Saturday, 4 April 2015

Akuisisi Helikopter EC725 Cougar untuk Kekuatan Laut Indonesia

Kekuatan udara Indonesia dalam beberapa waktu ke depan akan segera menerima sejumlah helikopter EC725 Cougar buatan Airbus Helicopters. Langkah kekuatan udara negeri ini semestinya segera diikuti dengan langkah serupa oleh kekuatan udara Angkatan Laut Indonesia.

Menilik kebutuhan operasi ke depan, kekuatan udara Angkatan Laut negeri ini sudah harus memiliki helikopter EC725 Cougar guna mendukung perannya. Mengapa pesawat sayap putar produksi Airbus Helicopters itu dibutuhkan oleh Penerbangan Angkatan Laut?

Salah satu tugas Penerbangan Angkatan Laut adalah mendukung terlaksananya operasi amfibi melalui GKK (Gerakan Kapal Ke pantai) Lintas Heli. Agar GKK Lintas Heli dapat memuat kekuatan dalam jumlah satu peleton per sorti setiap helikopter, suatu kemampuan yang tak dimiliki saat ini, diperlukan helikopter dengan daya muat yang cukup besar.

Pilihan untuk itu adalah helikopter EC725 Cougar atau yang sekelasnya. Kalau mengandalkan pilihan pada helikopter NBell-412 lisensi PT Dirgantara Indonesia, kekuatan yang dapat diangkut oleh pesawat sayap putar hanya kurang dari satu regu.

Kesempatan pengadaan helikopter angkut buatan Airbus tersebut pada tahun-tahun ke depan terbuka lebar karena pesawat sayap putar NBO-105 yang dulu diproduksi oleh PT IPTN akan segera pensiun.

Akan sangat baik bila penggantinya adalah EC725 Cougar, selain karena pertimbangan yang telah disebutkan sebelumnya, pula karena kekuatan laut Indonesia memiliki empat LPD yang mampu menjadi pangkalan sementara bagi helikopter penerus AS332 Super Puma itu.

Di samping itu, antara Airbus Defense & Security sebagai induk dari Airbus Helicopters juga memiliki kerjasama dan kemitraan yang kuat dengan PT Dirgantara Indonesia.

Selain China, Indonesia juga ditebengi oleh negara lain untuk membantu mengeluarkan warganya dari Yaman. Total ada empat negara yang meminta tolong yakni India, Sri Lanka, Singapura, dan Filipina.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan pemerintah tetap memprioritaskan WNI, agar bisa masuk ke dalam kapal yang telah disewa Indonesia dari Djibouti.

Serangan udara Arab Saudi kian digencarkan ketik menghadapi kelompok pemberontak al Houthi. Tim koalisi yang dipimpin Arab Saudi, bahkan pada Kamis kemarin menyebut bantuan berupa alutsista dijatuhkan dari udara oleh militer tersebut, agar diambil oleh pasukan yang loyalis terhadap Presiden Yaman.

Sementara itu, Arab Saudi yang memulai serangan udara pada 25 Maret lalu, menyebut hingga kini belum berencana untuk mengerahkan pasukan darat. Mereka menyebut tujuan dari serangan itu untuk melindungi pemerintahan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi.(DTT)



BAGIKAN

0 comments: