Tuesday, 28 April 2015

Ketika SBY mulai gerah terus disindir Jokowi

Jokowi dan SBY (Sbr : Merdeka)
Jakarta (Zonasatu) - Hubungan Presiden ke 6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke 7 RI, Joko Widodo, selalu terlihat harmonis saat keduanya bertatap muka dalam sebuah acara. Tak ada kesan persaingan mengingat SBY, sapaan Susilo, pernah menjadi orang nomor satu di negara ini, dan Jokowi, sapaan Joko Widodo, sedangkan menjadi Presiden RI.

Tapi keakraban yang terekam dalam bidikan kamera itu sering berbeda ketika keduanya berada dalam panggung terpisah. Keduanya beberapa kali terlibat saling sindir kinerja.

Hal lumrah sebenarnya. SBY sebagai pendahulu merasa lebih paham kondisi negara. Sebaliknya Jokowi sebagai pendatang baru coba melakukan gebrakan.

Seperti yang terjadi baru-baru ini. Saat menghadiri Hari Ulang Tahun PMII ke-55 di Masjid Nasional Al-Akbar Kota Surabaya, Jokowi sempat mengatakan dirinya siap menjadi tak populer gara-gara kebijakan pemerintahannya yang bertentangan dengan masyarakat. Memang, saat ucapan itu dia lontarkan, Jokowi tengah disorot karena kebijakannya menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Kebijakan Jokowi membuat rakyat menjerit. Apalagi, kenaikan BBM membuat harga sejumlah bahan pokok ikut naik. Tapi Jokowi nekat dan punya alasan kenapa kebijakan itu harus dia lakukan.

"Kenapa yang dulu-dulu tidak berani melakukan ini, karena masalah popularitas," kata Jokowi, saat itu.

Jokowi memang tak menunjuk langsung siapa orang yang dia maksud takut kehilangan popularitas. Tapi jelas itu mengarahkan ke SBY karena saat pemerintahannya berkuasa tidak segera mengalihkan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke subsidi yang lebih bersifat produktif.

Pada kesempatan itu, Jokowi menyampaikan tekadnya yang meski sulit terus dilaksanakan yakni dalam hal pengalihan subsidi BBM. Jokowi mengklaim bila pemerintahannya mengalihkan subsidi BBM senilai Rp 300 triliun per tahun yang konsumtif ke subsidi yang produktif.

Jokowi mengaku sudah banyak diingatkan jika menerapkan kebijakan pengalihan subsidi BBM dari konsumtif ke produktif maka popularitasnya akan jatuh. Namun, Jokowi tak menghiraukannya.

"Tapi, saya sampaikan bahwa itu risiko sebuah keputusan," tegasnya.

Apalagi, ia menyadari Indonesia sedang dalam kondisi ekonomi yang sulit akibat tekanan ekonomi global. Meski demikian, Jokowi menegaskan hal itu tetap perlu dilakukan untuk membuat subsidi yang diberikan kepada rakyat tepat sasaran.

"Karena Rp 300 triliun setiap tahun subsidi BBM yang menikmati adalah mereka yang punya mobil. Subsidi ini apa tidak terbalik. Inilah proses untuk tepat sasaran," tutup Jokowi.

Tak cuma itu, Jokowi pun pernah menyindir SBY lewat akun Facebooknya. Kala itu Jokowi membuat tulisan soal kepemimpinan. Jokowi mengatakan basis kepemimpinan dalam demokrasi adalah kepercayaan.

"Dan kepercayaan itu dibangun di antaranya oleh rekam jejak, ketulusan hati dan kesungguhan dalam bekerja," tulisnya.

Jokowi juga membandingkan kepemimpinan yang dipercaya dengan kepemimpinan tirani. Menurutnya, kepemimpinan yang dipercaya diperoleh melalui kesadaran rakyat atas tujuan tujuan negara.

"Sementara kepemimpinan tirani adalah membungkam kesadaran rakyat bisa itu dengan bayonet atau pencitraan tanpa kerja," katanya.

Meski biasanya membalas lewat tulisan di Facebook, kali ini SBY lebih lantang menjawab sindiran yang dilontarkan Jokowi. Saat akan menutup Rapimnas IMDI, di sebuah hotel kawasan Sudirman, SBY sempat menyampaikan pesan kerasnya buat Jokowi.

Kepada Jokowi, dia berpesan agar tidak selalu menyalahkan kebijakan-kebijakan pemerintahan sebelumnya. Dirinya meminta Jokowi fokus memahami segala macam permasalahan negara, dan mencari solusi pemecahan serta pembenahannya bagi kepentingan bangsa Indonesia hari ini.

"Rakyat akan senang kalau pemerintahan hari ini tidak terlalu sering menyalahkan pemerintahan yang terdahulu. Setiap pemerintahan pasti ada tantangannya masing-masing," kata SBY, kemarin. 

Dia minta Jokowi fokus saja bekerja dengan pemerintahannya saat ini. Menurutnya, banyak masalah bangsa yang butuh perhatian daripada sekadar mengkritik pemerintahan di masa lalu.

"Fokus saja kepada Pak Jokowi, dan tidak perlu lagi menyalahkan pemerintahan pendahulunya, termasuk kepemimpinan saya dulu," katanya menambahkan.

SBY berharap agar pemerintahan Jokowi- JK bisa melanjutkan hal-hal yang belum sempat selesai pada masa pemerintahannya, dan memperbaiki hal-hal lainnya yang belum sempurna untuk kebaikan dan kepentingan bangsa Indonesia.

Dirinya juga berharap, agar pemerintahan Jokowi- JK bisa mencetak lagi prestasi membanggakan lainnya bagi negara, demi naiknya harkat dan martabat bangsa Indonesia ke depannya.

"Harapan kita dari Pak Jokowi adalah apa yang sudah dijalankan pendahulunya, termasuk yang susah payah kita jalankan selama 10 tahun lalu, jagalah. Tidak perlu ditinggalkan dan dibuang kesana kemari. Itu seruan moral Partai Demokrat," kata SBY.

"Tapi jika ada yang belum baik, silakan diperbaiki. Karena kita berharap 5 tahun ini pemerintahan Jokowi-JK juga bisa mencatat prestasi yang baru," pungkasnya.(Merdeka)

BAGIKAN

0 comments: