Headline

Previous
Next

Monday, 27 March 2017

Nilai-nilai Agama yang Benar Telah di Distorsi oleh Kelompok Radikal

Nilai-nilai Agama yang Benar Telah di Distorsi oleh Kelompok Radikal

Paham radikal terorisme telah mendistorsi nilai nilai agama yang benar dan telah diinterprestasi sesuai dengan keinginannya. Seperti halnya jihad telah dianggap sebagai perang,  padahal tidak semua jihad adalah perang, namun jihad itu bisa bermakna perbaikan di segala aspek seperti sosial, budaya, politik, dan sebagainya.

"Jihad akan berarti perang jika itu dilakukan di negeri yang sedang perang. Indonesia negara damai sehingga ayat itu tidak berlaku," kata Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin di Jakarta akhir pekan kemarin.

Apalagi Indonesia adalah negara yang dibangun di atas kesepakatan dan perjanjian dari berbagai agama dan suku. Juga telah disebutkan bahwa non muslim yang sudah membuat kesepakatan dengan muslim tidak boleh dimusuhi dan dibunuh. Dengan demikian, siapa saja membunuh non muslim yang sudah sepakat hidup dalam perjanjian maka ia tidak akan mencium bau surga.

"Untuk itu saya mengajak seluruh komponen bangsa untuk memberantas dan melawan paham radikal terorisme. Karena radikalisme dan terorisme muaranya adalah untuk menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NKRI adalah harga mati karena itu harus dijaga dipelihara dengan berbagai cara dan metode," kata Kiai Ma'ruf yang juga Rois Aam PBNU ini.

Oleh karena itu Kiai Ma'ruf mendukung langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam memerangi terorisme, baik dengan pencegahan maupun penindakan. Khusus untuk pencegahan, ia menggarisbawahi pencegahan melalui dunia maya. Menurutnya, saat ini, dunia maya menjadi alat paling efektif bagi radikal terorisme untuk menyebarkan pahamnya. Dunia maya juga pintu yang digunakan kalangan radikalisme untuk meracuni masyarakat.

"Pencegahan melalui dunia maya ini memang tidak mudah, karena itu perlu upaya-upaya intensif untuk menanggulangi ini dan harus dikerjakan secara bersama. Dalam hal ini sinergi ulama dan umaro sangat penting, dan semua komponen bangsa juga harus dilibatkan," kata Kiai Ma'ruf mengakhiri.

Sunday, 26 March 2017

Figur Buya Hamka Perlu di Teladani dalam Menghadapi Dinamika Bangsa

Figur Buya Hamka Perlu di Teladani dalam Menghadapi Dinamika Bangsa

Seluruh anak bangsa diminta untuk meneladani figur dan pemikiran Prof. Dr. H. Abdul Malik bin Haji Karim Amrullah atau lebih dikenal sebagai Buya Hamka dalam menghadapi gelombang globalisasi yang membuat turbulensi dalam dinamika kebangsaan yang terjadi akhir-akhir ini.

Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH saat menjadi keynote speaker dalam seminar sehari "Refleksi Pemikiran Hamka dan Peletakkan Batu Pertama Masjid Ponpes Modern Prof. Dr. Hamka" di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (25/3/2017).

"Marilah kita teladani figur Buya Hamka dengan integritas dan kecerdasan intelektual beliau, baik sebagai seorang ulama, sastrawan, pujangga, maupun negarawan. Apalagi akhir-akhir ini kita menghadapi gelombang globalisasi yang membuat dinamika kebangsaan kita mengalami turbulensi," papar Suhardi Alius.

Mantan Kabareskrim Polri ini mengungkapkan bahwa, beajar dan meneladani sosok Buya Hamka menjadi penting bagi kalangan generasi muda saat ini. Apalagi banyak sekali paham dan pengaruh dari luar yang kini tengah merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara di Bumi Nusantara, terutama paham radikal terorisme yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Salah satu persoalan kebangsaan hari ini adalah terorisme yang berakar dari  krisisnya paham kebangsaan Karena itu sangat penting seluruh komponen bangsa, terutama generasi untuk kembali belajar dari teladan guru kita, Buya Hamka tentang konsep kebangsaan yang sesuai dengan falsafah Indonesia," ujar mantan Kapolda Jawa Barat dan Kadiv Humas Polri ini.

Selain itu, lanjut mantan Wakapolda Metro Jaya ini, banyak sekali teladan yang bisa dipelajari dari sosok Buya Hamka. Dalam ajarannya Hamka selalu menekankan bahwa perbedaan itu adalah rahmat Tuhan dan Tuhan tidak pernah memaksakan hamba-Nya untuk sama. Dengan demikian, memaksakan pendapat kepada orang lain merupakan suatu kezaliman. Buya Hamka juga sangat menghargai perbedaan agama dan kepercayaan orang lain.

"Kelompok radikal terorisme selalu memaksakan ideologi mereka kepada orang lain, apakah tentang konsep jihad dan takfiri. Padahal apa yang mereka paksakan itu melenceng dari ajaran islam yang rahmatan lil alamin," ungkap pria yang pernah menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat dan Depok ini mengakhiri.

Selain Kepala BNPT, seminar sehari itu juga dihadiri mantan ketua umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif. Selain menghadiri seminar ini, Komjen Suhardi Alius dan Buya Syafii Maarif juga hadir dalam peletakan batu pertama pembangunan masjid dan rumah susun di pesantren modern terpadu Prof. Dr. Hamka, Padang. (Adri Irianto)


Saturday, 25 March 2017

Keluarga dan Pemerintah Harus Lindungi Anak dari Pengaruh Radikalisme

Keluarga dan Pemerintah Harus Lindungi Anak dari Pengaruh Radikalisme

Anak-anak harus dilindungi dari berbagai pengaruh negatif, terutama propaganda radikalisme dan terorisme. Untuk itu, peran keluarga, lingkungan dan pemerintah harus lebih diintesifkan. Keluarga dalam urusan pola asuh, sementara pemerintah wajib melindungi anak dari sistem pendidikan dan perundangan.

"Tapi itu bermula dari pola asuh yang menjadi sumber agar anak tidak berpikir radikal, juga kognitif atau kemampuan anak menyerap ilmu pengetahuan. Itulah yang menjadi cikal bakal radikalisme di kalangan anak-anak," ujar psikolog Tika Bisono, S.Psi, M.Psi.T di Jakarta, Jumat (24/3/2017).

Intinya menurut Tika, keluarga di rumah adalah faktor utama untuk mencegah dan melindungi anak dari 'virus' radikalisme, serta paham negatif lainnya. Menurutnya, langkah paling baik adalah pola asuh demokratis, dimana anak diberi kebebasan untuk mengemukakan ide dan pendapatnya. Masalahnya kalau dihitung tidak banyak keluarga yang menerapkan pola demokratis itu.

"Kalau dihitung berapa juta atau berapa miliar rumah yang menerapkan pola ini. Inginnya sih diatas 50 persen. Tapi ternyata nggak kan. Pola asuh ini adalah pola  yang paling mendasar," ujar mantan penyanyi pop era 1980-an ini.

Selama ini banyak orang tua gagal dalam proses mendidik anak. Hal itu karena orang tua itu hasil dari kegagalan pendidikan dari orang tua sebelumnya. Intinya proses memilih itu harus berdasarkan atas azas-azas misalnya  knowledge (pengetahuan),  demokratis, saling menghargai, saling menerima, ikhlas, bekerja sama, dan lain-lain. Kalau ada orang tua gagal dalam pola asuh yang menerapkan azas-azas ini, tentunya akan keterusan ke anaknya.

Setelah itu,  pengaruh anak sangat besar datang dari lingkungannya, juga nilai-nilai dari luar. Namun dari faktor-faktor itu yang akhirnya membuat anak bisa memilih dengan baik itu adalah dari rumah. Bila dari sejak dari rumah, anak sudah mendapatkan kekebalan, tentu akan lebih mudah meredam pengaruh lingkungan dan dari luar.

Terkait radikalisasi anak-anak melalui dunia maya, Tika berpendapat bahwa orang tua harus terjun ke filosofi gadget. Artinya orang tua tidak boleh gaptek (gagap teknologi), tapi orang tua juga harus paham fitur-figur, gadget, internet, serta konten-kontennya. Dari paham itu, orang tua bisa tahu dampak dari fitur dan internet tersebut karena anak tidak mungkin belajar dampak dari gadget karena dia hanya pengguna. Ironisnya banyak orang tua yang justru gaptek.

Tika menilai gadget, internet, dan media sosial yang tengah populer seiring perkembangan teknologi komunikasi yang makin canggih, bisa menjadi celah bagi pengaruh luar masuk ke pikiran penggunanya sampai ke hati nuraninya. "Kalau yang memagari nggak ada gara-gara faktor intelektualitasnya nggak sampai, lebih baik nggak usah bergadget ria. Untuk hal ini saya harus menyalahkan keluarga," tukas Tika yang dulu populer dengan lagu "Ketika Senyummu Hadir" ini.

Disamping itu, lanjut Tika, kebijakan negara dan pemerintah juga sangat besar. Apalagi beberapa waktu lalu ada beberapa anak Indonesia yang ikut dideportasi bersama orang tuanya dari Turki karena akan menyeberang ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok radikal ISIS.

Untuk yang satu ini, Tika menilai harus ada penanganan khusus buat anak-anak yang deportasi itu. Dalam pandangannya, ia yakin kepergian mereka ke Suriah bukan kemauan mereka, tapi kemauan orang tuanya. "Harus ada pendampingan psychosocial untuk mengembalikan cara pandang agar mereka bisa kembali berpikir rasional," jelas Tika. (Adri Iriarnto)
 

Thursday, 23 March 2017

Densus 88 Baku Tembak Dengan Terduga Teroris di Cilegon

Densus 88 Baku Tembak Dengan Terduga Teroris di Cilegon

Tim Densus 88/Anti Teror Polri yang berjumlah 20 orang mengamankan sejumlah orang terduga teroris di depan PT. Semen Merah Putih, Lngkungan Ciwandan, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon Banten pada Kamis (23/3/2017) siang ini sekitar pukul 12.00 WIB.

Tim Densus 88 berhasil melumpuhkan sejumlah orang terduga teroris dari dalam mobil mini bus hitam bernomor polisi B 1479 KKA. Satu orang terduga tewas tertembak di didalam mobil setelah terjadi aksi baku tembak dengan anggota Densus 88.

Sementara Satu terduga teroris lainya mengalami luka tembak di bagian punggung dan langsung di larikan ke Rumah Sakit KS Kota Cilegon Banten. Sedangkan Satu lainya diamankan dalam kondisi hidup dan langsung di bawa ke Mabes Polri.

Selain itu, dari dalam mobil yang dikendarai terduga teroris, anggota mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu pucuk senjata api jenis FN dan 1 tas hitam.

Pada saat akan ditangkap, terduga teroris dengan menggunakan mini bus melaju dari Kramat Watu, Kabupaten Serang Banten menuju Anyer di Cilgeon Banten, mobil tersebut dihentikan anggota Densus 88. Ketika dihentikan oleh Tim Densus 88 rombongan terduga teroris tersebut berusaha melarikan diri dan menabrak anggota yang menghadang.

Terjadi aksi baku tembak antara anggota Densus dengan teruga teroris hingga akhirnya tertangkap di depan PT. Semen Merah Putih Kota Cilegon Banten.

Terduga teroris tersebut bernama Icuk, Achmad Supriyanto, Abdul Majid mengalami luka tembak dan Nanang Kosim meninggal dunia.

Sebelumnya, Anggota tim Densus 88 juga telah mengamankan satu terduga teroris lainya di Pandeglang, Banten berinisal Adi Jihadi. Diduga terudga teroris itu jaringan Abu Sayyaf.

Sementara Kapolda Brigjend Pol Listyo Sigit Prabowo yang datang kelokasi penangkapan, enggan memberikan keterangan banyak terkait penangkapan terduga teroris tersebut. (Himawan Aji)
BNPT Berikan Pembekalan Kepada Media Ormas dan OKP Untuk Bendung Terorisme di Dunia Maya

BNPT Berikan Pembekalan Kepada Media Ormas dan OKP Untuk Bendung Terorisme di Dunia Maya

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tidak pernah surut dalam menggalang sinergi dengan berbagai pihak dalam menjalankan program penanggulangan terorisme. Langkah itu adalah bagian dari upaya paripurna BNPT untuk membendung dan melawan radikalisme dan terorisme di Indonesia.

"Kami memang harus paripurna melawan radikalisme dan terorisme. Kalau sendiri-sendiri kita tidak akan pernah selesai menanggulangi radikalisme dan terorisme. Kalau kita paripurna, upaya kita akan mempunyai high impact (dampak besar)," kata Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH, saat membuka Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya Bersama Media Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) dan Ormas di Hotel Milenium, Jakarta, Rabu (22/3/2017) malam.

Sebagai perwujudan dari upaya penanggulangan paripurna itu, lanjut Suhardi, BNPT telah menjalankan berbagai program pencegahan. Khusus untuk membendung dan melawan propaganda radikalisme dan terorisme di dunia maya, BNPT telah bersinergi dengan berbagai media dari 61 lembaga pemerintah untuk menyatukan dan menyamakan persepsi dalam menghadapi ancaman tersebut. Kegiatan workshop ini adalah rangkaian dalam penguatan sinergi itu sehingga kedepan penanggulangan terorisme yang paripurna.

Disamping itu, BNPT juga terus mencari solusi-solusi cerdas lainnya. Menurut mantan Kabareskrim Polri ini, tahun lalu, BNPT sudah mengemas dan mengumpulkan sekitar 600 netizen yang memiliki follower banyak. Mereka adalah para anak muda kreatif mulai blogger, ahli IT, dan Desain Komunikasi Visual (DKV).

"Artinya kita berhadapan dengan anak muda. Kalau kita pakai bahasa kita, orang dewasa, tentu tidak akan masuk karena preferensinya berbeda. Tapi kalau mereka mengajak teman seumur atau seusia itu akan lebih efektif. Langkah itulah yang terus kami gaungkan untuk merangkul dan menggandeng generasi muda untuk memerangi radikalisme di dunia maya," papar Suhardi Alius.

Pada kesempatan itu, mantan Kapolda Jawa Barat ini juga mengajak para peserta workshop untuk bersama memerangi propaganda radikalisme dalam bentuk apapun, sebagai agent of change atau agen perubahan. Tugasnya adalah mengajak anak muda se-Tanah Air bersatu padu menghadapi konten radikal yang berisi kekerasan dan terorisme.

"Anak muda bisa menyampaikan pesan-pesan damai dengan bahasa gaul. Itu akan lebih efektif sehingga masyarakat, terutama generasi muda punya daya tangkal terhadap ancaman paham kekerasan itu yang membuat kita lupa dengan budaya bangsa sendiri," tutur Suhardi Alius.

Langkah BNPT dalam menggalang sinergi dengan media OKP dan Ormas didukung penuh oleh Ketua Rois Aam PBNU dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin. "Workshop ini sangat penting karena salah satu pintu dalam mempengaruhi dan meracuni masyarakat oleh pelaku radikalis terorisme melalui dunia maya," ujar Kiai Ma'ruf.

Menurut Kiai Ma'ruf upaya pencegahan propaganda radikal terorisme tidak mudah. Karena itu perlu upaya intensif untuk menanggulangi masalah dan harus dikerjakan secara bersama. Ia berharap dengan adanya workshop ini nanti ada rumusan bagaimana pencegahan bisa dilakukan, supaya masyarakat, terutama generasi muda bisa dilindungi dari radikalisme.

"Saya kira tepat yang dilakukan BNPT dengan terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, baik lembaga pemerintah, ormas, OKP, dan lain-lain untuk mencegah radikalisme dan terorisme. Dengan bersama kita pasti akan lebih mudah," ujarnya.

Seperti diketahui, Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya Bersama Media OKP dan Ormas ini diikuti 200 peserta. Mereka terdiri dari 100 pimpinan redaksi dari situs moderat, 50 admin dan penulis, serta 50 perwakilan Organisasi Kepemudaan. (Adri Irianto)

Wednesday, 22 March 2017

Demokrat Minta SBY Luruskan Masalah Mobil Yang Dipakainya

Demokrat Minta SBY Luruskan Masalah Mobil Yang Dipakainya

Partai Demokrat membantah pernyataan pihak Istana yang menyatakan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminjam mobil kepresidenan.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin memberikan tanggapan atas pernyataan pihak Istana tersebut melalui pers release yang dikeluarkan Rabu (22/3). Menurut Didi, justru Sekretariat Negara lah yang meminjamkan kendaraan, karena belum mampu menyediakan kendaraan bagi SBY.

“Berdasarkan UU nomor 7 tahun 1978, Negara diwajibkan untuk menyediakan kendaraan bagi mantan presiden dan mantan wakil presiden. UU yang sama mengatur kewajiban negara menyediakan tempat tinggal bagi mereka," kata Didi.

Didi menjelaskan, sesuai dengan UU No 7 tahun 1978, Negara seharusnya menyediakan kendaraan bagi mantan Presiden SBY, begitu masa jabatannya berakhir. Begitu pula dengan tempat tinggal.

"Saat masa jabatan kepresidenan SBY selesai, Negara belum bisa menyediakan kendaraan karena alasan penghematan. Oleh karena itu, saat keluar dari Istana, Sekretariat Negara untuk sementara meminjamkan kendaraan kepada SBY," jelasnya.

Menurut Didi saat ini SBY berinisiatif mengembalikan kendaraan sementara yang dipinjamkan tersebut.

"Saya sangat menyesalkan framing yang dibangun seolah-olah Presiden ke-6 SBY sengaja meminjam mobil lalu tidak pernah mengembalikan. Hendaknya semua pihak obyektif dan mendudukkan persoalan sesuai fakta yang benar," tukasnya.

Didi pun menyarankan Istana meluruskan berita yang beredar di media seolah-olah SBY tidak mengembalikan mobil.

"Sebaiknya Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara) segera meluruskan opini keliru ini. Jangan dibiarkan opini keliru ini menyudutkan Presiden RI keenam," lanjut Didi. (Septiyani)

Tuesday, 21 March 2017

Penuhi Hak Dasar Anak Untuk Lindungi dari Bahaya Terorisme

Penuhi Hak Dasar Anak Untuk Lindungi dari Bahaya Terorisme

Propaganda maupun aksi terorisme tidak hanya menyasar kaum remaja maupun dewasa seja, tapi juga anak-anak kecil. Kondisi ini cukup memprihatinkan karena anak-anak adalah harapan bangsa di masa mendatang. Hal itulah yang mendasari keharusan dilakukan pemastian hak-hak dasar anak-anak untuk melindung anak dari ajaran dan aksi terorisme.

"Ini tanggungjawab seluruh pihak. Dalam hal ini negara harus bisa memfasilitasi pemastian hak-hak dasar anak. Dengan itu anak bisa imun dari pengaruh negatif," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) DR. H M. Asrorun Ni'am Sholeh, MA, di Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Menurutnya, KPAI telah mengidentifikasi kategori anak yang menjadi korban terorisme. Pertama anak jadi korban langsung terorisme yang karena tindak kejahatan teroirsme menyebabkan anak kehilangan hak pengasuhan, kehilangan kesempatan untuk mendapat hak kesehatan, pendidikan, dan sejenisnya. Kedua anak yang terpapar ajaran radikalisme dengan berbasis agama karena ajaran agama yang berbasis radikalisme akan bermuara tindak pidana terorisme. Dalam hal ini anak terpapar ajaran radikalisme terorisme bisa jadi dari orang tua, lingkungan, warnet, media digital.

Untuk dua jenis ini, pria yang juga menjadi Staf pengajar Fakultas Syari’ah dan Hukum di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan, harus dilakukan langkah-langkah preventif dan perlu dilakukan sinkronisasi. Di satu sisi komitmen pemberantasan tindak pidana terorisme ini pendekatan penghukuman dengan penindakan terhadap setiap orang yang diduga melakukan tindak pidana terorisme, termasuk anak-anak.

Tapi dalam UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak, menegaskan kualifikasi kedua tentang potensi anak masuk dalam jaringan tindak pidana terorisme itu masuk kategori korban dengan pendekatan berbeda dalam. Disitu juga ditegaskan bahwa harus dilakukan pendekatan keadilan restoratif (memulihkan).

"Anak yang diduga tindak pidana terorisme, harus ditangani secara tidak keras, tapi dengan pemulihan. Jika memungkinan pendekatan yang bermuara pada pemulihan anak, bukan penghukuman sebagai wujud pembalasan," kata pria yang menempuh pascasarjana di Al-Azhar Mesir ini.

Pria kelahiran Nganjuk, 31 Mei 1976 ini mengatakan, untuk mewujudkan perlindungan anak langkah pertama adalah penguatan ketahanan ketahanan keluarga, karena disitu anak tersemai hal baik atau buruk yang berpotensi untuk meningkatkan harkat martabat anak atau justru merendahkan anak. "Makanya penting untuk membangun kesadaran kolektif orang tua untuk memastikan hak dasar agama anak," pria yang juga Ketua Komite Syariah World Halal Food Council ini.

Kemudian pada lembaga baik pemerintah atau swasta, terutama lembaga pendidikan, harus ada referensi terkait kualitas para pengajar, baik pendidikan agama atau umum. Pengetahuan memadai tentang apa yang diajarkan dan siapa yang mengajarkan, juga bisa menjamin pemastian hak-hak anak di lingkup pendidikan.

"Ini menjadi bagian tak terpisahkan fungsi dan tanggungjawab kita dalam perlindungan anak saat usia sekolah. Anak harus dipastikan ditempatkann dalam sistem pengajaran yang benar, terutama dalam mendalami pelajaran agama," kata Asrorun yang juga Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Asrorun menegaskan seluruh bangsa harus memiliki komitmen yang sama bahwa terorisme itu adalah extra ordinary crime sehingga perlu penanganan serius. Tidak hanya penindakan tapi juga pencegahan dan sosialisasi guna memastikan seluruh potensi tindak pidana terorisme bisa dicegah dari dini.

"Salah satu wujud komitmen itu, KPAI melakukan langkah advokasi dalam perbaikan peraturan perundang-undangan agar Undang-Undang Perlindungan Anak memilliki visi dan komitmen dalam melakukan pencegahan tindak pidana terorisme, khususnya yang melibatan anak sebagai korban atau pelaku. KPAI juga bersinergi dengan BNPT untuk melakukan pencegahan paham terorisme yang menyasar anak-anak," terang pria yang juga mendapat amanah sebagai Katib Suriyah PBNU ini mengakhiri. (Adri Irianto)

Monday, 20 March 2017

TERUNGKAP! Sekongkol Komunis Rusia Dengan Kapitalis Wall Street

TERUNGKAP! Sekongkol Komunis Rusia Dengan Kapitalis Wall Street

Diam-diam para taipan dari penguasa Wall Street Amerika Serikat turut andil dalam menggullingkan rejim Tsar Nicholas II. Mereka mensokong gerakan komunis revolusioner pimpinan V.I Lenin, Leon Trotsky dan kawan-kawan.

Keberhasilan revolusi Rusia ini melahirkan negara komunis pertama di awal abad ke-20, yaitu Uni Soviet. Dunia tidak pernah mengetahui bahwa ada andil kapitalis-kapitalis wall street dibalik gerakan Bolshevik yang selalu mengkampanyekan permusuhan terhadap Borjuasi/Kapitalisme.

Bohong besar kalau Komunisme itu anti dan memusuhi kapitalisme, faktanya, mereka disokong secara dana hingga pelatihan gerilya oleh para konglomerat Amerika. Puluhan gerilyawan revolusioner Rusia dilatih gerilya di sebuah lahan di New York timur milik perusahaan migas Standard Oil (milik klan Rockefeller)

Berikut sebagian diantara para pengusaha Barat yang menyumbang dana besar bagi pergerakan Komunis Rusia









Benarlah apa yang dikatakan oleh Prof. Antony C. Sutton dalam bukunya Wall Street and The Bolshevik Revolution, yang menunjukkan bahwa sejak dulu Kapitalis dan Komunis selalu bahu membahu demi kepentingan bersama.

"There was an ongoing, but hidden, alliance between the capitalist and socialist revolutionaries for mutual benefit,” (Prof. Antony C. Sutton)

Sumber : Majalah Digital Suara Bawah Tanah

Saturday, 18 March 2017

Mantan Teroris : Program Deradikalisasi Yang Dilakukan Pemerintah Sudah Cukup Berhasil

Mantan Teroris : Program Deradikalisasi Yang Dilakukan Pemerintah Sudah Cukup Berhasil

Kharul Gazali (kanan) pengasuh Pondok Pesantren Al- Hidayah, Sei Mericim, Deli Serdang saat menerima berkas pengelolaan masjid dan pesantren Al Hidayah dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH, (kanan) saat peresmian masjid dan ruang kelas pesantren tersebut pada 24Februari 2017 lalu  (Foto : Dok. BNPT) 
Sejauh ini, program deradikalisasi yang dijalankan pemerintah terhadap para pelaku dan mantan pelaku kasus tindak pidana terorisme sudah bagus, Namun demikian program deradikalisasi tetap harus dilanjutkan, ditingkatkan dan dimaksimalkan agar tepat sasaran dan berhasil mengikis terorisme Bumi Nusantara.

"Deradikalisasi yang dijalankan selama ini saya rasa sudah cukup bagus. Berhasilnya juga signifikan. Buktinya banyak para ikhwan yang dulunya radikal sekarang menjadi moderat," kata mantan teroris Khairul Ghazali saat dihubungi Sabtu (18/3/2017).

Namun, ia mengakui ada sebagian dari mereka yang belum 'sembuh' dan kembali ke pemahaman jihad yang selama sebenarnya salah. Tapi itu hanya segelintir dan kelompok yang masih mendukung radikalisasi ini hanya sebagian kecil saja.

Mantan pelaku kasus teror dan perampokan Bank CIMB Medan ini menilai langkah pemerintah dengan merangkul para mantan kombatan untuk membantu program deradikalisasi juga cukup efektif. Pasalnya, orang telah terkena ideologi kekerasan akan sulit didekati oleh orang diluar mereka.

"Salah satu kunci deradikalisasi itu ialah kita harus dekat dengan mantan-mantan pelaku teror itu. Harus dekat dan harus dengan hati. Tidak bisa dengan argumentasi, mereka itu bukan orang yang perlu dinasehati. Karena mereka sudah merasa bahwa mereka bisa dinasehati oleh dirinya sendiri," ungkap Khairul.

Pendekatan lebih bagus lagi, tegas Khairul adalah pendekatan ekonomi, bukan ideologi. Dari ekonomi baru ini nanti tensi ideologi mereka akan menurun. "Kenapa? Mereka melihat negara memperhatikan aku, negara memperhatikan anak-anak ku, oh negara memperhatikan istri dan keluargaku. Dengan begitu mereka akan melunak, apalagi bila kondisi perekonomiannya juga baik," terang Khairul yang sekarang aktif membangun pesantren untuk anak-anak pelaku terorisme di Deli Serdang, Sumatera Utara ini.

Menurutnya, para mantan pelaku aksi terorisme setelah menjalani hukuman pasti butuh pekerjaan agar mereka tidak kembali ke jalan salah. Karena itu mereka harus dilatih keterampilan. Dalam hal ini, BNPT sebagai koordinator penanggulangan terorisme di Indonesia bisa bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain untuk melatih. BNPT bisa bekerjasama dengan dinas sosial, Pemerintah Provinsi, Kota/Kabupaten dimana mantan teroris itu berada, untuk memantau dan terus mengarahkan mereka.

"Langkah ini harus cepat. Hari itu mereka dibebaskan maka hari itu juga sudah mulai diperhatikan," tukas Khairul.

Khairul mengapresiasi langkah Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, SH dengan program deradikalisasi dari hulu ke hilir. Menurutnya, apa yg dilakukan kepala BNPT ini bagus.

"Mereka (mantan teroris) itu adalah manusia biasa yang punya hati. Seperti yang saya katakan tadi jangan di khotbahi macam-macam. Setelah keluar dari penjara mereka jangan distigmakan atau dikucilkan, juga keluarga dan anak-anaknya harus dibantu ekonominya. Setelah itu baru pelan-pelan kita ubah ideologinya. Ini adalah pendekatan yang dilakukan pak Suhardi Alius, cukup paten. Pendekatan seperti ini sudah dari dulu saya lakukan dan sekarang saya wujudkan dengan membangun pesantren ini," paparnya.

Khairul mencontohkan dengan memberi pendidikan gratis pada anak-anak pelaku tindak pindana terorisme, ia optimis suatu saat nanti anak-anak itulah yang justru bisa menyadarkan orang tuanya, terutama tentang pemahaman jihad yang salah.

Ia berharap kedepan, negara lebih masif dan hadir dalam program deradikalisasi. Ia mengungkapkan masih ada sekitar 600-an mantan teroris yang sudah keluar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan 200-an masih di dalam Lapas.

"Mereka harus didekati dengan hati. Dicari posisinya berada, dibantu ekonominya, dilatih skillnya. Begitu juga keluarganya, anak-anaknya yang terlantar pendidikannya negara harus hadir. Jangan ada pembiaran terhadap mantan-mantan ini, atau orang-orang yang sudah terkena virus radikalisme," tandas Khairul Ghazali. (Adri Irianto)
 

Friday, 17 March 2017

Puspomal Resmi Dipimpin Brigjen TNI (Mar) I Ketut Suardana

Puspomal Resmi Dipimpin Brigjen TNI (Mar) I Ketut Suardana


Brigjen TNI (Mar) I Ketut Suardana secara resmi menjabat sebagai Komandan Pusat Polisi Militer TNI-Angkatan Laut (Dan Puspomal) yang baru menggantikan Laksma TNI Muhammad Richard. Upacara sertijab tersebut dipimpin langsung Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal)  Laksamana TNI Ade Supandi dalam upacara serah terima jabatan  yang dilaksanakan  di Gedung Auditorium Denma Mabesal Cilangkap Jakarta Timur , Jumat  (17/03/2017).

Dalam amanatnya Kasal mengatakan bahwa globalisasi yang terjadi dewasa ini sangat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia, termasuk para prajurit TNI  Angkatan Laut. Dampak terbesar globalisasi yang dirasakan saat ini menurutnya yaitu kecenderungan gaya hidup konsumtif dan serba instan. Gaya hidup ini kemudian membawa perubahan terhadap pola sikap, pola pikir dan perilaku para prajurit TNI  Angkatan Laut.

"Jika tidak disikapi dengan arif dan bijak, maka perubahan tersebut tentunya akan berimplikasi kepada peningkatan tindak pelanggaran disiplin prajurit bahkan dapat berubah menjadi pelanggaran hukum," ujar Kasal.

Oleh karenanya, Korps Polisi Militer Angkatan Laut dituntut untuk mampu beradaptasi dan terus mengasah kemampuan dalam menangani setiap tindak pidana yang terjadi sesuai dengan prosedur operasi serta aturan-aturan hukum yang berlaku.

"Korps Polisi Militer Angkatan Laut harus bekerja lebih keras, tidak hanya pada upaya-upaya represif atau penindakan, namun terlebih kepada tindakan preventif atau pencegahan terhadap setiap potensi pelanggaran yang mungkin terjadi. Melalui upaya-upaya tersebut Korps Polisi Militer Angkatan Laut tentunya akan memberikan kontribusi positif dalam menjaga nama baik para prajurit terutama institusi TNI Angkatan Laut,” ungkap alumni AAL tahun 1983 ini.

 
Pada kesempatan tersaebut mantan Panglima Armada RI Kawasan Timur ini mengingatkan agar Polisi Militer Angkatan Laut senantiasa melaksanakan delapan fungsi utamanya, antara lain penegakan hukum, penegakkan tata tertib dan disiplin, penyidikan dan penyelidikan kriminal sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI.

Selain dari pada itu, pembinaan disiplin personel harus dilaksanakan secara terus menerus, konsisten dan sinergis dengan institusi terkait, sehingga dari waktu ke waktu tingkat pelanggaran disiplin dan  pelanggaran hukum yang dilakukan oleh prajurit TNI Angkatan Laut semakin menurun.

“Tentunya dengan memedomani semboyan “Wijna Wira Widhayaka”, yang berarti prajurit penegak peraturan dan disiplin yang berwatak ksatria, arif dan bijaksana, saya yakin jajaran Korps Polisi Militer Angkatan Laut mampu melaksanakan amanah tersebut dengan baik,” ujar mantan Kasum TNI ini berpesan

Pada acara sertijab yang dihadiri pejabat utama Mabesal dan Pomal,  Kasal  menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas segala dedikasi, upaya dan kerja keras yang telah dilakukan oleh Laksma TNI Muhammad Richard.  ”Ucapan terima kasih dan penghargaan juga saya sampaikan kepada Ibu Farida Taha Muchammad Richad atas kesetiaan dan segala upaya dalam membina jalasenastri serta mendukung suami dalam melaksanakan tugas sebagai Danpuspomal,” kata Kasal.

Selanjutnya kepada Brigadir Jenderal (Mar) I Ketut Suardana, pria yang pernah menjabat sebagai Asrena Kasal ini mengucapkan selamat atas jabatan baru sebagai Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut. "Jabatan tersebut merupakan wujud kepercayaan dan penghormatan dari Pemimpin TNI Angkatan Laut sekaligus merupakan amanah yang harus dijawab dengan tekad dan semangat untuk terus memajukan Korps Polisi Militer Angkatan Laut, “ kata mantan Gubernur AAL ini mengakhiri sambutannya.

Selanjutnya Laksma TNI Muhammad Richard menjabat sebagai Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) III Jakarta.

Brigjen TNI (Mar)  Marinir I Ketut Suardana, yang lahir di Gianyar Bali 27 Mei 1962 merupakan Alumni Akademi Angkatan Laut XXXI tahun 1986 sebelum menjadi orang nomor satu di Puspomal, menjabat sebagai Komandan  Lantamal III Jakarta.

Jabatan-jabatan yang pernah dijabat oleh Jenderal Bintang Satu Marinir ini antara lain  sebagai Kadisprov Korps Marinir, Komandan Pomal Lantamal III Jakarta, Komandan Resimen Bantuan Tempur-1 Pasmar-1  dan Waka Pusjas Permildas TNI.

Adapun Tanda Jasa yang dimiliki  Brigjen TNI (Mar)  Marinir I Ketut Suardana, SH adalah Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Jalasena Nararya, Satya Lencana Kesetiaan VIII, Satya Lencana Kesetiaan XVI, Satya Lencana Kesetiaan XXIV,  Satya Lencana Dwi Sistha,  Satya Lencana Wira Nusa, Satya Lencana Wira Dharma (Perbatasan), Satya Lencana Dharma Samudra dan Satya Lencana Dharma Nusa. (Noor Irawan)
Penanggulangan Terorisme di Indonesia Mendapatkan Apresiasi dari Uni Eropa

Penanggulangan Terorisme di Indonesia Mendapatkan Apresiasi dari Uni Eropa

Pola penanganan terorisme di Indonesia kembali mendapat apresiasi internasional. Kali ini, Counter Terrorism Uni Eropa ingin mendalami pola penanganan terorisme yang dinilai juga efektif bisa diterapkan di Eropa. 

Karena itu penguatan sinergi antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sebagai koordinator penanggulangan terorisme di Indonesia, dan Counter Terrorisme Uni Eropa harus terus ditingkatkan.

Hal itu tercetus pada pertemuan delegasi BNPT yang dipimpin Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH saat bertemu delegasi Counter Terrorisme Uni Eropa yang dipimpin Koordinator Counter Terrorisme Uni Eropa, Gilles de Kerchove di markas besar Uni Eropa, Brussel, Belgia, Kamis (16/3/2017).

Pada pertemuan itu, Kepala BNPT didampingi Sestama Mayjen TNI R. Gautama Wiranegara (wakil delegasi), Deputi II bidang Penindakan, Penegakan Hukum dan Pembinaan Kemampuan Irjen Pol. Arief Dharmawan, Plt. Deputi III bidang Kerjasama Internasional Brigjen TNI (Mar). Yuniar Lutfie, Direktur Penindakan Brigjen Pol. Torik Triyono, dan Kasubdit Kerjasama Kawasan Amerika dan Eropa Wandi A. Syamsu.

"Mereka mengungkapkan apresiasinya atas upaya yang telah dilakukan pemerintah Indonesia. Mereka memuji langkah positif dengan menggabungkan upaya pencegahan dan penindakan, dan penanganan FTF. Mereka juga ingin bersinergi lebih kuat lagi dan mengadopsi cara Indonesia untuk diterapkan di Eropa,” kata Komjen Suhardi Alius dalam rilis, Jumat (17/3/2017).

Suhardi menjelaskan bahwa terorisme adalah masalah global dan membutuhkan upaya maksimal dan serius untuk menanggulanginya. Menurutnya, tak satu pun negara bisa kebal dari ancaman terorisme. Karena itu selain memperkuat sinergi di dalam negeri, BNPT juga terus menggalang kekuatan internasional dalam memerangi terorisme.

Dalam paparannya, Suhardi mengungkapkan langkah BNPT yang menggandeng 27 kementerian dan lembaga serta pemerintah provinsi dalam menjalankan kebijakan nasional, strategi, dan pelaksanaan penanggulangan terorisme. Tidak ketinggalan, lulusan Akpol 1985 ini juga menerangkan peran signifikan organisasi kemasyarakatan (Ormas) seperti NU dan Muhammadiyah dalam membantu BNPT menjalankan program deradikalisasi.

"Kami jelaskan tentang latar belakang terorisme di Indonesia, serta upaya-upaya ISIS menarik pengikutnya, terutama dengan menggunakan medsos. Juga proses penanganan aksi terorisme di Indonesia sejak tahun 2000-2016, juga penggunan medsos sebagai alat rekrutmen.untuk menjalankan sinergi dalam penanggulangan terorisme," terang Suhardi Alius.

Terkait FTF, ia menyebutkan Indonesia sudah lama mengenal FTF sejak era Al Qaeda. Tapi sekarang alasan menjadi FTF itu tidak hanya sekadar ideologi saja, tapi juga iming-iming kesejahteraan. Itu terbukti dengan keberangkatan WNI ke Suriah dengan membawa seluruh keluarganya karena diiming-imingi penghasilan yang besar.

"BNPT menggabungkan kombinasi penanganan terorisme dengan pencegahan dan penindakan. Untuk pencegahan di dalamnya ada deradikalisasi dan kontraradikalisasi, sedangkan penindakan sesuai hukum yang berlaku dan menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia (HAM)," jelas Komjen Suhardi Alius. (Adri Irianto)

Thursday, 16 March 2017

Setijab Dankormar Dimeriahkan berbagai Atraksi

Setijab Dankormar Dimeriahkan berbagai Atraksi

Jabatan Komandan Korps Marinir TNI-AL resmi dijabat Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono menggantikan Mayjen TNI (Mar) RM. Trusono. Upacara serah terima jabatan yang dipimpin Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi yang berlangsung hari Kamis (16/3/2017) ini juga memamerkan beragam kemampuan yang dimiliki Korps Marinir.
Usai Upacara Militer, digelar berbagai macam antraksi seperti terjun free fall gabungan TNI dan Polri dengan membawa banner” Selamat Jalan kepada Dankormar Lama, Selamat Datang Kepada Dankormar baru, Bendera Korps Marinir, Mabes TNI AL, Bendera Merah Putih”, Demontrasi Alteri medan (Armed), kolone Senapan Junior serta Defile Pasukan dan kendaraan tempur (Rapur). Difile ini dipimpin oleh Kolonel Mar. I Made Sukada yang sehari harinya menjabat sebagai Komandan Brigade Infanteri 1 Marinir yang bermarkas di Gedangan, Sidoarjo.


Tak hanya menghibur, atraksi ini juga terasa menegangkan. Masyarakat sekitar ksatrian Marinir Cilandak, Jakarta Selatan ini pun ikut menikmati rangkaian upacara tersebut.

Turut hadir Sertijab Dankormar yakni Irjen Kemhan RI Letjen TNI Agus Sutomo, Pangdam Jaya Mayjen TNI Jaswandi, Dirjen Renhan Kemhan RI Marsekal Muda TNI Abdul Muis, Wadankorpaskhas Marsekal Pertama TNI Yudi Bustami, Danpasmar 1 Brigjen TNI (Mar) Lukman, Danpasmar 2 Brigjen TNI Nur Alamsyah, Kadispenal Laksma TNI Gig Jonias Mozes Sipasulta dan para mantan Dankormar. (Noor Irawan)


Mayjen Bambang Suswantono Resmi Pimpin Korps Marinir TNI-AL

Mayjen Bambang Suswantono Resmi Pimpin Korps Marinir TNI-AL


Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono secara resmi menjabat sebagai Komandan Korps Marinir (Dankormar) TNI-AL menggantikan Mayjen TNI (Mar) RM Trusono. Bertindak sebagai inspektur upacara (irup) dalam upacara parade dan defile serah terima jabatan (sertijab) Dankormar ini yakni Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi yang dilaksanakan di Lapangan Apel Bhumi Marinir Cilandak Jakarta Selatan, Kamis (16/3/2017).

Dalam amanatnya KSAL mengatakan pergantian jabatan itu merupakan perwujudan dinamika organisasi, sehingga diharapkan tercipta suasana baru dan ide cemerlang serta pemikiran baru dalam menjalankan tugas sebab marinir merupakan satuan strategis dalam menghadapi tantangan keamanan dari laut menuju daratan.

"Perkembangan potensi konflik dan ancaman global semakin nyata. Jabatan Korps Marinir merupakan jabatan strategis bagi TNI AL maupun TNI secara keseluruhan. Karena terdapat tanggung jawab pembentukan moral prajurit," kata Ade Supandi.

KSAL mengatakan prajurit marinir harus bisa mengatasi atau menangkis isu maupun serangan terorisme, imigran gelap, dan peredaran narkoba yang saat ini menjadi isu regional. Marinir perlu melakukan penanggulangan teror baik di laut maupun darat.

Ade mengatakan serah terima jabatan Dankormar merupakan proses kaderisasi kepemimpinan, sehingga diharapkan dapat membawa energi baru dengan munculnya kreativitas dan inovasi yang cemerlang untuk meningkatkan kinerja organisasi.

Menurut alumni AAL tahun 1983 ini, Korps Marinir memiliki tugas pokok sebagai pasukan pendarat amfibi TNI Angkatan Laut dalam rangka proyeksi kekuatan dari laut ke darat dan melaksanakan tugas-tugas operasi militer selain perang sesuai perintah Panglima TNI.

"Jabatan Dankormar merupakan jabatan strategis di lingkungan TNI AL. Dankormar juga sebagai chief corps yang bertanggung jawab membina nilai-nilai luhur pembentukan karakter prajurit marinir. Dengan demikian, perwira yang dipercaya sebagai Dankormar haruslah memiliki kompetensi terbaik dan telah teruji integritasnya," katanya.


Dalam kesempatan itu, pria yang pernah menjadi Panglima Armada RI Kawasan Timur ini juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas pengabdian dan dedikasi RM Trusono yang telah melaksanakan tugas sebagai Dankormar dengan baik. 

"Di bawah kepemimpinan jenderal, berbagai kemajuan dan prestasi Korps Marinir menjadi catatan sejarah kebanggaan TNI AL dan bangsa Indonesia," ujar mantan Kasum TNI ini.

Ditambahkan pria yang pernah menjabat sebagai Asrena Kasal ini, saat ini Indonesia dihadapkan dengan ancaman vaktual, seperti terorisme, perpecahan dan ancaman dari pihak luar.

“Semua ancaman harus mampu diatasi oleh TNI AL, khusunya Marinir. Untuk meningkatkan kemampuan Korps Marinir, TNI AL selama ini terus mengupgrade Alutsista Marinir dan terus meningkatkan kemampuan personil. “Kepada Dankormar yang baru, saya ucapkan selamat bertugas,” ujar mantan Gubernur AAL ini.

Seperti diketahui, Bambang Suswantono sebelumnya menjabat sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Dan Paspampres), sedangkan RM Trusono selanjutnya dipromosikan untuk menempati jabatan barusebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando (Dan Sesko) TNI.

Bambang Suswantono lahir di Semarang pada 25 JuII 1965 merupakan Alumni Akademi Angkatan Laut 33 Iulus tahun 1987. Mayjen Bambang Suswantono mengikuti Pendidikan Dikreg Seskoal Angkatan 38 tahun 2000, Dikreg Sesko TNI Angkatan 39 tahun 2012 dan Lemhanas PPRA Angkatan 52 tahun 2014.  Jabatan panting yang pernah dipegang Bambang Suswantono antara Iain sebagai Komandan Brigif-3 Marinir, Komandan Komando Pendidikan Marinir, Komandan Resimen AAL dan Wadan Paspampres.

Penugasan Bambang lainnya adalah Satgas Pemburu Timor Timur 1995-1996, Satgas PPRM Ambon 1999-2000, Satgas Natuna 1991, Satgas Yonif 7 Marinir di Nanggroe Aceh Darussalam 2004-2005.

Tanda-tanda jasa yang dimiliki Bambang yaitu Bintang Jalasena Nararya, Satya Lencana Kesetiaan XXIV, Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Dwidya Sistha, Satya Lencana Bhakti SosiaI, Satya Lencana Dwidya Sistha I, Satya Lencana Dharma Nusa (Ambon), Satya Lencana Kebaktian SosIaI, Satya Lencana Dharma Nusa (Aceh), Satya Lencana Wira Siaga, Satya Lencana Kesetiaan VIII, Satya Lencana Dharma Nusa, Satya Lencana Kesetiaan XVI, Satya Lencana Kesetiaan XXIV dan Bintang Jalsena Pratama.

Berbagai jenis material tempur Korps Marinir digelar dalam upacara antara lain Tank Amfibi BMP-3F, Kendaraan Angkut Pasukan dan Arteleri (Kapa) 61, Landing VicicIe Tank (LVT) -7, Kapa PTS, BTR-50 P (MIK), Roket Multi Laras (RM) 70 Grad, Roket MuIti Laras (PM) 70 Vampir, BVP-2, Meriam How-105, Kendaraan Angkut Tank Tatra, Sea Rider, kendaraan taktis (Rantis), kendaraan administrasi (Ranmin) dan kendaraan khusus (ransus). (Noor  Irawan)