Sunday, 26 April 2015

Menanti realisasi hasil KAA

Presiden Jokowi menandatangani Monumen Solidaritas Asia Afrika (Sbr : Setneg)
Jakarta (Zonasatu) - Gedung Merdeka di Bandung menyimpan cita-cita besar para pemimpin dunia pada Konferensi Bandung enam puluh tahun lalu.

Sampai kini pun salah satu tonggak besar sejarah global itu tetap mengilhami dan menyemangati lebih dari 5/7 penduduk dunia yang memang hidup di dua benua ini. 

"Dahulu, di dalam ruangan ini, hadir para pendahulu kita yang menginspirasi dunia," kata Presiden Joko Widodo dalam sambutan saat memperingati 60 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jumat.

Presiden ketujuh Repubik Indonesia itu meneruskan, "di ruangan ini, semangat sang inisiator, pemimpin besar Soekarno masih menggema. Gelora perjuangan Pemimpin Besar Jawahral Nehru terasa masih menyala. Semangat solidaritas Pemimpin Besar Mohammad Ali Bogra terasa belumlah padam. Cita-cita suci Pemimpin Besar Sir John Kotelawala untuk memakmurkan rakyatnya terasa masih menggema."

Orang-orang yang disebut Presiden Jokowi itu memang membawa pesan-pesan agung yang kekal bagi kemanusiaan dan kebangsaan di mana saja.  Pesan yang tak hanya cita-cita, namun  juga membawa semangat kemanusiaan yang universal yang dunia merangkumnya sebagai Semangat Bandung itu.

Banyak negara terjajah atau terdiskriminasikan di dua benua ini, misalnya para pejuang anti-apartheid di Afrika Selatan, yang semakin meletup-letup semangatnya untuk hidup merdeka, adil dan sejahtera, sampai akhirnya memasuki masa merdeka yang dicita-citakan dan diikrarkan para negarawan pendahulu seperti disebut Presiden Jokowi itu.

Presiden Jokowi bahkan menyebut cita-cita para negarawan pendahulu itu lebih besar dari zamannya yang enam puluh tahun mereka ikrarkan tetap relevan di era kini karena memang pokok sekali bagi kemanusiaan dan kebangsaan. Apalagi, bagi sebagian bangsa, Palestina misalnya, hidup merdeka, berdaulat, adil dan sejahtera masih menjadi angan-angan.

Kendati sebagian kecil negara di dua benua ini sudah lebih makmur dan perlahan menyusul pencapaian negara-negara maju, aral terus melintang, menuntut solidaritas negara-negara Asia-Afrika guna semakin merapatkan barisan, bahu-membahu menciptakan perdamaian dunia dan kemerdekaan.

Aral melintang itu dengan jelas dipesankan para pemimpin Asia Afrika 60 tahun kemudian di Jakarta dan Bandung kini. Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika yang digelar pada 19 April hingga 23 April di Jakarta membawa pesan kepada dunia bahwa kondisi  kehidupan dunia masih tidak seimbang, jauh dari keadilan, jauh dari perdamaian.

Tantangan terus menghadang Asia Afrika. Salah satu tantangan itu adalah jumlah penduduk yang besar yang mencapai 5,5 miliar jiwa atau 75 persen dari penduduk dunia yang pasti menciptakan masalah dalam pemerataan dan distribusi ekonomi, serta manajemen nasional, yang ujung-ujungnya menjadi sumber kemiskinan, keterbelakangan dan konflik itu. Tantangan lain adalah tingginya inflasi yang ada di atas rata-rata inflasi dunia.

Semua pemimpin dua benua ini menyadari tantangan ini sehingga tidak heran jika pada Peringatan 60 Tahun KAA ini mereka mengiangkan lagi untuk menggelorakan lagi Semangat Bandung tentang hidup damai, merdeka dan sejahtera itu.

Langkah-langkah pun disusun untuk menindaklanjuti skema kerjasama nyata yang tercantum dalam Deklarasi Penguatan Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (NAASP).

"Kita menyadari bahwa cita-cita kita harus diraih melalui kerja sama, harus bermitra secara sejajar dengan negara lain. Sekali lagi, bekerja sama secara sejajar, dengan sahabat-sahabat dari negara-negara lain," kata Presiden Jokowi.

Bahu membahu makmurkan Asia Afrika


Selama dua hari di Jakarta para pemimpin dua benua itu merumuskan pesan-pesan kerja sama yang lebih kuat dan menjadi pondasi bagi langkah-langkah pembangunan antarbangsa selanjutnya yang lebih mengikat dan bisa terimplementasikan.

Setelah itu, pada akhirnya kembali ke Bandung, ke pusat semangat kebangkitan Asia Afrika, tidak saja demi menapaktilasi semangat agung nan luhur itu, namun juga sebagai simbol betapa bangsa-bangsa di dua benua ini merasakan kesamaan, kesatuan, dan kekuatan yang kerap tidak disadarinya, sekaligus diabaikan oleh kekuatan-kekuatan dominan politik dan ekonomi internasional.

Untuk itulah, pada akhir rembug akbar ini mereka berada di Bandung, di Gedung Merdeka, tempat persatuan dan solidaritas Asia Afrika ditemukan dan direkatkan itu. Mereka menapaktilasi perjalanan para pendahulunya di sana.

22 kepala negara-pemerintahan atau perwakilan dan delegasi Asia Afrika pun berjalan kaki dari Hotel Savoy Homann menuju Gedung Merdeka melalui Jalan Asia Afrika, Bandung, untuk napak tilas itu.

