Saturday, 18 April 2015

Indonesia Minta Arab Saudi Hormati Hubungan Diplomatik

Pemerintah Indonesia meminta agar negara Arab Saudi kerajaan yang dipimpin Salman bin Abdulaziz Al Saud menghormati hubungan diplomatik kedua negara. Sebab bukan tidak mungkin sikap Arab Saudi dapat merusak hubungan diplomatik dengan Indonesia di kemudian hari.‎

‎"Indonesia tetap menghormati hukum di sana, tapi Arab Saudi juga harus bisa lebih menghormati hubungan kedua negara," kata Juru Bicara Kemenlu Indonesia, Arrmanatha Nasir (Tata) di kantornya, Jakarta, Kamis (16/4/2015).

Pernyataan Tata ini merespon sikap Arab Saudi yang telah dua kali berturut-turut tidak memberikan notifikasi atau pemberitahuan mengenai waktu dan tempat pelaksanaan hukuman mati dua warga negara Indonesia, Siti Zaenab binti Dhurin Rupa dan Karni binti Medi Tarsim.

Menurut Tata, begitu Arrmanatha biasa disapa, sikap Arab Saudi yang tertutup mengenai pelaksanaan hukuman mati, tidaklah lazim sebagaimana yang biasa dilakukan di dunia Internasional. Padahal, Indonesia sudah melakukan berbagai cara dengan tetap menghormati hukum berlaku di negara tersebut.

‎"Ke depan kami akan mencari jalan, paling tidak Arab Saudi bisa melakukan (penegakan hukum) yang senada dengan negara lain," kata Tata.‎

Migrant Care Minta Pemerintah Usir Dubes Arab Saudi
 Migrant Care menggelar aksi unjuk rasa menentang hukuman mati yang diberikan Pemerintah Arab Saudi kepada Pembantu Rumah Tangga (PRT) Indonesia asal Brebes, Karni binti Medi Tarsim.

Aksi yang bertempat di depan Kedutaan Besar Arab Saudi itu sebagai bentuk protes terhadap negara Saudi yang juga telah menghukum mati TKI Indonesia, Siti Zaenab, dua hari lalu.

"Pemerintah Saudi Arabia benar-benar bertindak brutal karena secara beruntun mengeksekusi mati buruh migran Indonesia dengan tidak mengindahkan tata krama diplomasi antarbangsa," ujar Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, saat berorasi di Kedubes Arab Saudi, Kuningan, Jakarta, Jumat (17/4/2015).

Anis menegaskan mengutuk aksi bejat Pemerintah Saudi itu yang menghukum mati tanpa pemberitahuan ke Indonesia.

Anis sendiri mengungkapkan bahwa perlakuan yang diterima Karni semasa bekerja di sana sangat tidak manusiawi. Bekerja 18 jam sehari, tanpa hari libur, dan terbatas akses komunikasi.

"Perlakuan majikan tidak manusiawi menjadi faktor utama yang melatari pembunuhan seperti dalam kasus Darsem, Ruyati, dan Siti Zaenab," beber Anis.

Dalam aksi tersebut, Migrant Care, menyerukan kalimat-kalimat bernada tidak simpatik ke Pemerintah Saudi. Anis Dkk juga menyerukan agar mengusir Kedubes Arab Saudi dari Indonesia.

"Usir, usir Kedubes (Saudi). Usir Kedubes (Saudi) sekarang juga," teriak massa bersamaan.

Sekedar informasi, Karni dijatuhi vonis hukuman mati sejak 2013. Karni didakwa membunuh putri majikannya yang baru berusia empat tahun pada Oktober 2012 di kota Yanbi, Arab Saudi.(Tribunnews)

BAGIKAN

0 comments: