapitalisasi isu ini untuk kepentingan politik dalam negeri. ‘Jika pemerintah tidak mengambil langkah politik, potensi ketegangan sosial di dalam negeri juga cukup tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, krisis Rohingya adalah tragedi kemanusiaan yang secara etis dan politik menuntut dunia internasional untuk melakukan intervensi kemanusiaan. Negara-negara ASEAN tidak bisa berlindung dibalik prinsip menghormati kedaulatan Myanmar atas tragedi ini. Pembiaran dunia internasional atas Rohingya diduga kuat memiliki motivasi politik ekonomi kawasan, sehingga Aun San Su Kyi terus memperoleh proteksi politik, karena belum ada rezim pengganti yang potensial dan akomodatif menjaga kepentingan sejumlah negara-negara yang memiliki kepentingan kuat.

Meski demikian, krisis Rohingya lebih merupakan krisis yang lebih besar didorong oleh dinamika politik dalam negeri Myanmar. Dengan demikian, potensi gangguan keamanan terhadap kawasan tidak akan menyebar sebagaimana penyebaran kelompok ideologis ISIS. Namun antisipasi tetap harus dilakukan karena biasanya kelompok seperti ISIS, menjadikan wilayah konflik sebagai sasaran mereka untuk mengumbar radikalisme-nya.

‘Yang pasti akan makin banyak asylum seeker/pencari suaka ke Indonesia dan sejumlah kawasan lain. Para pencari suaka adalah problem human security dan kewajiban negara-negara untuk mencari resolusi terbaik bagi Rohingya,” ungkap Hendardi.

Hendardi mengindikasikan keterlibatan tentara Myanmar dalam krisis Rohingya. Itu menjadi bukti bahwa kekerasan itu dipelopori oleh negara. Karena itu, selain intervensi kemanusiaan, advokasi Myanmar juga sangat dimungkinkan karena genosida merupakan salah satu  kejahatan internasional yang termasuk kompetensi absolut International Criminal Court (ICC) dengan yurisdiksi internasional. “Atas nama kemanusiaan, pemerintah Indonesia harus menjadi pelopor penanganan Rohingya,” ujar Hendardi mengakhiri.(Adri Irianto)

Friday, 1 September 2017

Berbagi Kepedulian dalam Bingkai Kebhinnekaan di Hari Idul Adha

Berbagi Kepedulian dalam Bingkai Kebhinnekaan di Hari Idul Adha

Hari raya Idul Adha merupakan sarana bagi umat manusia untuk berbagi kepedulian antar sesama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Karena ibadah dan hidup bersama-sama di dalam agama islam itu sendiri selain punya dampak individu tapi juga
harus punya dampak sosial.

“Karena di Idul Adha pada10 hari pertama kita disunnahkan untuk berbuat kebajikan, berbuat amal soleh, tolong menolong dan disunnahkan berpuasa dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah,” ujar Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail, MA, di Jakarta, Kamis (31/8/2017).

Dikatakan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, di dalam Idul Adha juga disunnahkan kepada umat muslim untuk meningkatkan kepedulian yaitu menyembelih hewan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan tanggal 11 sampai 13 Dzulhijjah

“Diharapkan dengan melalui qurban, kita bisa berbagi kepada tetangganya pada seluruh orang-orang yang khususnya sangat membutuhkan kepedulian itu. Disinilah kepedulian rasa persatuan itu diharapkan akan meningkat,” ujar Dosen Pascasarjana UIN Jakarta ini.

Lalu yang Kedua, Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini meminta kepada para penceramah atau khotib di dalam sholat Idul Adha diharapkan dapat  menyampaikan hal-hal yang indah dalam artian tentang masalah kebersamaan, kehidupan berbangsa dan bertanah air untuk menjaga kerukunan antar sesama umat manusia, agar jangan sampai terpecah

"Kehidupan kalau tanpa kerukunan maka seluruhnya akan sengsara. Tanpa kebersamaan kehidupan ini akan sengsara, tanpa tolong menolong kehidupan ini juga akan menjadi saling mengeksploitasi," kata Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat.

Hal-hal seperti itu, lanjut alumni Universitas Al Azhar Mesir ini perlu disampaikan dalam berbagai cara sehingga akan terwujud bangsa yang kuat, bangsa yang saling tolong menolong, bukan bangsa yang saling merusak antar sesama umat.

Demikian juga dengan pembagian hewan qurban itu sendiri tidak hanya untuk sesama muslim. Hewan qurban itu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ada tiga pembagiannya yakni untuk yang berkorban itu sendiri, untuk keluarganya dan untuk orang-orang yang sekelilingnya khususnya fakir miskin. Dan fakir miskin itu mutlak apakah dia itu muslim atau non muslim.

"Saya lihat selama ini sih baik-baik saja, demikian juga kalau di daerah-daerah, baik yang minoritas ataupun yang mayoritas. Semuanya bisa berjalan dengan baik dan saling rukun. Buktinya di tempat-tempat atau masjid-masjid yang banyak menyembelih hewan qurban telah di distribusikan ke daerah yang kekurangan. Termasuk ke panti asuhan non muslim pun juga dikasih. Ini telah menunjukkan adanya persatuan antar umat manusia," paparnya.

Direktur Pasca sarjana Universitas Islam As syafi’iyah (UIA) Jakarta ini mencontohkan, di Timur Tengah yang qurbannya melimpah seperti di Arab Saudi yang jutaan orang yang berhaji dan menyembelih kurban juga banyak daging-dagingnya diawetkan lalu disebar ke negara-negara yang membutuhkan. Diantaranya ke negara Miskin di Afrika, tanpa memilah-milah agama mereka.

"Jadi momentum Idul Adha ini adalah momentum yang tepat untuk menjaga persatuan dan kerukunan antar sesama umat. Karena sesama muslim saja tidak bisa menjaga persatuan, maka bukan hanya dapat merusak dirinya sendiri, tapi rasa mencintai antar sesama atau mencintai terhadap bangsanya sendiri juga tidak ada.," ungkap Kiai Satori.

Untuk itu pria kelahiran Cirebon, 6 Desember 1955 ini yakin, kalau bangsa Indonesia bisa mencintai antar sesama di lingkungan sekitarnya,. Karena dengan kalau kita bisa mencintai antar sesama di lingkungan sekitarnya saja rasa persatuan itu bakal lebih kuat. "Apalagi bisa mencintai kelompok lain maka rasa persatuan untuk dapat mencintai bangsanya pasti akan kuat," katanya mengakhiri. (Adri Irianto)

Wednesday, 30 August 2017

Ini Kronologi Penangkapan Walikota Tegal Oleh KPK

Ini Kronologi Penangkapan Walikota Tegal Oleh KPK

Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Selasa (29/8/2017) petang sekitar pukul 17.50 WIB. Operasi tangkap tangan itu berlangsung di rumah dinas wali kota di kompleks Balai Kota, Jalan Ki Gede Sebayu, Kota Tegal.

Petugas Satpol PP Kota Tegal bernama Mufid mengatakan, Masitha dibawa ke mobil setelah memberikan pemaparan dan evaluasi pembangunan Kota Tegal di Gedung Adipura di Kompleks Pendopo Kota Tegal. "Saat pemaparan, ada orang yang mengatakan dari petugas KPK mau menerobos masuk ke dalam ruangan. Saat itu, yang jaga saya," kata Mufid.

Dia pun melarang petugas KPK masuk dengan alasan wali kota sedang melakukan pemaparan. "Kemudian mereka mengatakan akan mendobrak pintu. Mereka juga ngomong itu tugas negara," imbuhnya.

Meskipun demikian, dia tetap menghalangi petugas KPK yang berjumlah sekitar delapan orang itu. "Mereka pun akhirnya mau menahan diri untuk tidak masuk ke ruangan. Mereka mau menunggu," ucap Mufid.

Tidak lama setelah itu, Masitha selesai memberikan pemaparan dan keluar dari ruangan. Kemudian, dia masuk ke dalam rumah dinas yang berada di sebelah Ruang Adipura. "Petugas itu mengikutinya ke dalam rumah dinas. Setelah itu, Bu Wali keluar dengan diikuti petugas tersebut. Handphone Bu Wali juga dibawa," katanya.

Dia melihat delapan petugas KPK datang dengan menggunakan dua mobil, yakni Honda Jazz dan Toyota Kijang Innova. Di kaca mobil tersebut terdapat gambar Pancasila berwarna emas. Selain Masitha, petugas KPK juga membawa Direktur RSUD Kardinah Kota Tegal, Abdal Hakim Tohari dan Direktur Keuangan, Cahyo Supriadi.

Dari pantauan pada Selasa malam, pintu ruang kerja di dalam rumah dinas itu terlihat disegel, sedangkan seluruh pintu masuk sudah dikunci. Informasi yang dihimpun, ada lima petugas KPK yang datang melakukan penangkapan.

Beberapa saat sebelum penangkapan oleh petugas KPK, Siti Masitha Soeparno memberi pengarahan kepada sejumlah pegawai negeri sipil di gedung Adipura, kompleks Balaikota Tegal.

Dia memimpin rapat evaluasi capaian kerja triwulan yang diikuti seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD). "Tadi Bu Wali memberi pengarahan kepada kami. Kemudian setelah rapat kembali ke rumah dinas sekitar pukul 17.00. Kemungkinan setelah itu Bu Wali dibawa (KPK)," ungkap seorang PNS yang menolak disebutkan namanya di kompleks Balai Kota Tegal, Jalan Ki Gede Sebayu, Kota Tegal.

Rumah dinas wali kota dan gedung Adipura sama-sama berada di kompleks Balai Kota Tegal. Tak hanya ruangan wali kota, penyegelan oleh KPK juga terjadi di ruang Direktur RSUD Kardinah, Abdal Hakim. Penyegelan juga dilakukan terhadap ruang kerja Wakil Direktur Umum dan Keuangan Cahyo Supriadi.

Rumah dinas wali kota tertutup rapat. Begitu pula akses ke dua ruangan yang disegel di RSUD Kardinah Kota Tegal. Seluruh awak media tak diperbolehkan masuk di dua lokasi itu.

Siti Masitha atau yang akrab disapa "Bunda Sitha" diduga ditangkap terkait suap proyek infrastruktur dan perizinan di Pemerintahan Kota Tegal. Selain mengamankan Siti Masitha, penyidik juga menyita sejumlah uang yang diduga menjadi alat suap. Saat ini, jumlah uang itu tengah dalam penghitungan.

Dikonfirmasi mengenai penangkapan dan penyitaan uang, Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan masih akan mendalaminya. "Soal yang di Tegal perlu saya pastikan lebih lanjut. Nanti perkembangannya disampaikan kemudian," ucap Febri. (Himawan Aji)
Idul Adha Mementum Untuk Menguatkan Keimanan dan Rasa Kemanusiaan

Idul Adha Mementum Untuk Menguatkan Keimanan dan Rasa Kemanusiaan

Hakikat dari perayaan Idul Adha adalah kembali kepada pemahaman nilai qurban yang berpangkal dan konsep keimanan dan kemanusiaan, dua pilar terpenting peradaban manusia. Karena itu, Idul Adha momentum menguatkan solidaritas kemanusiaan ditengah berbagai gangguan yang dihadapi bangsa Indonesia.

"Dengan Idul Adha kita bisa memperkuat keimanan dan rasa kemanusiaan. Apalagi bangsa Indonesia saat diuji oleh sindikat penyebar kebencian berbasis SARA seperti yang dilakukan kelompok Saracen," ungkap Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB KH. Maman Imanulhaq di Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Pria yang biasa dipanggil Kiai Maman ini menjelaskan, kata qurban mengandung tiga makna yang sarat dengan pelajaran moral (i‘tibar) yang bisa membekali manusia untuk memperjuangkan nilai-nilai Ilahiah serta kemanusiaan. Pertama, qurban bermakna taqarrub, yakni mendekatkan diri kepada Allah. Kedekatan antara hamba dan pencipta (khalik)-nya tidak mungkin terjadi jika sang hamba berjiwa kotor, berhati keras, dan berpikiran jahat.

"Untuk itu, ketika takbir Idul Adha datang menyapa relung batin manusia, maka kesadaran nurani yang selama ini tertutup nafsu, ambisi, dan kepentingan pribadi harus tergugah," ujarnya.

Menurutnya, Allah Maha Dekat yang kedekatannya melebihi urat nadi manusia hanya bisa didekati dengan keseriusan berzikir dan keinginan kuat membenahi sikap keberagamaan yang selama ini telah ternodai oleh kesombongan, ketakaburan, dan kepongahan. Zikir kepada Allah (dzikrullâh) adalah upaya untuk menyucikan hati, menenteramkan hati, dan mengkhusukkan kalbu sehingga seseorang mampu berendah hati serta berintrospeksi terhadap kesalahan dan kekeliruan sendiri tanpa harus mencari kesalahan orang lain.

"Kecenderungan manusia untuk melakukan kemungkaran dan kezaliman bisa diminimalisir, bahkan ditepis dengan zikir. Dengan zikir, hati yang selama ini gelap dan tersesat akan kembali disinari nur Ilahi sehingga prasangka, dendam, dan amarah akan melembut menjadi cinta kasih," tutur Ketua Lembaga Dakwah PBNU ini.

Ia mencontohkan, ketika ada hamba yang diterpa musibah dan bencana silih berganti, dalam hati yang gelap ia bertanya tentang pertolongan Allah. Menurut Kang Maman, pertanyaan itu muncul dari keraguan dan prasangka terhadap Allah. Hal itulah yang membuat selama ini, banyak orang yang mengharap pertolongan Allah justru sering berbuat aniaya terhadap dirinya dan orang lain (zalim).

Ia melanjutkan, bahwa manusia yang hatinya gelap juga gemar menghujat ajaran kelompok lain yang dirasa berbeda, tetapi perilaku serta ajaran yang dihujat justru tumbuh subur dalam aliran darah yang menghujat.

"Orang seperti itu sering mengutuk, mencaci, dan menghina orang lain, tetapi diam-diam sadar atau tidak ia ternyata menggantikan kemungkaran dan kebiadaban orang yang dikutuknya," ujar pimpinan Ponpes Al Mizan Majalengka ini.

Makna kedua, lanjutnya, qurban merupakan konsep pengurbanan yang dilandasi keikhlasan dalam menjalankan pengabdian, tugas, dan perjuangan tanpa mengharapkan balasan dan pujian serta keuntungan materi yang menjadikan nilai kesalehan menjadi sia-sia. Dari keikhlasan dan ketulusan jiwa itu akan memunculkan ketegaran dan keistiqamahan.

"Kesuksesan umat untuk keluar dari bencana dan tragedi kemanusiaan tergantung pada keikhlasan, ketulusan, dan pengabdian mereka demi mengharap ridha Allah semata," kata pria yang juga menjadi anggota Komisi VIII DPR-RI ini.

Makna ketiga, qurban yang disimbolkan dengan menyembelih hewan merupakan suatu teladan dari Nabi Ibrahim saat diperintah oleh Allah untuk mengurbankan Ismail, putra terkasihnya. "Teladan agung tersebut seharusnya mampu menyentuh kesadaran intelektual dan imajinasi seorang hamba. Tindakan Nabi Ibrahim merupakan simbol kemenangan seorang manusia atas nafsu hewaniah, ego kecil, romantisme kepentingan pribadi, dan sentimentalitas cinta kasih lokal," urainya.

Semangat berkurban yang dicontohkan Nabi Ibrahim bukanlah perbuatan untuk mengurbankan manusia lainnya demi tujuan dan keuntungan sesaat yang keji sebagaimana dilakukan para penguasa lalim sepanjang sejarah. Tapi suatu sikap untuk menyerahkan sesuatu yang dititipkan oleh Allah.

"Dengan semangat Idul Qurban, manusia harus mampu “menyembelih” watak buruk dan 7 sifat kebinatangan yang ada dalam dirinya; seperti rakus, serakah, zalim, menindas, dan tidak mengenal hukum dan norma," katanya mengakhiri. (Adri Irianto)

Tuesday, 29 August 2017

KPK Lakukan Operasi Tangkap Tangan Terhadap Walikota Tegal

KPK Lakukan Operasi Tangkap Tangan Terhadap Walikota Tegal

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengintensifkan bidang penindakan lewat operasi tangkap tangan‎ (OTT) dalam kurun beberapa bulan ini pada 2017. Kali ini, KPK menangkap Wali Kota Tegal, Jawa Tengah, KMT Siti ‎Masitha Soeparno‎ dengan barang bukti uang sebanyak ratusan juta rupiah.

Seorang sumber di lingkungan internal KPK yang melakukan tangkap tangan menyatakan, lokasi penangkapan terjadi di Jawa Tengah dan Jakarta. "Sudah ditangkap di luar Jakarta. Yang ditangkap kepala daerah di Jawa Tengah. Jabatannya Wali Kota Tegal," ujar sumber tersebut Selasa (29/8/2017) malam.

Sumber tersebut menambahkan, selain Masitha juga ditangkap pengusaha terduga pemberi suap. Terduga pemberi suap ini ditangkap di Jakarta. "Walikota Tegal dan pemberinya sudah dibawa ke Kantor KPK. Uang yang disita ratusan juta rupiah," tegas sumber.

Sementara itu Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengaku sedang mencari informasi ke tim penindakan apakah benar ada tangkap tangan terhadap seorang kepala daerah di wilayah Jawa Tengah. Menurut dia, jika informasinya sudah ada dan cukup maka akan disampaikan lagi.

"Masih perlu saya pastikan lebih lanjut. Perkembangan akan disampaikan kembali," ujar Febri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (29/8/2017) malam. (Himawan Aji)
KPK Benarkan OTT Terhadap Walikota Tegal

KPK Benarkan OTT Terhadap Walikota Tegal

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo membenarkan timnya melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Wali Kota Tegal, Siti Masista Soeparno atau Bunda Siti‎, Selasa (29/8/2017) di wilayah Tegal.

"OTT yang di Jateng akan ‎dirilis besok, karena penyidik kami perlu melakukan pemeriksaan 1 x 24 jam dulu untuk penentuan status hukumnya," kata Agus dalam pesan singkatnya kepada awak media.

Informasi yang dihimpun, Bunda Siti ditangkap sekitar pukul 18.00 WIB di Rumah Dinasnya, Kompleks Balaikota Jalan Ki Gede Sebayu Kelurahan Mangkukusuman Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah.

Sebelum melakukan penangkapan, lima petugas KPK sempat melakukan penyegelan di Kantor RSUD Kardinah.

Dugaan sementara, penangkapan terkait kasus pembangunan fisik ICU.

Kini pihak-pihak yang diamankan tersebut masih dalam perjalanan dibawa dari Tegal menuju ke gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan untuk diperiksa instensif.

Selain mengamankan Bunda Siti, penyidik juga menyita sejumlah uang yang diduga suap. "Saat ini uang sedang dihitung," ujarnya. (Himawan Aji)