Selanjutnya, Presiden Joko Widodo, Presiden Tiongkok Xi Jinping yang didapuk menjadi wakil Asia dan Raja Swaziland Mswati III mewakili Afrika secara simbolik menandatangani dokumen Bandung Message 2015.

Bandung Message 2015 adalah dokumen berisi visi yang ingin dicapai negara-negara Asia-Afrika yang dalamnya juga memuat deklarasi Bandung sebagai kota Hak Asasi Manusia.

Selain Bandung Message, KAA ke-60 juga mendeklarasikan dokumen NAASP yang berisi kerangka kerja implementasi dan tindak lanjut Bandung Message.

Dokumen ketiga yang dipromosikan Asia-Afrika adalah Deklarasi Palestina yang berisi delapan poin yakni menyampaikan dukungan kepada Palestina untuk meraih kemerdekaan, rasa salut atas perjuangan dan ketabahan Palestina, mendorong solusi dua negara, mengutuk perlakuan Israel sebagai penjajah dan mengutuk serangan Israel.

Kemudian, mendorong rekonstruksi Gaza, mendorong realisasi aplikasi Palestina sebagai anggota PBB, dan mendorong negara-negara di Asia-Afrika yang belum mengakui Palestina sebagai negara untuk segera melakukannya.

Palestina menjadi salah satu subjek besar Asia Afrika karena mungkin akan sangat memalukan jika tidak ditegaskan pada forum yang awalnya memang ditujukan untuk mengakhiri dekolonisasi dan mendorong kemerdekaan bangsa-bangsa itu. 

Perdana Menteri Mesir Ibrahim Mahlab sampai berkata, para pemimpin Asia-Afrika tidak akan dapat beristirahat dengan tenang sebelum Palestina mendapatkan kemerdekaan.

"Kita tidak akan pernah melupakan Palestina dan pemimpin kita tidak akan bisa tenang hingga penderitaan bangsa Palestina yang dijajah oleh bangsa lain berakhir," katanya di hadapan 21 kepala negara/pemerintahan negara Asia-Afrika saat acara puncak sekaligus penutupan Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka itu.

Ibrahim Mahlab yang menjadi wakil Afrika untuk memberikan pidato dalam acara itu menilai, bangsa Asia-Afrika memiliki hak sama atas kemerdekaan dan berdaulat seperti telah diserukan para pendiri KAA pada 1955 dalam Dasasila Bandung.

Faktanya, setelah 60 tahun berlalu, Palestina masih tertinggal dari bangsa Asia-Afrika lain karena belum merdeka setelah tertindas selama hampir 70 tahun.

Mesir bahkan menyeru semua pemimpin Asia-Afrika untuk bekerja sama demi segera mewujudkan cita-cita kemerdekaan Palestina. "Semangat Bandung akan terus menerangi kita untuk mendapatkan kemerdekaan dan kemakmuran bagi Palestina," kata Mahlab.

Sementara itu, Presiden Zimbabwe Robert Mugabe yang mewakili Uni Afrika menyuarakan perlunya meningkatkan interaksi antar Asia-Afrika yang tak terbatas hanya pada urusan ekonomi dan perdagangan.

 "Solidaritas antara Asia dan Afrika harus dilandasi oleh interaksi antarmasyarakat secara langsung, terutama kontak budaya," kata Mugabe.

Dia juga mengatakan, banyak kemungkinan lain untuk menjalin kerja sama, tidak hanya dalam bidang ekonomi dan perdagangan saja. Walaupun Presiden Mugabe mengakui negara-negara Afrika masih tertinggal secara ekonomi dibandingkan dengan negara-negara Asia.

"Kita harus berjuang bersama untuk memperbaiki situasi yang tidak berkelanjutan ini. Solidaritas dan persahabatan antarmasyarakat harus ditingkatkan, dalam konteks sebagai wujud perjuangan melawan kolonialisme misalnya," kata Mugabe.

Presiden Jokowi sendiri kembali menegaskan agar semangat Konferensi Asia-Afrika terus diperjuangkan bersama-sama dan juga di masing-masing negara.

"Mari kita lanjutkan perjuangan para pemimpin kita 60 tahun yang lalu. Kita harus meningkatkan saling pengertian, dan mewujudkan perdamaian dunia. Segala bentuk kekerasan harus dihentikan. Kemerdekaan Palestina harus terus kita perjuangkan. Kita harus bahu-membahu meningkatkan kemakmuran rakyat kita melalui kerjasama ekonomi dan perdagangan," kata Presiden Jokowi.

Rangkaian retorika telah disampaikan. Itikad dan cita-cita telah dikristalisasikan dalam dokumen-dokumen.  Kesalingpengertian antarbangsa telah dirintis dan dikuatkan, setidaknya lewat empat hari rembug intensif para pemimpin dan pejabat teras puluhan negara dua benua.

Setelah enam puluh tahun, Semangat Bandung telah kembali digemakan. Kini saatnya bangsa-bangsa Asia-Afrika memacu diri untuk sejajar dengan bangsa-bangsa maju di belahan dunia lain.

Kini, saatnya menunggu dokumen-dokumen berisi cita-cita, semangat dan peta jalan untuk merdeka, sejajar, makmur, sejahtera dan damai itu direalisasikan.(Antara)

BAGIKAN

0 comments: