Thursday, 23 April 2015

Story : Zaman Perang Dunia II Jika Upacara Siswa Harus Menghadap ke Tokyo

Abdul Muis
Salah seorang warga Indonesia, Abdul Muis (87) yang berpengalaman menghadapi Jepang saat perang dunia kedua (PDII) dan sekolah Jepang di Jakarta saat itu, mengungkapkan bahwa setiap kali murid sekolah melakukan upacara di lapangan sekolah, berdirinya harus menghadap ke Tokyo.

"Kalau dulu saat sekolah dasar di Indonesia, apabila upacara pagi, anak-anak berdiri harus menghadap ke arah Tokyo dan bendera Jepang dikibarkan di sekolah," papar Abdul Muis kepada wartawan TV Jepang, NTV dalam acara yang disiarkan (21/4/2015).

Selain itu murid sekolah Indonesia jaman PDII saat Jepang ada di Indonesia, diharuskan selalu menyanyikan lagu Kimigayo.

"Kita masih ingat lagu Kimigayo karena selalu menyanyikan lagu itu saat masih sekolah dulu," paparnya lagi.

Pada hakikatnya banyak latihan olahraga seperti Taisho dan sebagainya, tambahnya lagi.

"Saya kira kalau Jepang datang harga murah ternyata tidak. Takut0takut juga melihat tentara Jepang datang."

Kita dari rumah bisa lihat ayah dipukul, "Saya takut dan dongkol juga sedangkan saya tak bisa berbuat apa-apa."

Seorang wanita Jawa Indonesia, Kaya (97) yang juga merasakan kerja paksa Jepang, Romusha, juga mengungkapkan sediih sekali ikut dalam kerja paksa tersebut karena banyak yang meninggal saat itu.

Wartawan NTV juga mendatangi sekolah SMKN 29 Jakarta dan meminta komentar para murid di sana, "Saya miris mengetahui adanya Romusha tersebut dari buku pelajaran yang ada. Kita tak mau ada perang lagi. Keadaan sekarang sudah enak damai dan kita mau dipertahankan seperti ini saja," papar dua murid sekolah tersebut yang mengomentari mengenai Romusha.(Tribunnews)

BAGIKAN

0 comments: