Headline

Previous
Next

Friday, 26 May 2017

Ini Penjelasan Kapolri Mengenai Bom Kampung Melayu

Ini Penjelasan Kapolri Mengenai Bom Kampung Melayu

Aparat kepolisian tampak mengawal ketat Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian saat meninjau lokasi kedakan bom di kawasan terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Jumat (26/5/2017) petang. Tampak Kapolri (kedua dari kanan) mendengarkan penjelasan dari Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. M. Iriawan. Foto : Istimewa
Usai mendarat dari Iran untuk menjalin kerja sama kepolisian sejumlah negara di Timur Tengah, Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian, Jumat (26/5/2017) petang mendatangi lokasi ledakan bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur dengan pengawalan ketat. Dia bersama Kapolda Metro Jaya Mohamad Iriawan langsung menuju TKP ledakan.

Menurut Kapolri, ledakan bom bunuh diri di tempat ini dilakukan jaringan teroris lama di Indonesia yang dipimpin Bahrun Naim yang berafiliasi ke gerakan ISIS.  Dijelaskan  Tito, dua bom bunuh diri yang meledak berciri khusus yang biasa diledakkan kelompok ISIS.

"Ledakan pertama yang dibawa pelaku Ikhwan lebih kecil, disusul kemudian ledakan kedua yang memiliki efek penghancur, efek bakar, serta efek getar yang sangat hebat," ujar Kapolri.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini mengatakan terduga pelaku bom bunuh diri tersebut adalah jaringan teroris Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Dua pelaku itu ternyata satu jaringan dengan JAD Bandung. "Dari laporan saya terima, ini kelompok pelaku lama, juga kelompok JAD sel Bandung Raya," kata Tito.

Lebih lanjut alumni Akpol tahun 1987 ini menjelaskan, aksi yang mereka lakukan sebelumnya berhasil digagalkan dan pelaku juga berhasil ditangkap. Mulai dari peristiwa Waduk Jatiluhur yang sebenarnya merencanakan aksi peledakan di pos polisi Senen.

Kemudian aksi selanjutnya pun berhasil digagalkan. Rencana melakukan pengeboman namun ternyata bom meledak duluan dan pelaku berhasil diringkus Densus 88. "Bomnya meledak duluan, prematur di taman pandawa, sehingga akhirnya melarikan diri masuk ke kantor lurah (Cicendoh) dilakukan pengepungan jajaran polda Jabar, kemudian berhasil dilumpuhkan," terang Tito.

Kejadian di terminal kampung Melayu kata mantan Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Papua ini memang disesalkannya. Oleh karena itu, Tito mengaku sudah memerintahkan jajarannya untuk segera mengejar terduga teroris yang berkaitan dengan tragedi yang telah menggugurkan tiga anggotanya tersebut

Tito mengatakan, Tim Densus 88 Polri terus mengejar pelaku yang terlibat dan membongkar jaringan di belakang kelompok pelaku. "Sel mereka, (Densus 88) sudah tahu, kelompok mereka sudah tahu, saya sudah perintahkan jajaran kejar habis kelompok ini," tegas pria yang juga pernah menjadi Kepala Detasemen Khsusus (Kadensus) 88/Anti Teror Polri ini.

Atas kejadian tersebut, pria yang pernah menjadi Deputi II BNPT bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan ini ‎meminta masyarakat untuk tidak panik setelah adanya aksi terorisme di Kampung Melayu itu. ‎‎"Saya kira masyarakat tidak perlu panik, kita sudah berkali kali menangani kasus serangan teror, saya yakin kita semua kuat," kata Tito.

Mantan Kapolres Serang ini juga meminta masyarakat agar tidak khawatir dengan aksi terorisme yang terjadi. Menurutnya pelaku teror hanyalah kelompok kecil. TNI dan Polri menurutnya memiliki kemampuan untuk menumpas kelompok tersebut. "Jelas kami yakin kemampuan kita, negara, TNI dan Polri masih jauh di atas mereka. Masyarakat tidak perlu panik, kita akan lakukan tugas sebaiknya," katanya mengakhiri

Dari lokasi ledakan, Kapolri lalu mendatangi Rumah Sakit Polri di kawasan Kramatjati, Jakarta Timur. (Noor Irawan)
Seluruh Agama Harus Bersatu Kuatkan Bhinneka Tunggal Ika untuk Bendung Radikalime

Seluruh Agama Harus Bersatu Kuatkan Bhinneka Tunggal Ika untuk Bendung Radikalime

Para tokoh agama seperti Sekretaris Komisi Hubungan Antar Umat Beragama (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Agustinus Ulahayanan (ketiga dari kanan) dan Ketua Hubungan Antar Lembaga dan Komunikasi Publik Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, KS Arsana (kedua dari kiri) didampingi Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nasarudin Umar, MA (keempat dari kiri) usai memberikan pemaparan saat acara Dialog Lintas Agama dalam rangka Pencegahan Paham Radika Terorisme se Wilayah Jawa Tengah yang diselengaaarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Solo, Rabu,(24/5/2017 lalu. Foto : Dok. BNPT
Indonesia kembali diguncang aksi teror bom di Kampung Melayu, Rabu (24/5/2017). Aksi biadab ledakan bom bunuh diri yang terjadi terminal Kampung Melayu, Jakarta pada  Rabu (24/5/2017) malam yang diduga dilakukan jaringan kelompok teroriris ISIS  yang selalu menggunakan ajaran agama islam sebagai pembenaran diyakini bertujuan untuk mengacaukan keutuhan NKRI. Padahal ajaran kekerasan ala ISIS, jelas bukan ajaran islam.

Untuk itu, seluruh agama yang di Indonesia harus bersatu dan berkolaborasi dan terus menguatkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam menghadapi ancaman intoleransi berupa radikalisme dan terorisme. Ajakan itu disampaikan oleh Sekretaris Komisi Hubungan Antar Umat Beragama (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Agustinus Ulahayanan.

"Marilah kita bersama membangun 'jembatan' dalam memperkuat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terutama buat pemuka agama, yang seharusnya terus menggaungkan kekuatan perbedaan dengan pemahaman agama yang benar, bukan malah 'berteriak' mau menghancurkan satu sama lain," ujar Romo Agustinus di Jakarta, Jumat (26/5/2017).

Menurutnya, semua harus sepakat bahwa gerakan agama yang akan menghancurkan 'jembatan' perdamaian antarumat beragama harus dihancurkan. Untuk melakukan itu, harus ada pendidikan agama dan karakter yang kuat seperti pendidikan Pancasila, dan budi pekerti.

Ia optimistis bila penguatan nilai agama, pancasila, dan budi pekerti bisa dilakukan, 'serangan' radikalisme dan terorisme akan sulit merobohkan pondasi NKRI. Menurutnya ada tiga tahap pencegahan radikal terorisme yaitu pencegahan, penghentian dan pemulihan yang bisa dilakukan dalam beberapa langkah yaitu pendidikan dan pembudayaan, penegakan nilai, norma dan identitas, sterelisasi lingkungan, inklusifitas, kerohanian, bermartabat, berdayaguna, bermitra

"Pendidikan budaya dan nilai multi kultural dengan aneka macam budaya. Bagaimana kita menghargai kalau kita tidak tahu. Bagaimana kita tahu kalau kita tidak mencari tahu. Perlu kita membangun 'jembatan' bukan tembok melalui pendidikan multi kultural atau pendidikan lintas agama," jelas Romo Agustinus.

Hal senada diutaran Ketua Hubungan Antar Lembaga dan Komunikasi Publik Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, KS Arsana. Ia menegaskan komunikasi sangat penting untuk menghilangkan kesalahpahaman karena semua agama mengajarkan manusia tumbuh seperti dari ulat menjadi kupu-kupu.

"Terorisme adalah tindakan kekerasan untuk kepentingan pelaku teror. Pelaku teror tidak memiliki agama karena agama apapun tidak mengajarkan teror," tukasnya.

Menurutnya dalam agama hindu, teorisme bertentangan dengan nilai kebajikan dan fitrah sebagai manusia. Untuk mencegahnya harus dilakukan penerapan dini kepada anak-anak kita tentang cinta kasih dan penghargaan terhadap perbedaan. Selain itu harus terus dibangun kesadaran bahwa manusia itu bersaudara.

"Hargai pilihan hidup orang lain. Perbedaan membuat kita melatih diri untuk menghargai orang lain. Majelis agama bukan hanya menjadi kerangkeng dalam agama kita sendiri. Majelis agama bisa bekerjasama dengan Kementerian Agama kedepan untuk masalah kemanusiaan," ujarnya. (Adri Irianto)
Bom Kampung Melayu Dilakukan Jaringan Terorganisir yang Mirip dengan Bom di Manchester

Bom Kampung Melayu Dilakukan Jaringan Terorganisir yang Mirip dengan Bom di Manchester

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), jenderal TNI (purn) Wiranto menyatakan bahwa pelaku penyerangan bom bunuh diri yang terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017 malam lalu bukanlah pelaku tunggal. 

Wiranto mengatakan, pelaku pengeboman di Kampung Melayu merupakan bagian dari jaringan terorganisasi. Hal tersebut disampaikan Wiranto usai rapat koordinasi terbatas (rakortas) bersama sejumlah instansi keamanan seperti TNI, Polri, BNPT, BIN, dan lainnya.

"Kesimpulan kita ini bukan lone wolf, bukan perorangan, tapi sudah merupakan suatu jaringan yang terorganisasi yang merencakan pengeboman itu," kata Wiranto, di Kantor Menkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (26/5/2017) petang.

Menurut Wiranto, aparat keamanan sedang mengejar dalang aksi pengeboman yang menewaskan tiga polisi dan melukai 11 orang lainnya. Dua pelaku juga tewas dalam kejadian ini.

"Kita akan kejar. Kita butuh kerja sama dan bantuan masyarakat untuk bagaimana menanggulangi aksi teroris ini. Kita juga harus libatkan masyarakat, tidak mungkin aparat berdiri sendiri," ujar pria yang pernah menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) RI ini.

Alumni Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1968 ini mengatakan, pola serangan teror di Kampung Melayu hampir sama dengan yang terjadi di Manchester Arena, Inggris yang terjadi pada Senin (22/5/2017) malam lalu waktu setempat. Karena pelaku teror sama-sama ingin menunjukan eksistensi mereka. Kemudian pelaku ingin menimbulkan korban sebanyak-banyaknya.

"Aksi bom di Manchester, Inggris dan di Kampung Melayu walaupun pelakunya berbeda namun memiliki kesamaan karakter, yaitu pertama untuk menunjukkan eksistensi mereka dan yang kedua untuk membuat korban sebesar-besarnya serta pada akhirnya mengancam eksistensi negara, Oleh karena itu untuk mengatasi hal seperti itu maka aparat polisi dan yang terkait sedang mengejar dan menuntaskan pelaku bom Kampung Melayu beserta jaringannnya," ujar pria yang pernah manjadi Panglima ABRI ini

Wiranto sendiri pada Kamis (25/5/2017) malam kemarin baru tiba dari Rusia usai menghadiri Pertemuan Pejabat Tinggi yang Bertanggungjawab Terhadap Masalah Keamanan di Arab Saudi dan di Rusia. Pertemuan di kedua negara yang dihadiri Menko Polhukam Wiranto dan Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius menyatakan pada intinya menggunakan semua negara untuk menggalang kerjasama penanggulangan terorisme yang sudah dianggap musuh bersama.

Mewaspadai perkembangan konsolidasi ISIS di kepulauan Sulu Philipina selatan, Wiranto mengatakan Indonesia dan Australia dari awal sudah mewaspadai informasi mengenai pengembangan ISIS yang menggunakan konsep divergensi yaitu, menyebarkan kekuatan ke semua wilayah setelah basis ISIS di Suriah digempur.

Untuk itu, Indonesia dan Australia sepakat untuk menggalang kerjasama yg lebih kuat untuk menetralisir konsolodasi ISIS di sekitar perairan Sulu. Adapun negara yang akan tergabung dalam kerjasama tersebut yaitu Indonesia, Australia, New Zealand, Malaysia, Brunei dan Filipina.

"Negara-negara ini bersama-sama fokus untuk menangani kemungkinan adanya pengembangan ISIS di Asia Tenggara, khususnya di perairan Sulu atau di Filipina Selatan," kata pria yang juga pernah menjadi Pangkostrad dan Pangdam Jaya ini mengakhiri.

Dalam jumpa pers tersebut Wiranto tampak didamping Kepala BNPT Komjen Pol. Suhardi Alius, Kasum TNI Laksdya TNI Dr. Didit Herdiawan, dan Wakapolri Komjen Pol Syarifudin. (Noor Irawan)
Korupsi Pengadaan Heli AW101 Menyeret Tiga Nama Personil TNI AU

Korupsi Pengadaan Heli AW101 Menyeret Tiga Nama Personil TNI AU

Helikopter AW 101 TNI AU diberi police line (foto:Kompas)
 TNI bekerjasama dengan KPK berhasil mengungkap dugaan kasus korupsi pengadaan helikopter AW101 yang melibatkan tiga nama personil TNI AU dan mengakibatkan Negara merugi sebanyak Rp. 230 miliar.

Dalam pengusutan tersebut Panglima TNI menggerakan penyidik dari unsur Polisi Militer (POM) dibantu KPK melakukan investigasi penuh berdasarkan surat perintah yang dikeluarkan oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) tertanggal 29 Desember 2016.

“Dari hasil penyidikan pihak Polisi Militer (POM) sudah berhasil memperoleh alat bukti cukup dan tiga orang dinyatakan sebagai tersangka” ungkap Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam konfrensi persnya di gedung KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (26/5/2017)..

Ketiga orang tersangka tersebut adalah Marsma TNI FA yang bertugas sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) dalam pengadaan barang dan jasa, kedua Letkol W sebagai pejabat pemegang kas dan ketiga adalah Pelda S sebagai penyalur dana-dana terkait pengadaan ke pihak-pihak tertentu.

Saat ini helikopter buatan Inggris – Italy tersebut ditempatkan di salah satu hanggar TNI AU di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta dan diberi garis kuning police line sejak awal kedatangannya tahun lalu. (SRK)
Yonif 500/Raider Berhasil Boyong Piala Tontangkas ke Kodam V/Brawijaya

Yonif 500/Raider Berhasil Boyong Piala Tontangkas ke Kodam V/Brawijaya


Setelah melalui perjuangan keras dan panjang, akhirnya satuan pemukul kebanggaan Kodam V/Brawijaya dari Yonif 500/Raider telah berhasil menyabet Juara I Tontangkas 2017 yang diikuti oleh seluruh satuan Raider TNI AD se-Indonesia.

Bukan perkara mudah memenangkan kejuaraan tingkat nasional yang diadakan oleh TNI AD mengingat yang dihadapi adalah satuan-satuan Raider terbaik yang sudah mengalami berbagai tahapan dan seleksi kemampuan oleh masing-masing Kotama (Kodam) termasuk didalamnya juga Kostrad. Faktor ini jugalah yang membuat ajang ini disebut sebagai kompetisi paling bergengsi di seluruh satuan TNI AD demi membuktikan kemampuan terbaiknya sebagai bagian dari keberhasilan pembinaan satuan.

Keberhasilan Yonif 500/Raider dalam memenangkan kompetisi ini mendapat respon yang luar biasa, ibarat pahlawan menang perang mereka diarak keliling sepanjang jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk  sampai dengan  Jalan Raden Wijaya sambil memamerkan piala kemenangannya.

Meski telah berhasil membuktikan kemampuan terbaiknya, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Kustanto megingatkan agar kemenangan yang diraih oleh prajurit-prajurit Sikatan tidak membuat satuan tersebut berpuas diri dan lengah. Sebaliknya dirinya ingin  kemenangan yang sudah diraih membuat satuan tersebut terus berlatih mempersiapkan diri untuk mengikuti event-event nasional lainnya yang diadakan TNI AD. Selain itu dirinya juga ingin kemenangan yang diraih oleh Yonif 500/Raider dapat menginspirasi satuan lainnya untuk berbuat yang terbaik.

“Saya ingin keberhasilan prajurit Sikatan ini menginspirasi satuan lainnya, sehingga makin bersemangat untuk menjadi yang terbaik sekaligus mempertahankan (kemenangan) yang sudah diraih.” tegas Pangdam dalam sesi pengarahannya, Jumat,26/05/2017.

Diketahui, Tontangkas 2017 yang diadakan di Cipatat beberapa waktu lalu diikuti oleh seluruh satuan Raider se-Indonesia. Dalam kompetisi tersebut diperoleh hasil Kodam V/Brawijaya (Yonif 500/Raider) berhasil mengumpulkan 125 poin dengan predikat Juara I, disusul Kodam II/Sriwijaya (Yonif 200/Raider) sebagai Juara II dengan total poin 124 dan Juara III berasal dari Divif 2 Kostrad dengan total poin 114. (SRK)

Thursday, 25 May 2017

Polri Menduga Bom Kampung Melayu Jaringan Terorisme Kelompok ISIS

Polri Menduga Bom Kampung Melayu Jaringan Terorisme Kelompok ISIS

Serangan bom bunuh diri di dekat halte busway Trans Jakarta, terminal Kampung Melayu, Jakarta, Rabu (24/5/2017) malam hanya terjadi berselang dua hari dengan aksi serupa di Manchester Arena, Inggris dan sehari setelah serangan kelompok ISIS di wilayah Marawi, Filipina. Ketiga peristiwa ini pun lantas dikaitkan satu sama lain.

Markas Besar Polri menyatakan serangan bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta, diduga dilakukan oleh jaringan kelompok teror Islamic State Iraq and Syriah atau yang lebih dikenal dengan sebutan ISIS.

"Memang ada peristiwa peledakan yang kami duga adalah low explosive. Kami duga pelakunya adalah dari jaringan ISIS," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Komisaris Besar Martinus Sitompul, Kamis (25/5).

Martinus menjelaskan dugaan polisi berawal dari pola serangan yang hampir sama dengan beberapa peristiwa lain di dunia. Martinus secara spesifik menyebut serangan di Filipina dan Inggris yang juga dari kelompok mereka.

Dia juga mengatakan, penyelidikan hingga saat ini masih berlangsung, walaupun garis polisi sudah dibuka agar aktivitas masyarakat bisa kembali berjalan.

Olah tempat kejadian perkara sendiri sudah berakhir pada 5.00 WIB. "Saat ini kami sedang periksa rekaman CCTV dari Dinas Perhubungan," kata Martinus mengakhiri (Noor Irawan/CNN)
Pemerintah Himbau Masyarakat Tidak Takut Melawan Aksi Terorisme

Pemerintah Himbau Masyarakat Tidak Takut Melawan Aksi Terorisme

Kepala Staf Kantor Kepresidenan, Teten Masduki, menemui sejumlah korban ledakan di Kampung Melayu di RS Premier Jatinegara. Usai menjenguk korban, Teten meminta kepada masyarakat untuk tidak takut dengan aksi ledakan bom yang terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur Rabu (24/5) malam. Teten menyebut, teror tersebut memang sengaja dibuat agar masyarakat menjadi takut.

Dia juga menyampaikan pesan Presiden Jokowi yang masih melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur dan Jawa Tengah. Presiden menyampaikan bahwa pemerintah dan masyarakat harus bersama-bersama melawan teror, yang masih kerap terjadi di Indonesia.

"Tindakan teror kan untuk buat kita takut. Kita tidak boleh takut. Pemerintah dan masyarakat harus bersama melawan teror," kata Teten di RS Premier Jatinegara, Kamis (25/5/2017) dini hari.

Teten menegaskan pemerintah mengutuk aksi teror yang kembali terjadi di tengah masyarakat. Menurut dia, aksi-aksi teror ini harus dilawan bersama.

"Tentu kita harus mengutuk tindakan teror ini, ini merupakan satu teror yang nyata. Sehingga kita bersama, masyarakat dan pemerintah harus melawan teror ini," tuturnya.

Teten mengungkapkan, ada lima korban yang dirawat di RS Premier Jatinegara, namun satu orang yang merupakan anggota polisi bernama Brigadir Taufan yang telah meninggal dunia. Sampai saat ini tinggal empat korban yang harus menjalani perawatan.

"Ada lima, dirawat empat. Satu sedang dioperasi. Saya ketemu anggota Sabhara, Pak Fery. Lalu ada Pak Agung masyarakat biasa, ada Jihan mahasiswi Azzahra," tuturnya.

Teten pun berharap, keluarga korban cukup diberikan ketabahan menghadapi cobaan yang ada, dan semua berdoa untuk kesembuhan korban. "Saya diminta menyampaikan belasungkawa kepada korban dan keluarga. Dan memastikan, semua korban mendapatkan perawatan," ujarnya. (Noor Irawan)

Polisi Pastikan Bom Kampung Melayu adalah Bom Panci

Polisi Pastikan Bom Kampung Melayu adalah Bom Panci

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto memastikan bahwa bom yang meledak di sekitar Halte busway Trans Jakarta, terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. pada Rabu (24/5/2017) malam adalah bom berbahan panci.

Pernyataan itu disampaikan setelah polisi melakukan oleh TKP dan menemukan serpihan-serpihan di lokasi kejadian. Selain menemukan serpihan, polisi juga menemukan struk pembelian panci. Pembelian tersebut dilakukan di sebuah minimarket di Padalarang, Jawa Barat, pada 22 Mei 2017.

"Kita temukan ada struk atau bukti pembelian, tanggal 22 Mei pukul 9. Ini struk pembelian panci dari salah satu minimarket. Ini ditemukan dari salah satu pelaku, ada di saku," kata Setyo di lokasi kejadian, Kamis dini hari, 25 Mei 2017.

Dengan struk pembelian panci yang digunakan untuk bom bunuh diri, polisi akan mengungkap identitas pelaku dan jaringannya. Menurut penyelidikan awal, kasus di Kampung Melayu ini hampir sama modusnya dengan insiden bom panci di Bandung beberapa waktu lalu.

Setyo juga mengatakan, bom bunuh diri itu menewaskan tiga personel Polri. Dua orang lagi yang tewas diduga adalah pengebom. Insiden itu juga melukai sepuluh orang. Lima korban luka adalah polisi dari unit 1 peleton 4 Polda Metro Jaya. Lima korban lain adalah warga sipil yang berada di lokasi saat ledakan terjadi.

"Aparat kepolisian yang menjadi korban saat itu sedang bertugas untuk mengamankan pawai obor yang dilakukan warga setempat untuk menyambut bulan Ramadhan," ujar Setyo.

Sementara pelaku diduga dua orang pria. Kedua pelaku diidentifikasi melakukan bom bunuh diri berdasarkan kondisi mereka yang paling parah, dengan potongan tubuh yang tercerai berai. Dipastikan, bagian kepala terduga pelaku masih utuh dan dapat dikenali dengan baik.

"Potongan bagian kepala masih utuh, secara visual terlihat jelas wajah dan tangan masih bisa diambil sidik jarinya," kata Setyo.

Dari identifikasi awal, titik ledakan dipastikan berada di posisi yang berdekatan – yaitu antara parkir motor, toilet, dan dekat halte bus TransJakarta Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Data korban:
1. Bripda Topan Al Agung anggota unit 1 peleton 4 Polda Metro Jaya (meninggal dunia).
2. Bripda Feri unit 1 peleton 4 Polda Metro Jaya (luka pada muka, badan, dan paha).
3. Bripda Yogi unit 1 peleton 4 Polda Metro Jaya (luka di sekujur tubuh).
4. Agung (17), sopir (luka pada kaki, tangan, dan badan).
5. Jihan (19), mahasiswi (luka pada tangan kiri melepuh).

Sementara itu, enam korban lain dibawa ke Rumah Sakit Budhi Asih dan Rumah Sakit Hermina Jatinegara, Kampung Melayu. (Noor Irawan)
Akibat Ledakan di Kampung Melayu, Masyarakat Diminta Tak Membuat Teror Baru

Akibat Ledakan di Kampung Melayu, Masyarakat Diminta Tak Membuat Teror Baru

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta masyarakat arif dan bijaksana dalam mentikapi peristiwa ledakan di terminal busway Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017) malam. Penyebarluasan gambar atau video potongan tubuh korban dan konten lain yang berpotensi menimbulkan kengerian diminta dihentikan.

Kepala Sub Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Andi Intang Dulung, mengatakan masyarakat harus memahami bahwa penyebarluasan konten kengerian sebagai akibat dari sebuah peristiwa terorisme adalah teror yang sebenarnya.

"Masyarakat jangan terpancing. Kejadian di Kampung Melayu mungkin hanya memakan tujuh korban luka dan jiwa, tapi ketika gambar atau video potongan tubuh korban disebarluaskan, jutaan orang akan menjadi korban baru," kata Andi Intang. dalam rilis BNPT, Kamis (25/5/2017)

Andi mencontohkan peristiwa terorisme yang terjadi di Jl. MH Thamrin, Jakarta, Januari 2016 silam. Saat itu kejadian terlokalisir hanya di satu titik, namun konten kengerian yang tersebarluas, salah satunya melalui media sosial, menjadikan Jakarta dan sekitarnya lumpuh. "Kengerian yang timbul sebagai dampak peristiwa di Thamrin jangan terulang," tandasnya.

Selain ke masyarakat, Andi Intang juga meminta media massa pers berlaku sama dalam memberitakan peristiwa ledakan di Kampung Melayu. Gambar atau video berbau kengerian diminta tidak ditampilkan.

"Jika memang tidak bisa tidak ditampilkan, mohon dikaburkan. Jangan secara gamblang ditayangkan dan menebar teror baru ke masyarakat," ujar Andi Intang.

Dalam pernyataannya Andi Intang mengingatkan, perkembangan dunia terorisme menunjukkan kelompok pelaku sudah memanfaatkan media massa, termasuk pers, untuk ikut menyebarluaskan dampak peristiwa teror untuk melipatgandakan kengerian yang timbul.

"Masyarakat yang mengetahui media massa yang menebarkan kengerian, silahkan lapor ke Dewan Pers atau KPI (Komisi Penyiaran Indonesia, Red.)," pungkas Andi Intang. (Adri Irianto)

Berikut Kesaksian Warga Saat Bom Meledak di Kampung Melayu

Berikut Kesaksian Warga Saat Bom Meledak di Kampung Melayu

Ibukota Jakarta kembali diguncang ledakan bom. Kali ini kawasan yang menjadi sasaran ledakan adalah di sekitar halte Transjakarta di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur Rabu (24/5/2017) malam ini sekitar pukul 21.00 WIB. Ledakan yang terjadi sebanyak dua kali tersebut diduga bom bunuh diri.

Seorang saksi peristiwa ledakan, Yoce, yang saat ledakan ada di dekat lokasi menyebut, dua ledakan bom bunuh diri tersebut hanya berselang lima menit.

Saat itu, bus TransJakarta baru saja tiba di Terminal Kampung Melayu. "Waktu bus tiba, ledakan terjadi. Penumpang berlarian," ujar Yoce.

Ia menceritakan, usai ledakan tersebut, dirinya melihat potongan tubuh manusia. Potongan tubuh ini berpencar.

"Saya kira awalnya ledakan ban bus Trans Jakarta. Setelah ada mahasiswa yang lari pakai baju penuh darah ke arah Tebet, dibawah fly over, baru semua orang berlarian," urainya.

Saksi lain, Tugimin, mengatakan bahwa pusat ledakan diduga berasal dari dekat toilet terminal. Tugimin yang merupakan penjaga toilet itu  mengaku bersyukur tak menjadi korban. Tugimin menuturkan saat ledakan bom yang pertama dia sedang berada di dalam toilet. Lalu dia mendengar ledakan.

"Saya saat itu berada di dalam toilet karena memang lagi jaga. Ada dua ledakan saat kejadian, pas ledakan pertama itu kenceng banget suaranya. Saya di dalam, hanya berbatasan dengan tembok saja, jaraknya sekitar 6 meter dari bom itu," kata Tugimin di terminal Kampung Melayu.
 Tugimin sendiri terlihat masih shock. Dia menuturkan setelah mendengar ledakan pertama, Tugimin lari sambil menutup kuping kanannya yang sakit karena suara ledakan. Saat menyelamatkan diri dia tak melihat kondisi sekitarnya.

"Saat lari saya nggak lihat korban-korban itu, yang saya pikirkan hanya gimana caranya diri saya selamat. Ada ibu-ibu sama anak muda yang sempat keluar dari toilet sebelum meledak, tapi pas kejadian ledakan tidak ada orang yang berada di dalam toilet," tutur Tugimin.

"Saya sampai saat ini masih shock, masih enggak nyangka kalau ada bom yang meledak di toilet terminal tempat saya kerja," imbuh pria yang sudah bekerja 3 tahun sebagai penjaga toilet di Terminal Bus 2 Kampung Melayu ini. (Noor Irawan)

Wednesday, 24 May 2017

Polisi Evakuasi Korban Ledakan Bom di Kampung Melayu

Polisi Evakuasi Korban Ledakan Bom di Kampung Melayu

Polisi melakukan evakuasi terhadap potongan tubuh yang menjadi korban ledakan bom di dekat halte busway Trans Jakarta, kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur yang terjadi Rabu (24/5/2017) malam

Berdasarkan pantauan di lokasi, polisi dari tim gegana dan penjinak bom tampak membawa potongan tubuh yang berserakan dan satu jasad manusia yang berada di atas motor.

Tak hanya itu, tim penjinak bom juga menyusuri lokasi di dekat ledakan bom tersebut. Masyarakat juga masih tampak menonton olah tempat kejadian perkara (TKP) polisi.

Dua orang dikabarkan tewas yang salah satunya diduga merupakan pelaku bom bunuh diri. Korban pun mayoritas anggota kepolisian yang tengah berjaga di lokasi tersebut.

Korban dari kejadian tersebut diketahui berjumlah dua orang meninggal. Evakuasi korban yang terluka telah dilakukan ke RS terdekat menggunakan Metro Mini. (Himawan Aji)

Terjadi Ledakan Diduga Bom di Terminal Kampung Melayu

Terjadi Ledakan Diduga Bom di Terminal Kampung Melayu

  Ledakan keras diduga berasal dari bom terjadi di kawasan halte busway di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017) malam ini sekitar pukul 21.00 WIB.

Ledakan terdengar cukup keras di kawasan tersebut. Asap tebal berwarna putih terlihat membumbung tinggi di sekitar lokasi ledakan.

Bom diduga dua kali meledak yakni pukul 20.58 WIB dan pukul 21.00 WIB.

Kondisi jalanan yang sedang padat pada malam ini langsung terlihat kacau usai ledakan tersebut terjadi. Warga berlarian dan beberapa polisi mengalihkan arus lalu lintas.

Dari ledakan tersebut terdapat dua korban yang salah satunya anggota polisi. Tim Gegana pun sedang menyisir lokasi ditemukan bom tersebut.

Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Andry Wibowo membenarkan adanya ledakan tersebut.

"Lagi di cek sama anggota, kalau ledakan bener tapi masih dicek anggota," ujar Andry saat dikonfirmasi, Rabu malam. (Himawan Aji)
Bangsa Indonesia Makin Toleran Jika Pemahaman Agama di Masyarakat Makin Dalam

Bangsa Indonesia Makin Toleran Jika Pemahaman Agama di Masyarakat Makin Dalam

Masyarakat bangsa Indonesia kembali melakukan introspeksi setelah kehidupan kebangsaanya sempat terusik akibat dipicu kasus penistaan agama dalam Pilkada DKI Jakarta lalu. Untuk kembali menemukan nilai toleransi sekaligus memperkuat perbedaan yang ada di bumi Indonesia, maka masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama, suku, adat, dan budaya, diminta untuk makin memperdalam pemahaman agama dari kitab sucinya masing-masing.

"Marilah kita tanamkan nilai-nilai agama kita masing-masing untuk kembali memperkuat jiwa Bhinneka Tunggal Ika. Agama itu mestinya mencerahkan dan agama turun untuk memanusiakan manusia sehinggga kita harus menebarkan kedamaian, kecerahan. Itu persis dengan yang disampaikan dalam Al Quran bahwa Allah memuliakan anak cucu Adam, bukan memuliakan orang islam saja," ujar Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar, MA saat menjadi keynote speaker Dialog Lintas Agama Dalam Rangka Pencegahan Paham Radikal Terorisme se-Wilayah Jawa Tengah di Solo, Rabu (24/5/2017).

Prof Nasarudin pun mendukung penuh tergelarnya dialog lintas agama ini. Menurutnya, dialog seperti ini harus terus dilakukan diberbagai tempat. Selama ini, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah melakukan kegiatan ini dan kebetulan kali ini Solo mendapat giliran sebagai tempat penyelenggaaraan.

Menurut mantan Wakil Menteri Agama ini, dialog seperti ini sudah pernah dilakukan Rasululloh Nabi Muhammad SAW dengan menggelar dialog lintas agama di masjid Madinah. Hal ini mencerminkan bahwa sejak awal islam telah mengembangkan budaya dialog untuk memecahkan sebuah masalah.

"Dengan terus mendalami dan mengamalkan nilai agama dalam koridor perbedaan, bangsa Indonesia pasti akan kebal dari berbagai pengaruh paham transnasional yang tujuannya ingin memecah belah NKRI.

Bahkan, lanjut Prof. Nasarudin, dalam islam, umat wajib menghormati dan mengurus mayat siapa saja tanpa melihat agamanya. Itu artinya, islam sangat menghormati perbedaan. Dengan demikian, bila ada orang yang mengatasnamaan islam, tapi begitu mudah menghilangkan nyawa manusia lain, dia bukanlah orang islam dan bukan pula disebut jihad.

"Jihad dalam islam itu untuk menghidupkan orang, jihad untuk meningkatkan martabat kemanusiaan, dan perekonomian masyarakat, bukan untuk menciptakan keonaran dan kesengsaraan. Dalam islam tidak ada paksaan. Kalau orang sudah tenang dengan agamanya, tidak usah diusik-usik. Urusan kesesatan agama itu biarlah jadi urusan Allah SWT," kata pria yang juga menjadi anggota Kelompok Ahli BNPT bidang agama ini.

Ia mengakui, masih ada di masyarakat yang mengusik akidah orang lain. Dan itu kembali ke hati masing-masing dalam menggunakan bahasa agama. Faktanya banyak contoh orang keliru dalam menggunakan bahasa agama sehingga menimbulkan persoalan besar seperti yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta.

"Betapa kalau kita menggunakan bahasa agama, akibatnya sangat besar. Hati-hati menggunakan bahasa agama, jangan gunakan untuk tujuan subyektif atau bisnis dengan memakai ayat atau hadits," katanya mengakhiri. (Adri Irianto)