Sunday, 12 April 2015

Masih Ada Daerah Kekurangan Soal

JAKARTA – Kesiapan ujian nasional (unas) tingkat sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat belum 100 persen. Hingga dua hari menjelang pelaksanaan unas (11/4), keluhan kekurangan berkas soal dan lembar jawaban masih banyak di daerah.

Keluhan itu datang dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Dispendik Bengkulu menyebut, kekurangan berkas soal dan lembar jawaban di daerah mereka mencapai 122 amplop. Beda lagi dengan Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Bidang Pendidikan Menengah Umum dan Kejuruan Dispendik Lamongan melaporkan kekurangan lembar soal dan jawaban hingga dua amplop. Satu amplop memiliki perbedaan jumlah isi. Biasanya, satu amplop berisi 20 lembar soal beserta lembar jawaban.

Saat dikonfirmasi, pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak menyangkal. Bahkan, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud Nizam Zaman menyatakan, ada daerah lain, selain Rejang Lebong dan Lamongan, yang mengalami hal serupa. Antara lain, Jawa Tengah, Sulawesi, dan Jawa Barat.

”Memang biasanya kan baru dihitung H-2. Jadi, laporan baru masuk. Tapi, untuk Bengkulu, saya konfirmasi. Alhamdulillah bukan 122 amplop, tapi hanya satu,” kata Nizam saat dihubungi Sabtu (11/4).

Nizam menyebut hal itu biasa terjadi. Kesalahan penghitungan dalam pengepakan lembar soal dan jawaban menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, diduga ada kesalahan data yang dikirim oleh pihak sekolah kepada Kemendikbud. ”Tak jarang, mereka salah memasukkan jumlah peserta untuk IPA berapa, IPS berapa. Kadang jumlah peserta unas IPA tertukar dengan IPS,” tutur dia.

Meski demikian, menurut Nizam, itu bukanlah hal besar yang perlu dikhawatirkan. Sebab, seluruh kekurangan segera dipenuhi pihak percetakan. Dia menyatakan, pihak dinas pendidikan kota-kabupaten cukup melapor kepada dinas provinsi. Setelah itu, provinsi segera mengabarkan hal tersebut kepada Kemendikbud. Selanjutnya, pihaknya akan menghubungi percetakan agar kekurangan lembar soal dan jawaban itu segera dikirim.

Untuk daerah terpencil, lanjut dia, pihak percetakan telah mengirim cadangan berbarengan dengan pengiriman lembar soal dan jawaban unas. Dengan catatan, cadangan tetap diawasi secara khusus dan baru diserahkan pada hari H. ”Jadi, kami minta semua pihak tidak panik. Karena semua dapat teratasi,” ucap dia.

Atas masalah yang terus terulang tiap tahun itu, Nizam enggan dibilang tidak becus. Menurut dia, human error akan sangat sulit untuk dihindari. Selain itu, tambah dia, persentase kekurangan lembar soal dan jawaban sangat rendah. ”Dari 3,5 juta amplop, paling hanya sekitar 100 amplop yang kurang. Tentu tidak bisa dibilang kebobolan. Jumlahnya juga terus menurun,” ungkapnya.

Kurangnya jumlah lembar soal dan jawaban itu memunculkan spekulasi tentang adanya unsur kesengajaan. Ada pihak yang sengaja menyisihkan lembar soal untuk kemudian dapat digunakan berbuat curang. Misalnya untuk bocoran soal atau jawaban bagi para siswa peserta ujian. Tujuannya, tentu nilai siswa dapat didongkrak. Meskipun saat ini nilai unas tak lagi menjadi tolok ukur kelulusan.

Nizam menegaskan telah mengantisipasi hal tersebut. Karena itu, Tim monitoring Kemendikbud telah dikirim ke seluruh provinsi untuk melakukan pengawasan sejak Jumat (10/4). ”Selain itu, ada indeks integritas. Jadi, akan ketahuan kalau ada yang curang,” terangnya.

Namun, jika tindak kecurangan benar terjadi, Nizam menegaskan bahwa Kemendikbud tidak akan segan-segan menjatuhkan sanksi. Bukan hanya sanksi administratif, Kemendikbud juga tidak akan ragu menyeret kasus tersebut ke ranah hukum.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan justru mewanti-wanti orang tua murid agar tidak menekan anak. Tekanan itu dimaksudkan pada proses belajar yang melebihi batas wajar. Misalnya belajar hingga tengah malam. ”Bapak-Ibu jangan marahi anaknya kalau malam menjelang unas tidak belajar,” kata dia saat ditemui di Bogor kemarin.


Anies justru menyarankan para siswa beristirahat. Menurut dia, para siswa cukup belajar keras hingga Sabtu malam. Lalu, pada Minggu (12/4), siswa cukup baca-baca santai. ”Lalu, malamnya tidur cukup, delapan jam. Jadi, pagi saat ujian, kondisi fresh dan siap ujian,” tuturnya.(Jawapos)

BAGIKAN

0 comments: