Headline

Previous
Next

Sunday, 22 October 2017

Ini Penjelasan Kapuspen TNI Mengenai Pencekalan Panglima TNI Oleh Pemerintah AS

Ini Penjelasan Kapuspen TNI Mengenai Pencekalan Panglima TNI Oleh Pemerintah AS

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Wuryanto mengkonfirmasi terkait pencekalan otoritas Amerika Serikat (AS) terhadap Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. Wuryanto menjelaskan sedianya Panglima akan menghadiri acara Chief's of Defense Conference on Country Violent Extremist Organization (VEOs) yang akan dilaksanakan tanggal 23 sampai 24 Oktober 2017 di Washington DC.

Namun Jenderal TNI Gatot Nurmantyo tidak jadi hadir pada acara tersebut karena mendapat penolakan oleh otoritas AS. Menurut Kapuspen, Panglima TNI mendapat undangan secara resmi yang dikirim oleh Pangab Amerika Serikat Jenderal Joseph F. Durford, Jr dan kemudian Panglima TNI pun membalas surat tersebut dan mengkonfimasi kehadirannya sebagai bentuk penghargaan dan perhatian.

"Panglima TNI mengirim surat balasan tersebut, karena menghormati Jenderal Joseph F. Durford, Jr. yang merupakan sahabat sekaligus senior Jenderal TNI Gatot Nurmantyo," kata Mayjen TNI Wuryanto di Jakarta, Minggu (22/10/2017).

Mantan Kasdam III/Siliwangi ini melanjutkan, Panglima TNI beserta istri dan delegasi telah mengurus visa dan administrasi lainnya untuk persiapan keberangkatan pada Sabtu 21 Oktober 2017.

Panglima TNI pun siap berangkat menggunakan maskapai penerbangan Emirates, namun beberapa saat sebelum keberangkatan ada pemberitahuan dari maskapai penerbangan bahwa Panglima TNI beserta delegasi tidak boleh memasuki wilayah AS oleh US Custom and Border Protection.

Alumni Akmil tahun 1986 ini  mengungkapkan, Panglima TNI juga telah melapor kepada Presiden RI melalui Ajudan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menko Polhukam Wiranto serta berkirim surat kepada Jenderal Joseph. F. Durfort Jr, dan saat ini masih menunggu penjelasan atas insiden ini.

Kapuspen menambahkan kepergian Panglima ke Amerika atas undangan Pangab dan atas hubungan baik dua negara serta hubungan baik antara Pangab Amerika dan Panglima TNI. "Oleh sebab itu Panglima beserta istri dan delegasi memutuskan tidak akan menghadiri undangan Pangab Amerika Serikat sampai ada penjelesan resmi dari pihak Amerika," ujar mantan Komandan Brigif 15/Kujang I, Kodam III/Siliwangi ini.

Terakhir Kapuspen mengatakan, Panglima TNI beberapa kali berkunjung ke AS tanpa ada masalah. "Terakhir beliau ke sana pada Februari 2016"," ujarnya mengakhiri. (Noor Irawan)
Panglima TNI Dikabarkan Dicekal Masuk ke Amerika

Panglima TNI Dikabarkan Dicekal Masuk ke Amerika

  Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dikabarkan ditolak masuk ke Amerika Serikat oleh Pemerintah AS. Kabar itu diterima Jenderal TNI Gatot Nurmantyo melalui pemberitahuan penolakan yang disampaikan pihak maskapai Emirates.

Maskapai ini sedianya akan membawa Gatot dan istri ke Amerika Serikat menghadiri sebuah acara konferensi memenuhi undangan Panglima Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Jenderal Joseph F Durford, Jr. di Kota Washington, atas permintaan otoritas keamanan dalam negeri Amerika Serikat.

Seperti dikutip Tribunnews.com, Gatot Nurmantyo seharusnya terbang ke Amerika Serikat menggunakan maskapai penerbangan Emirates EK 0357, Sabtu (21/10/2017) sekitar pukul 17.00 WIB.

Berdasarkan informasi yang didapatkan, Gatot diundang hadir pada acara Chiefs of Defence conference on country violent Extremist organizations ( VEOs) yg akan dilaksanakan tanggal 23-24 Oktober 2017 di Washington DC.

KBRI Washington telah mendapatkan informasi mengenai hal tersebut. Mereka lantas mengirimkan nota diplomatik untuk meminta Kemlu AS memberikan penjelasan.

"KBRI Washington DC telah mengirim nota diplomatik kepada Kemlu AS untuk meminta klarifikasi terkait kejadian kemarin," kata Jubir Kemlu Arrmanata Nasir ketika dikonfirmasi, Minggu (23/10/2017).

Sedangkan di dalam negeri, pihak Kedubes AS di Indonesia akan dipanggil. Dubes sedang berhalalangan, Wakil Dubes yang akan dimintai keterangan.

"Mengingat Dubes Amerika Serikat sedang tidak di Jakarta, Wakil Dubes AS juga telah dipanggil untuk ke Kemlu besok guna memberikan keterangan," kata pria yang akrab disapa Tata itu.

Panglima TNI sudah melaporkan insiden penolakan ini ke Presiden Joko Widodo, Menteri Luar Negeri Retno LP Masudi dan Menko Polhukam Wiranto. Gatot Nurmantyo dan istri sebelumnya sudah mengurus visa untuk keberangkatan tersebut.(Noor Irawan)

Friday, 20 October 2017

Kepala BNPT Jelaskan Pola Penanggulangan Terorisme Kepada Pemerintah Jerman

Kepala BNPT Jelaskan Pola Penanggulangan Terorisme Kepada Pemerintah Jerman

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH, melakukan lawatan ke Republik Federal Jerman untuk memenuhi undangan dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jerman dalam rangka untuk memberikan penjelasan kepada instansi pemerintahan di Jerman mengenai upaya yang telah dilakukan Indonesia dalam menangani masalah radikalisme dan terorisme.  
 
“Kami diminta untuk menjelaskan mengenai pendekatan yang dilakukan Indonesia selama ini dalam menangani masalah radikalisme terorisme ke beberapa institusi pemerintahan yang ada di Jerman. Karena mereka ingin tahu mengenai bagaimana pengalaman kita (Indonesia) selama ini dalam menanggulangi terorisme termasuk diantaranya mengenai tantangan dari FTF (Foreign Terrorist Fighter),” ujar Kepala BNPT usai melakukan pertemuan tersebut di kantor The Federal Criminal Police Office of Germany (Bundeskriminalamt/BKA), Wiesbaden, Jerman, pada Kamis (19/10/2017) malam.

Seperti dikutip dalam rilis BNPT yang diterima redaksi Jumat (20/10/2017),  mantan Kabareskrim Polri ini menjelaskan bahwa instansi pemerintahan Jerman yang turut hadir untuk menerima penjelasan darinya diantaranya seperti Federal Ministry of the Interior (Kementerian Dalam Negeri Jerman), Federal Foreign Office (Kementerian Luar Negeri Jerman), Bundeskriminalamt/BKA Germany, serta Lembaga Swadaya Masyarakat  (BAHIRA Advice Centre).

Kepada instansi pemerintah Jerman itu alumni Akpol tahun 1985 ini menyampaikan bahwa pentingnya upaya untuk menyeimbangkan antara penggunaan pola hard approach (pendekatan keras) dan soft approach (pendekatan lunak) dalam penanggulangan terrorisme tersebut.

“Terlebih dalam soft approach Indonesia relatif berhasil dalam program deradikalisasi, di mana teroris yang telah menjalani masa hukuman dari sebanyak 560 orang hanya 3 orang yang kembali melakukan tindakan terorisme,” ujar mantan Kapolda Jabar ini menjelaskan.

Lebih lanjut mantan Kadiv Humas Polri ini, program kontra-radikalisasi yang dilakukan BNPT  yakni dengan menggandeng unsur masyarakat termasuk pemuda, ‘netizen’ dan juga mantan aktivis teroris untuk melakukan counter narative telah menjadi program unggulan nasional. “Dan ini juga berjalan efektif,” kata mantan Wakapolda Metro Jaya ini.

Menanggapi penjelasan Kepala BNPT tersebut, Vice-President of the Bundeskriminalamt, Peter Henzler menyampaikan ketertarikan untuk mempelajari lebih intensif dengan melalui kunjungan balasan yag akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Kebijakan BNPT sangat komprehensif dan kami berminat untuk melihat secara langsung implementasi kebijakan yang dilakukan BNPT khususnya mengenai pendekatan soft approach itu,” ujar Peter Henzler kepada Kepala BNPT

Dalam pertemuan tersebut, Kepala BNPT di dampingi Direktur Deradikalisasi BNPT Prof. Dr. Irfan Idris, dan Kasubdit Amerika Eropa, Wandi Andrianto Syamsu. Turut serta dalam delegasi Indonesia tersebut,  Direktur Center for the Study of Religion and Culture (CSRC), Universitas.Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Irfan Abubakar.

Turut juga mendampingi Kepala BNPT dan rombongan selama berada di Jerman yakni Duta Besar Indonesia untuk Jerman, DR. Ing. Fauzi Bowo beserta staf Kedubes RI di Jerman.  

Thursday, 19 October 2017

Ini Langkah-langkah Cegah Radikalisme di Penguruan Tinggi

Ini Langkah-langkah Cegah Radikalisme di Penguruan Tinggi

Maraknya paham radikalisme yang mulai masuk ke dunia perguruan tinggi (kampus) tidak bisa dipandang remeh. Sebab, kampus sekarang ini bisa dikatakan sebagai salah satu sasaran radikalisme dan terorisme. Paham radikal dinilai tidak boleh masuk dan beredar bebas di lingkungan universitas. Kampus pun kini terus berbenah untuk membersihkan bibit-bibit paham radikal.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof Dr. Dede Rosyada, MA, mengatakan bahwa  kampus merupakan tempat kaum intelektual dan calon intelektual. Untuk itu kampus harus dapat mencegah masuknya paham radikalisme dan terorisme. Menurutnya ada beberapa cara agar lingkungan kampus terbebas dari paham radikalisme

“Untuk mencegah radikalisme di lingkungan kampus, pertama tentumya yakni perkuliahan. Dimana dalam perkuliahan ini yaitu perkuliahan yang sesuai kalender akademik atau program studi yang telah ditentukan sesuai yang apa menjadi pilihan mahasiswa itu sendiri dan juga pendidikan yang di luar program studi seperti kegiatan kemahasiswaan,” ujar Prof Dr. Dede Rosyada di Jakarta, Kamis (19/10/2017)

Selain perkuliahan itu sendiri yang kedua dalam mencegah radikalisme di lingkungan kampus yakni dengan memperkuat mata kuliah tertentu seperti penguatan tafsir, penguatan ideologi negara itu sendiri dan mata kuliah tertentu lainnya. “Nanti di mata kuliah itu kita antisipasi dalam pokok-pokok bahasannya. Selain itu, mahasiswa yang berkuliah di kampus tersebut tidak hanya diberikan teori, namun juga dibekali dengan praktek di lapangan,” ujarnya.

Hal yang ketiga dalam mencegah masuknya paham radikal di kampus menurutnya yaitu dari tenaga pendidik atau dosennya itu sendiri. Kalau dosen yang masuk itu berlatar belakang pendidikan atau berpandangan ektrem atau berideologi radikal tentunya harus ditolak.

“Rekruitmen dosen di fakultas agama maupun umum, dan tenaga kependidikan lainnya, benar-benar diseleksi dengan ketat terkait paham dan komitmennya terhadap nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Disinilah peran kampus dalam melakukan seleksi terhadap dosen sangat besar agar kampus itu terbebas dari benih-benih radikal,” ujarnya

Dikatakan pria yang juga Dewan Pembina Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) ini, setiap tenaga pengajar di perguruan tinggi, juga harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, baik itu dalam aktivitas belajar mengajar ataupun dalam setiap ketiatan kemahasiswaan.

“Komitmen ini penting untuk dilakukan, mengingat penyusupan paham radikalisme, bisa dilakukan dengan berbagai cara. Kelompok radikal yang telah menyusup di dalam kampus, umumnya menyasar mahasiswa yang baru masuk,” ujar pria yang mengambil gelar Doktor dari McGill University, Kanada ini.

Selain itu katanya, hal lain yang bisa dilakukan adalah menjadikan moderasi Islam sebagai gerakan segenap civitas akademika di lingkungan kampus. “Kami di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mempunyai modal cukup untuk  ini. Sebab diskursus pemikiran keislaman berkembang baik sehingga tinggal didorong agar moderasi bisa menjadi gerakan bersama,” ujarnya.

Selanjutnya adalah memperkuat wawasan kebangsaan mahasiswa dan civitas akademika kampus. Selain sessi-sessi perkuliahan, upaya ini bisa dikemas dalam ragam aktivitas positif yang dapat mencegah secara dini berkembangnya paham ekstrem yang tidak sesuai dengan nilai moderasi Islam serta Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Dan ini harus diikuti dengan penguatan semangat kebangsaan dan moderasi Islam, bukan justru sebaliknya,” ujarnya.

Lalu yang berikutnya menurutnya pihak kampus juga harus ikut serta mengawasi segalam macam bentuk kegiatan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di dalam kampus itu sendiri. Jangan sampai   UKM yang ada di lingkungan kampus tersusupi paham radikal seperti yang pernah terjadi di Institut Pertanian Bogor (IPB) dimana ormas yang mengatasnamakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mencoba masuk melalui UKM.

“Jangan sampai seperti itu terulang kembali di lingkungan kampus. Disitu pihak kampus harus tahu kalau ada kegiatan seperti itu dan melarangnya. Dan mahasiswanya harus diberikan pemahaman pendidikan tentang ideologi bangsa ini. Di kampus kami (UIN Jakarta) kegiatan mahasiswa tentunya juga kita awasi agar paham radikal tidak masuk melalui UKM,” ujarnya

Namun dirinya tidak dapat memberikan gambaran secara pasti ketika ditanya mengenai sudah seberapa besar pengaruh paham radikalisme yang sudah menyebar ke dalam lingkungan kampus. “Mengenai sudah seberapa besar tentunya saya tidak bisa memastikan, meskipun saya akui itu terjadi di beberapa kampus. Namun untuk di kampus kami saya yakin hal itu sudah tidak terjadi lagi,” katanya mengakhiri.

Wednesday, 18 October 2017

Ini Nih Kenapa Alasan Pelaku Teror Gunakan Dunia Maya

Ini Nih Kenapa Alasan Pelaku Teror Gunakan Dunia Maya

Pelaku terorisme telah menggunakan dunia maya (internet) sebagai ‘kendaraan’ utama untuk mempersiapkan dan melakukan aksinya. Kemajuan pesat informasi dan teknologi komunikasi menjadikan kelompok teroris itu sangat leluasa memanfaatkan untuk kepentingan propaganda mereka karena di dunia maya itu bisa melakukan apa saja tanpa batas.

Hal tersebut dikatakan Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir pada acara ‘Public Lecture Pencegahan Paham Radikal Terorisme di Aula Sabang Merauke Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Rabu (18/10/2017).

“Ini yang melatarbelakangi kenapa radikalisme merambah dunia maya dengan memanfaatkan jejaring sosial dan media, dengan sasaran kaum muda dan penggiat dunia maya,” kata Mayjen Abdul Rahman Kadir

Public Lecture ini dihadiri kurang lebih sebanyak 700 peserta dari taruna dewasa dari Akademi Milter dari tiga matra yakni darat, laut, udara serta Akademi Kepolisian , mahasiswa, pelajar, jajaran SKPD DI Yogyakarta, dan perwakilan organisasi masyarakat. Selain Deputi I, juga hadir Sekretaris Utama (Sestama) BNPT Mayjen TNI R. Gautama Wiranegara mewakili Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH.

Dijelaskan alumni Akmil tahun 1984 ini, saat ini terorisme bukan persoalan lokal saja, tapi persoalan seluruh bangsa di dunia. “Seluruh bangsa tidak ada lagi yang imun terhadap pengaruh paham radikal terorisme. Dulu terorisme hanya ada di belahan dunia tertentu, sekarang tidak ada lagi karena sudah menyebar ke seluruh dunia,” ujar pria yang mengawali karir militernya dari pasukan 'Baret Merah" Kopassus TNI-AD ini.

Bicara tentang terorisme, media, dan dunia maya, mantan Sestama BNPT  ini menggarisbawahi ucapan salah satu pimpinan Al Qaeda, Aiman Aljawahir dimana ia pernah menuliskan surat kepada pengikutnya bahwa saat tengah terjadi peperangan dan separuh lebih peperangan itu terjadi melalui media. juru bicara Al Qaeda, Al Adnani, mengungkapkan daripada merekrut dan membawa anggota baru ke Afganistan, akan lebih mudah dan berharga, bila memindahkan pusat pelatihan ke setiap rumah, dan setiap desa perkampungan muslim di berbagai negara.

Artinya, para pelaku terorisme itu sangat pintar dan sudah membaca jauh-jauh hari pentingnya media dan dunia maya untuk menjalankan aksi mereka. Kalau didinamikakan, itu terlihat dari pola propaganda kelompok radikal itu yang bergeser dari cara-cara konvensial, ke cara-cara yang mereka gunakan sekarang yaitu media dan dunia maya.

“Dulu terorisme melakukan rekrutmen dengan melalui hubungan kekeluargaan, pertemanan, ketokohan, dan lembaga keagamaan. Jadi mulai merekrut sampai pembaitan, mereka harus tatap muka untuk melakukan indoktrinasi, rekrutmen, pembaiatan. Sekarang beda, terorisme sudah menggunakan website, medsos, social messenger,” jelas mantan Danrem 074/Warastratama Solo ini.

Salah bukti pola itu adalah pelaku yang siap melakukan aksi bom bunuh diri di istana negara yang tertangkap di Bintara bekasi. Perempuan pelaku itu dibaiat melalui online, setelah itu nikah secara online. Selain itu, kalau awalnya kelompok radikal menggunakan website untuk propaganda, tapi begitu muncul media chatting, mereka ikut beralih, bahkan sampai ke game online. Belum lagi setelah medsos muncul, dan terakhir social messenger.

Ia menambahkan, ada beberapa alasan kenapa teroris selalu menggunakan dunia maya yaitu dunia maya mudah diakses, tidak ada kontrol, regulasi, dan aturan. Audien luas bahkan bisa anonim, langsung komunikasi, murah, multimedia, kemudian kalau kita lihat internet sudah jadi sumber pemberitaan dan kebutuhan kita.

“Intinya, kelompok teroris menggunakan internet untuk melakukan perang psikologis, propaganda, pengumpulan dana dan data, serta berdiskusi antar mereka,” kata mantan Komandan Satuan 81/Penanggulangan Teror Kopassus ini. (Adri Irianto)

Tuesday, 17 October 2017

Lawan Paham Raikal di Lingkungan Kampus

Lawan Paham Raikal di Lingkungan Kampus

Kampus sebagai tempat calon-calon intelektual bangsa selama ini dijadikan incaran utama dalam penyebaran radikalisme.Karena itu harus ada upaya luar biasa dan terus menerus untuk membentengi sekaligus mengikis faham-faham kekerasan itu dari lingkungan kampus. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memberikan imunitas bagi para mahasiswa dan mahasiswi agar terhindar dari ‘serangan’ radikalisme. Untuk itu kampus harus bisa menjadi pelopor dalam melawan radikalisme, atau bahkan terorisme.

“Saya melihat 4,5 juta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang akan mengikuti 'Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme' di seluruh provinsi pada 28 Oktober mendatang merupakan langkah yang tepat untuk menanamkan nasionalisme sekaligus membuang virus radikalisme,” ujar pengamat pendidikan Darmaningtyas, Selasa (17/10/2017).

Sebelumnya, panitia pengarah ‘Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme’, Prof Dr H Zainal Abidin, MAg mengatakan, dalam aksi yang dihadiri lebih dari 3.000 pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia, di Nusa Dua Bali pada 25-26 September 2017 lalu, dalam rapat plenonya telah menyepakati secara bulat materi deklarasi kebangsaan dan menyosialisasikannya di setiap wilayah. Bentuk atau instrumen sosialisasinya dilakukan dalam bentuk kuliah akbar aksi kebangsaan perguruan tinggi melawan radikalisme secara serentak se-Indonesia pada 28 Oktober 2017.

Selain menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila dan agama yang benar kepada mahasiswa, Darmaningtyas juga mengimbau kepada pemerintah, terutama Kementerian Riset dan Dikti, melakukan program pertukaran pelajar antara daerah. Hal ini dinilai sangat tepat untuk menangkal radikalisme sekaligus menanamkan rasa nasionalisme dan kebhinnekaan kepada para pelajar maupun mahasiswa supaya lebih mencintai Tanah Air.

Darmaningtyas mengemukakan, jauh lebih mudah untuk menanamkan nasionalisme kepada generasi penerus dengan mengalami hidup secara langsung di daerah lain, ketimbang memberikan pemahaman melalui pembelajaran kepada mereka di kampus atau sekolah.

"Saya pikir mengalami hidup langsung di daerah lain lebih mudah membangkitkan nasionalisme pelajar atau mahasiwa. Mereka akan mencintai wilayah di mana mereka pernah tinggal, karena mengetahui adat istiadat dan merasakan hidup di wilayah itu secara langsung," katanya.

Dia mencontohkan, pemerintah bisa mengirimkan pelajar atau mahasiswa dari Pulau Jawa ke Papua atau sebaliknya untuk belajar selama enam hingga 12 bulan.

"Pola ini saya pikir jauh lebih efektif untuk menanamkan rasa nasionalisme kepada para generasi muda kita. Melalui  pertukaran pelajar atau mahasiwa mereka bisa mengalami langsung kehidupan di daerah orang lain, dan akan menumbuhkan rasa cinta Tanah Air. Ini yang harus dilakukan pemerintah," katanya mengakhiri. (Adri Irianto)

Monday, 16 October 2017

Jokowi Resmi Lantik Anies-Sandi Sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta

Jokowi Resmi Lantik Anies-Sandi Sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta

Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) resmi melantik Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Gubernur dan wakil Gubernur DKI Jakarta di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10/2017) petang.

Prosesi pelantikan Anies-Sandi dimulai pada pukul 16.00 WIB. Prosesi pelantikan itu diawali dengan penyerahan petikan Surat Keputusan Presiden tentang pelantikan kepada Anies-Sandi di Istana Merdeka, Jakarta.

Seusai itu, Presiden Joko Widodo memimpin pasukan kirab. Anies-Sandi berada di belakang Jokowi. Di belakang mereka berbaris Pasukan Pengamanan Presiden dengan seragam merah putih sambil memainkan alat musik.

Beruntung, cuaca di kawasan Istana Kepresidenan cerah. Sebab, sebelum prosesi pelantikan itu dimulai, kawasan Istana sempat dilanda hujan berintensitas sedang.

Di Istana Negara, sejumlah tamu kenegaraan telah menunggu. Anies-Sandi masuk terlebih dulu dan berdiri di tengah-tengah ruangan. Presiden Joko Widodo masuk setelahnya.

Setelah menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" sebagai pembukaan, prosesi itu dilanjutkan dengan pembacaan surat keputusan presiden tentang pelantikan gubernur dan wakil  gubernur terpilih DKI Jakarta.

Surat dibacakan oleh Deputi Administrasi dan Aparatur Kementerian Sekretariat Negara Cecep Sutiawan.

"Keputusan Presiden RI Nomor 83 Tahun 2016. Terhitung sejak mengucapkan janji, mengesahkan, kesatu, Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta masa jabatan 2017-2022. Kedua, Sandiaga Salahudin Uno sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta masa jabatan 2017-2022," kata Cecep.

Surat keputusan presiden tersebut ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 14 Juli 2017.

Acara dilanjutkan dengan pengambilan sumpah jabatan. Presiden Jokowi membacakan sumpah jabatan dan Anies-Sandi mengikutinya.

"Demi Allah saya bersumpah akan memenuhi kewajiban saya sebagai gubernur dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh UUD Negara Republik Indonesia 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya," ujar Anies mengikuti ucapan Jokowi.

Dan rohaniwan tampak memegang Al Quran di atas kepala Anies dan Sandi. Prosesi pelantikan dilanjutkan dengan acara penandatanganan berita acara pelantikan oleh Anies dan Sandi disaksikan Presiden Jokowi.

Setelah itu dilakukan pemberian ucapan selamat dari Presiden Jokowi, Ibu Negara Iriana Jokowi serta seluruh tamu undangan yang hadir pun menandai berakhirnya prosesi pelantikan Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur baru DKI Jakarta. B

Friday, 13 October 2017

Islam dan Pancasila Tidak Dapat Dipisahkan

Islam dan Pancasila Tidak Dapat Dipisahkan

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, mengingatkan bangsa Indonesia, khususnya umat Islam agar bersatu, solid dan bersama-sama membangun negara. Pada kesempatan tersebut dia menegaskan bahwa Islam dan Pancasila tak bisa dipisahkan dan harus berjalan beriringan.

Hal tersebut dikatakan Zulkifli Hasan pada acara Halaqah Kebangsaan dan Rakernas Komisi Hukum dan Perundang-Undangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2017 yang berlangsung di ballroom hotel Menara Peninsula, Jakarta, Kamis (12/10/2017) malam.

"Bangsa Indonesia, khususnya umat Islam agar saling menyadari sebagai bangsa Indonesia dan tidak mudah diadu satu-sama lain. Intinya Islam dan Pancasila adalah seiring sejalan. Contoh, umat Islam menjalankan ajatan agamanya itu sesuai dengan sila pertama dalam Pancasila. Islam dan Pancasila juga sejalan yakni sama-sama mempersatukan," kata Zulkifli seperti dikutip Antaranews.com.

Menurut Zulkifli, bangsa Indonesia, khususnya umat Islam saat ini sering terjadi salah kaprah. “Orang yang menjalani ajaran agama dianggap menjauhi Pancasila. Sebaliknya, orang yang menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dianggap menjauhi agama,” katanya.

Zulkifli menegaskan Pancasila adalah dasar dan ideologi negara Indonesia. Pancasila, kata dia, adalah sistem nilai yang sejalan dengan semua ajaran agama di Indonesia.

Zulkifli pada kesempatan tersebut, menjelaskan bahwa proses kemerdekaan Indonesia, tidak terlepas peran dan perjuangan para ulama dan kyai serta organisasi keagamaan. Apalagi organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dibentuk pada masa perjuangan kemerdekaan.

"Para ulama banyak yang turut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Saat perjuangan dahulu, resolusi jihad ulama besar KH Hasyim Asy'ari dengan pekikan takbir dan Merdeka menggaungkan semangat berjuang untuk merebut kemerdekaan," katanya.

Zulkifli juga menjelaskan soal lahirnya Pancasila hingga disepakati dengan lima sila seperti saat ini, merupakan bagian dari kesepakatan dan jiwa besar umat Islam. "Umat Islam, merelakan merevisi sila pertama Pancasila menjadi seperti saat ini, untuk mengakomodasi agama lain di Indonesia, agar Indonesia bersatu," katanya.

Menurut dia Indonesia berapa kali mengubah bentuk negara, dari republik, menjadi negara serikat dan kemudian kembali lagi menjadi negara Republik, tapi Pancasila tidak berubah. “Pancasila terbukti mempersatukan bangsa Indonesia yang heterogen,” katanya.
 
Ia juga berharap acara Halaqah dan Rakernas MUI ini betul-betul dapat memperkokoh persatuan umat Islam Indonesia. Hadir pada kesempatan tersebut, Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin dan jajaran pengurus MUI. (Noor Irawan)
Jihad Harus Bisa Membawa Kebaikan Bagi Seluruh Umat

Jihad Harus Bisa Membawa Kebaikan Bagi Seluruh Umat

Di jaman dulu, jihad selalu diidentikkan dengan berkorban jiwa, terutama untuk kepentingan agama, namun sekarang makna jihad itu lebih kepada jihad melawan hawa nafsu diri sendiri. Namun di era sekarang ini banyak orang yang salah dalam menafsirkan makna jihad.  

“Kalau umat muslim yang memahami agama, tentunya memahami bahwa jihad yang paling utama adalah menahan diri dari nafsu yang melawan diri kita sendiri seperti nafsu angkara murka. Ketika jihad diartikan sangat sempit hanya untuk memerangi atau berperang melawan orang kafir, maka kemudian ini bisa membawa potensi perpecahan di tengah-tengah masyarakat,” ujar Direktur Wahid Foundation, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau yang biasa disapa Yenny Wahid, di Jakarta, Kamis (12/10/2017).

Menurut Yenny, konteks jihad sekarang sangat berbeda karena perjuangan itu tidak bisa hanya dengan perjuangan fisik, tetapi perjuangan melalui diplomasi, perjuangan melalui dialog. Itu lebih membuahkan hasil dibandingkan dengan melakukan pengeboman bunuh diri yang hanya bisa menyengsarakan masyarakat secara umum.

“Kita lihat bahwa sebagian besar korban dari bom bunuh diri adalah muslim. Ini saja sudah menunjukkan bahwa kita menyakiti umat islam sendiri kalau kita terjebak dalam perilaku jihad fisabilliah yang keliru tadi,” ujar putri ke-2 dari Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, ini.

Karena itu, lanjut Yenny, harus gencar dilakukan sosialisasi bahwa konsep jihad yang paling utama bukan jihad yang berdimensi kital atau perang, tetapi jihad yang melawan hawa nafsu itu sendiri. Kedua definisi dari jihadnya itu sendiri atau ekspresi dari jihad kital itu bisa bermacam-macam, termasuk berbuat kebaikan bagi orang lain, bagi bangsa, bagi negara, membuat terobosan-terobosan yang positif, atau misalnya juga menciptakan penemuan-penemuan baru bagi para ilmuwan, atau juga bagi para dokter dengan pengabdian hidupnya untuk kemanusiaan.

“Itu juga merupakan jihad. Dan itu yang justru harus kita lakukan. Ini jihad yang membawa maslahah. Kalau jihad yang dengan konsep kital itu adalah jihad yang membawa kerusakan, massadah,” kata wanita kelahiran Jombang, 29 Oktober 1974 ini.

Untuk itu dirinya mengimbau agar masyarakat melakukan jihad itu adalah jihad yang membawa kebaikan, membawa maslahah bagi masyarakat lainnya yang langsung bisa diukur. “Bukan jihad yang membawa petaka, kematian, kerusakan bagi orang lain, terutama bagi masyarakat muslim,” ujarnya.

Yenny menegaskan edukasi kepada masyarakat harus terus diberikan karena bangsa Indonesia faktanya belum lepas dari berbagai ancaman seperti radikalisme dan intoleransi. Wahid Foundation sendiri lebih fokus dalam mencegah intoleransi agar masyarakat tetap berfikir baik satu sama lain untuk saling mengedepankan gotong royong, sikap berdialog dan sebagainya.

Untuk merealisasikan itu, terang Yenny, Wahid Foundation telah membuat langkah-langkah agar islam rahmatan lil alamin betul-betul bukan sekadar gagasan saja, tapi perwujudan dari peradaban islam yang akan menginspirasi dunia. Program-program itu antara lain melatih anak muda agar peka dengan konten media sosial yang akan bekerjasama dengan google dan twitter. Ini sebagai upaya untuk menangkal hoax dan fitnah di media sosial.

”Kalau memungkinkan justru anak-anak muda berperan utnuk membuat konten yang menyebarkan gagasan tentang toleransi dan perdamaian termasuk meluruskan makna jihad. Bukan menyebarkan fitnah, apalagi memutarbalikkan fakta, yang bisa menimbulkan perpecahan dan intoleransi,” tutur wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Harvard University, Boston, Amerika Serikat ini.

Selain itu, Wahid Foundation juga mempunyai program intervensi ekonomi yang menyasar ibu-ibu di tingkat akar rumput agar mereka lebih berdaya secara ekonomi, tapi secara gagasan mengajak mereka untuk berfikir toleran.

“Kemarin baru diluncurkan oleh Presiden RI Joko Widodo yakni gerakan perempuan untuk koalisi sosial. Dari  situ nanti kami akan mewujudkan kampung-kampung damai di berbagai daerah di Indonesia. Konsepnyanya anggota komunitas ini dilatih secara ekonomi, tetapi juga diminta menjadi agen-agen toleransi perdamaian di tingkatnya masing-masing,”katanya mengakhiri.

Tuesday, 10 October 2017

Pemerintah Bisa Mensejahterakan Rakyat Juga Bagian dari Jihad Membela Bangsa

Pemerintah Bisa Mensejahterakan Rakyat Juga Bagian dari Jihad Membela Bangsa

Makna jihad sejatinya memiliki arti yang sangat luas. Tidak saja  berperang terhadap orang kafir atau orang yang memusuhi agama Islam. Jihad juga bisa dalam bidang apapun seperti mencari nafkah di jalan yang benar dan di ridhoi oleh Allah SWT.

Sebagai seorang muslim dan menghuni di sebuah negara, kita juga bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban kita sebagai warga negara dan kewajiban kita sebagai rakyat dan seterusnya.  Bahkan kalau kita memiliki keimanan dan ketaqwaan yang tinggi, membela bangsa yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI)ini  adalah juga bagian dari jihad.

“Karena dengan kemerdekaan yang diraih bangsa ini, para pejabatnya atau penguasanya harus bisa berusaha untuk mensejahterakan rakyatnya, bisa juga memberdayakan ekonominya serta bisa melindungi keyakinan-keyakinan agama yang dipeluk oleh rakyatnya. Itu juga merupakan jihad pemerintah melalui seluruh aparatnya terhadap bangsa demi rakyatnya,” ujar Ketua Ikatan Dai Indonesia, Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail, MA, di Jakarta, Selasa (10/10/2017).

Lebih lanjut pria yang juga Grur Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjelaskan, kalau bangsa kita ini tidak merdeka tentunya masyarakat dan pemerintahnya tidak bisa untuk melakukan itu semuanya. “Karena kewajiban untuk membela negara agar rakyatnya bisa terlindungi semua kepentingannya baik ekonomi, politik, pendidikan sampai masalah melindungi keyakinanya itu adalah suatu kewajiban semua warga negara, bukan hanya pemerintahnya saja,” katanya .

Lebih lanjut dirinya mencontohkan bahwa di Undang-undang Dasar 1945 di sebuah pasal  mengatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, maka kalau itu yang dijadikan patokan maka membela negara adalah suatu kewajiban.

“Sehingga jangan sampai negara kita dijajah oleh bangsa lain. Dan ini berlaku bagi semua pemeluk agama apapun karena sebagai rakyat sudah seharusnya untuk membela bangsanya,"tuturnya

Dirinya yakin di semua agama apapun selain Islam pun di Indonesia ini akan melakuan pengorbanan untuk negaranya. Karena agama lain juga membutuhkan tempat ibadah untuk para pengikutnya agar  bisa menjaga keyakinannya.

“Dan tentunya ini suatu kebutuhan yang bersama dalam negara ini. Saya yakin agama yang lain juga melakukan demikian dimana para pengikutnya sama-sama untuk memiliki niat yang baik pada negeri ini dalam usaha memelihara keyakinannya,” tutur pria kelahiran Cirebon, 6 Desember 1955 ini .

Lebih lanjut dirinya juga mengatakan bahwa jihad itu tidak harus berperang melawan bangsanya sendiri seperti yang dilakukan kelompok radikal selama ini dimana diantara kelompok mereka menganggap pemeritah ini adalah thogut sehingga perlu diperangi. Kelompok-kelompok sepert itulah yag menurutnya tidak memahami permasalahan jihad yang sesungguhnya. Karena Jihad itu ada jihad  yang mengguankan senjata dan ada jihad dengan bentuk yang lain.

“Dengan menggunakan senjata untuk melawan musuh yang ingin menjajah negeri kita, merusak negeri kita, nah kalau itu ya maka kita perlu berjihad mati-matian demi mempertahankan negeri ini,” ujar Direktur Pasca sarjana Universitas Islam As Syafi’iyah Jakarta ini

Lalu pria yang juga menjadi anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengatakan bahwa ada jihad yang lebih luas lagi yaitu berjuang untuk mensejahterakan rakyat. Seperti berjuang agar ekonomi rakyat tambah naik atau daya beli masyarakat juga bertambah naik, itu juga merupakan jihad.

“Jadi kalau pemerintah berusaha agar rakyatnya sejahtera, ekonomi negaranya makmur, daya belinya naik, kemudian rakyatnya terjamin seluruh kebutuhannya itu juga merupakan jihad. Di bidang Pendidikan seperti kita menyiapkan orang-orang agar masa depan generasi mendatang berakhlak mulia, memiliki karakter yang baik itu juga merupakan jihad,” kata alumni Universitas Al Azhar Mesir ini..

Dirinya juga menyayangkan kalau selama ini masih ada masyarakat Indonesia yang belum percaya terhadap pemerintahnya sendiri bahwa pemerintah telah melakukan segala sesuatu untuk masyarakatnya. Namun menurutnya hal itu terjadi hanya di masyarakat atau rakyat kecil. Untuk menyakinkan kepada masyaraktnya maka pemerintah harus membuktikan kalau ekonomi rakyat tersebut harus dibela dengan sebaik-baiknya.

“Membuktikannya tidak bisa sekedar dipaksakan melalui pidato atau ceramah saja, tetapi harus dibuktikan yang riil bahwa memang pemerintah benar-benar berusaha maksimal dengan berbagai macam kegiatannya untuk mensejahterakan rakyatnya. Isitilahnya untuk beli beras atau beli segala seuatau serta untuk mendapatkan kerja juga mudah. Ini kalau semuanya mudah maka negari ini akan aman,” ujarnya

Untuk itu dirinya menilai kalau seluruh ekonomi di masyarakat cukup, bangsa Indonesia ini akan menjadi aman dan sejahtera. Karena menurutnya di negara-negara barat yang tidak beragama saja ketika masalah ekonominya nyaman, cukup dan segala  masalah terhadap rakyatnya bisa diatasi maka negara  itu juga terlihat aman.

“Karena dengan ekonomi yang nyaman dan negara itu memiki uang,  nyatanya perut ini tidak bisa menunggu-nunggu, mereka tidak bisa menahan lapar. Maka usaha pemerintah melalui para perangkatnya untuk melakukan jihad secara sungguh-sungguh terhadap bangsanya yakni dengan tujuan untuk mensejaterakan rakyatnya, insya allah itu akan mengkokohkan rakyat terhadap pemerintahnya,” ujar Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI ini mengakhiri. (Adri Irianto)
Kapuspen TNI : Amunisi Tajam Yang Dipesan Brimob Sangat Mematikan

Kapuspen TNI : Amunisi Tajam Yang Dipesan Brimob Sangat Mematikan

  Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto mengatakan amunisi tajam yang dipesan oleh Korps Brigade Mobil Polri memiliki kemampuan luar biasa dan mematikan. Wuryanto mengatakan setidaknya ada dua keunggulan yang dimiliki amunisi tajam tersebut. Pertama, amunisi tersebut bisa meledak dua kali. 

"Meledak pertama, kemudian meledak yang kedua, dan menimbulkan pecahan-pecahan dari tubuh granat berupa logam kecil yang melukai maupun mematikan," kata Wuryanto di dalam jumpa persnya di Taman Ismail Marzuki, kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/10/2017).

Keunggulan kedua, lanjut Wuryanto, amunisi tersebut bisa meledak sendiri tanpa ada impact atau benturan setelah 14-19 detik dilepaskan dari laras. "Jadi ini luar biasa. TNI sendiri sampai saat ini tidak punya senjata dengan kemampuan seperti itu" ucap mantan Kadispenad ini

Mantan Kasdam III/Siliwangi ini menjelaskan, amunisi tersebut biasanya digunakan untuk menghancurkan perkubuan. Dengan menggunakan amunisi tersebut, orang-orang yang ada di belakang perkubuan bisa langsung dihancurkan.

Di sisi lain, Wuryanto mengatakan sampai saat ini amunisi yang dimiliki oleh TNI masih sesuai dengan standar militer yang diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1976 tentang Peningkatan Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api.

Standar amunisi yang dimiliki militer adalah amunisi dengan kaliber di atas 5,56 mm. Sedangkan untuk amunisi nonmiliter standarnya kaliber di bawah 5,56 mm. Terkait penahanan terhadap senjata yang dipesan Brimob itu, kata Wuryanto, murni untuk menerapkan aturan. 

Lebih lanjut, mantan Danrem 051.Wijayakarta ini mengatakan TNI meminta ada peraturan presiden soal pengadaan senjata dan amunisi yang bisa dijadikan sebagai dasar hukum.

Polemik impor senjata dan amunisi Brimbob muncul setelah tertahannya kargo berisi senjata yang tiba dengan pesawat maskapai Ukraine Air Alliance, di Bandara Soekarno Hatta, pada Jumat (29/9/2017) pukul 23.30 WIB.

Kargo itu berisi senjata  dan amunisi. Tercatat ada 280 pucuk senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46mm yang dikemas dalam 28 kotak (10 pucuk/kotak), dengan berat total 2.212 kg.

Sementara amunisi dalam kargo itu adalah amunisi RLV-HEFJ kaliber 40x 46mm, yang dikemas dalam 70 boks (84 butir/boks) dan 1 boks (52 butir). Totalnya mencapai 5.932 butir dengan berat 2.829 kg. Kargo tersebut membutuhkan rekomendasi dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dan lolos proses kepabeanan.
 
Pria yang pernah menjabat sebagai Komandan Brigif 15.Kujang II, Kodam III/Siliwangi ini mengatakan amunisi tajam sebanyak 5.932 butir pesanan Brimob itu telah dipindahkan ke gudang amunisi Mabes TNI. Amunisi tajam tersebut sesuai katalog yang ikut disertakan. Dalam katalog tersebut, dijelaskan amunisi tersebut merupakan amunisi tajam yang memiliki radius mematikan 9 meter dan jarak capai 400 meter.

"Jadi ini luar biasa. TNI sendiri sampai saat ini tidak punya senjata dengan kemampuan seperti itu," kata alumni Akmil tahun 1986 ini

Sementara itu sebelumnya Kepala Korps Brimob Polri Inspektur Jenderal Murad Ismail mengatakan, bahwa 280 pucuk senjata dan 5.932 butir amunisi yang diimpornya bukan termasuk senjata berbahaya.

Menurutnya, penggunaan amunisi itu lebih untuk memberi efek kejut pada situasi rusuh. "Saya tegaskan (senjata ini) bukan untuk membunuh, tapi untuk mengejutkan," kata dia, di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (30/9.2017) lalu.

Murad menjelaskan, senjata ini dipakai dalam situasi huru-hara dan sifatnya tidak membahayakan. Misalnya, Polisi menembakkan senjata ini ketika sasaran bersembunyi bersembunyi di balik pohon, agar sasaran kabur.

Amunisinya pun jenisnya peluru tabur. Larasnya tidak memiliki alur yang biasa ada pada senjata mematikan. Jarak tembaknya paling jauh 100 meter. Penggunanya pun sudah terlatih. "Semua komandan yang pakai ini sudah pernah kita latih di Cikeas cara penggunaannya," ujar Murad.

Ia menambahkan, senjata tersebut akan disebar di sejumlah daerah rawan konflik, seperti Poso, Sulawesi Tengah, dan Papua.

Monday, 9 October 2017

Offroader Pertamax Motorsport Team Tampil Maksimal di IXSOR seri-4

Offroader Pertamax Motorsport Team Tampil Maksimal di IXSOR seri-4

Para punggawa Pertamax Motorsport Speed Offroad Team sebagai salah satu tim offroad paling tangguh dan diunggulkan, berhasil tampil impresif di ajang Indonesia eXtreme Sprint Offroad Championship (IXSOR) 2017 putaran keempat yang digelar di Sirkuit Paramount Land, Serpong, Tangerang Selatan pada Minggu (8/10) akhir pekan kemarin. Hampir semua penggawa Pertamax Motorsport Speed Offroad Team sukses naik ke atas podium di masing-masing kelas yang diikuti.

seperti halnya Yedidiah Soerjosoemarno bersama navigatornya Reza yang mampu menumpaskan perlawanan para rivalnya dan duduk di podium pertama kelas G1.2 dan podium pertama grup G1. Yedi, sapaan akrabnya, menjadi yang terdepan berkat kondisi mobil Yamaha UTV yang digunakannya berada dalam kondisi prima. Hal tersebut lantas membuatnya bisa bermain konsisten sekaligus mengalahkan pesaing terberatnya Musa Arjianshah.

Sementara Buche Febrico, yang mewakili Pertamax Motorsport Speed Offroad Team di kelas G2.2, juga kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai pebalap muda yang patut diperhitungkan. Buche yang tampil bersama navigatornya Tania Ananda berhasil menempati podium ketiga kelas G2.2 dan podium ketiga grup G2.
“Alhamduillah di putaran ini saya bisa kembali berada di podium. Meski tantangan dan kendala harus saya hadapi di SS kedua yang membuat posisi saya sempat melorot, saya dan Pertamax Motorsport Speed Offroad Team berhasil mengembalikan keadaan dan bermain baik di SS ketiga dan SS keempat,” ungkap Buche seusai perlombaan.

Hasil positif bagi Pertamax Motorsport Speed Offroad Team terus berlanjut. Kali ini giliran Rifat Sungkar yang juga sekaligus menjabat sebagai Direktur Pertamax Motorsport yang tampil begitu segar dengan mobil barunya, Tubular Dirt Buggy. Rifat bersama navigatornya M. Redwan berhasil melaju ke babak Champ of Champs (20 besar) dan mencatatkan namanya di podium kedua.

“Cukup memuaskan untuk bisa berada di podium kedua Champ of Champs. Saya tampil bersemangat dengan mobil baru ini, semuanya juga dapat dikontrol dengan baik. Kendala-kendala kecil wajar, mengingat mobil ini juga baru digunakan untuk pertama kali di ajang IXSOR. Ke depannya, hanya perlu sedikit sentuhan lagi untuk membuat mobil ini dapat digunakan secara maksimal demi hasil yang lebih memuaskan,” ujar Rifat.

Masih belum berhenti sampai di situ, lagi-lagi Pertamax Motorsport Speed Offroad Team mendulang dua podium lain lewat penampilan pebalapnya yaitu Glenn Nirwan bersama navigator Lanang Damarjati. Glenn sukses menempati podium kedua di kelas G4.3 dan podium ketiga di grup G4 yang juga terkenal sebagai kelas dan grup kompetitif karena diisi oleh nama-nama besar di kancah speed offroad Tanah Air.

Berbekal penampilan yang sangat baik ini, Pertamax Motorsport Speed Offroad Team semakin siap menghadapi IXOR 2017 putaran kelima yang menurut rencana akan diselenggarakan awal November mendatang. (Noor Irawan)

Sunday, 8 October 2017

Rizal Sungkar Menangi Kejurnas Sprint Rally di seri 5

Rizal Sungkar Menangi Kejurnas Sprint Rally di seri 5

Pereli andalan Pertamax Motorsport Sprint  Rally Team, Rizal Sungkar dan navigatornya Anthony Sarwono akhirnya sukses meraih juara Pertama di kelas M1, Grup M sekaligus juara pertama di kejuaraan umum pada ajang Indonesia eXtreme Sprint Offroad Racing (IXSOR) Championship 2017 putaran keempat yang juga merupakan Kejurnas Sprint Raly putaran kelima.

Pada pertarungan di hari pertama yang berlangsung Jum’at (6/10/2017) malam lalu, Rizal/Anthony berada di posisi kedua terpaut selisih waktu 0,3 detik dari pasangan Ryan Nirwan/Adi Indiarto. Namun di 2 (dua) Special Stage (SS) tersisa Sabtu (7/10/2017) kemarin Rizal menunjukkan kehandalannya di Sirkuit Paramount Land, Serpong, Tangerang Selatan.

Di SS3, Rizal berhasil menuundukkan rivalnya dan kembali berhasil mencatatkan waktu tercepat 3 menit 32,4 detik sekaligus membawanya kembali ke posisi pertama. Rizal akhirnya menutup SS4 dengan total waktu dengan 10 menit 37,3 detik terpaut 2,9 detik dengan Ryan/Adi yang berada di posisi kedua. Sementara Rifat Sungkar/M. Redwan menempati di posisi ketiga.

A“Akhirnya kami dapat meraih gelar juara lagi, setelah kemarin sempat berada di posisi kedua. Ini merupakan kemenangan ke-18 sejak menggunakan Mitsubishi Lancer Evolution X ini. 18 kali tampil dan 18 kali juga meraih podium juara pertama. Semoga kami dapat terus mempertahankan konsistensi ini pada gelaran-gelaran berikutnya,” ujar Rizal

Sementara itu Rifat Sungkar yang merupakan kakak kandung Rizal Sungkar berhasil meraih podium ketiga pada putaran kali ini. Di keikutsertaannya kali ini Rifat membawa misi khusus yaitu melakukan uji coba produk-produk lokal.

“Seperti kita ketahui, running cost mengikuti kejuaraan reli sangat mahal, oleh karena itu kali ini saya menguji coba ban reli lokal buatan Indonesia untuk menekan running cost tersebut. Harapan saya ujicoba ini dapat menambah gairah pebalap untuk mengikuti reli dengan menggunakan produk lokal Indonesia,“ tutur Rifat Sungkar yang merupakan Direktur Pertamax Motorsport.

Sementara itu pada Kejuaraan team putaran keempat ini, Pertamax Motorsport berhasil meraih total 10 poin. Sedangkan posisi pertama diraih Best Parking Rally Team total raihan dengan 16 poin dan posisi kedua ditempati BRM Motorsport dengan perolehan 12 poin.  (Noor Irawan)