Thursday, 23 April 2015

Panglima TNI: Intelijen Harus Miliki Kapasitas dan Kapabilitas Prima

Panglima TNI Jenderal Moeldoko
Panglima TNI Moeldoko mendorong prajuritnya, khususnya yang berada dalam bidang tugas intelijen agar terus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas. Prajurit intelijen harus mampu tunjukkan kemampuan dan kapabilitas yang prima dengan menyediakan informasi yang benar.

"Manajemen dan Analisis Intelijen TNI dituntut untuk menyediakan informasi, data, pengetahuan, yang sempurna untuk memenuhi kebutuhan perencanaan dan pengambilan keputusan. Masukan intelijen TNI yang baik, akan menghasilkan perencanaan yang baik dan pengambilan keputusan yang tepat," kata Moeldoko pada pembukaan Sekolah Manajemen dan Analisis Intelijen TNI Angkatan II Tahun 2015 di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Senin (20/4).

Ia meminta Sekolah Manajemen dan Analisis Intelijen TNI agar melakukan konsolidasi dan sinergitas seluruh jajaran Intelijen TNI. Hal itu sangat perlu untuk menuju transformasi Institusi Intelijen Militer yang modern dan memiliki kesadaran serta analisis yang kuat terhadap setiap pergerakan lingkungan strategik.

"Tanpa masukan intelijen yang baik, tidaklah mungkin membuat suatu rencana atau strategi raya, atau strategi keamanan nasional, yang memenuhi kriteria feasible, acceptable, suitable. Semua arsitek perencanaan strategik sangat paham apa arti knowledge is power," ujarnya.

Dia menekankan kepada Sekolah Manajemen dan Analisis Intelijen TNI dan seluruh perwira siswa untuk mengarahkan segenap pemikiran pada upaya membangun arsitektur Intelijen TNI yang baru. Langkah awal pada aspek manajemen adalah hilangkan dikotomi dengan adanya nama Intelijen Strategis, Intelijen Taktis, dan Intelijen Teritorial.

Menurutnya, adanya dikotomi tersebut telah menjadikan Intelijen TNI terkotak-kotak, yang berdampak pada tumbuhnya ego sektoral dan melemahkan kemampuan intelijen TNI.

"Manajemen harus mampu menata potensi Intelijen TNI dari seluruh matra menjadi kekuatan utuh, dengan menata kedudukannya sesuai arah kepentingan," tegasnya.

Dia menambahkan, intelijen TNI tidak boleh membatasi hanya pada dimensi pengamanan dan sektoral, tetapi lebih luas pada sektor ideologi, politik, sosial, budaya, ekonomi, perdagangan, perbankan, dan sektor lainnya yang bersifat nasional dan internasional.

Sekolah Manajemen dan Analisis Intelijen TNI Angkatan II Tahun 2015, diikuti oleh 33 peserta terdiri dari Angkatan Darat 28 personel, Angkatan Laut 2 personel, dan Angkatan Udara 3 personel.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Kasum TNI Marsdya TNI Dede Rusamsi, Wakasad Letjen TNI M. Munir, Wakasal Laksdya TNI Widodo, Wakasau Marsdya TNI Bagus Puruhito, Irjen TNI Letjen TNI Syafril Mahyudin, Dansesko TNI Letjen TNI Sony Wijaya, para Asisten Panglima TNI, Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya dan beberapa pejabat teras Mabes TNI dan Angkatan.(BeritaSatu)

BAGIKAN

0 comments: