Thursday, 14 May 2015

Gunakan Kurir, Politikus PDIP Diduga 4 Kali Terima Suap

Anggota Komisi IV DPR Fraksi PDIP Adriansyah
Zonasatu.co.id - Anggota Komisi IV DPR Fraksi PDIP sekaligus mantan Bupati Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel) Adriansyah ternyata menerima suap empat kali lewat kurir anggota Polsek Metro Menteng, Jakarta Pusat, Brigadir Polisi Satu (Briptu) Agung Krisdianto. Selain itu ada kurir lain yang dipakai Adriansyah.

Seorang sumber di internal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan, penerima suap setara Rp500 juta Adriansyah dari tersangka Direktur PT Mitra Maju Sukses (MMS) Andrew Hidayat melalui Brigadir Agung, Kamis 9 April 2015 malam bukan penerimaan pertama kali.

Ternyata, Adriansyah menerima suap melalui Brigadir Agung sebanyak empat kali termasuk saat operasi tangkap tangan (OTT) pada Kamis  malam. Masing-masing dengan nominal yang hampir sama, sekitar Rp500 juta. Artinya jumlah total yang diterima Adriansyah melalui Brigadir Agung mencapai Rp2 miliar.

"Brigadir AK (Agung Krisdianto) sudah mengakui itu pas diperiksa penyidik. Dia bilang empat kali. Nominalnya hampir sama dengan waktu OTT," kata sumber kepada KORAN SINDO, awal pekan kedua Mei 2015.

Pada Kamis 9 April, sesaat setelah menerima uang dari Andrew di Jakarta sebelum penangkapan, Brigadir Agung lebih bertandang ke money changer untuk menukarkan uangnya.

Karena itulah saat penangkapan Adriansyah dan Andrew di sela-sela Kongres IV PDIP, Bali, Kamis (9/4) malam, di Hotel Swiss-Belresort Watu Jimbar, Sanur, Bali, penyidik menemukan amplop cokelat berisikan uang, dengan rincian 40 lembar pecahan 1000 dollar Singapura, 485 lembar pecahan Rp100.000, dan 147 lembar pecahan Rp50.000.

"Waktu itu memang sudah diikuti. Setelah penyerahan AH (Andrew Hidayat) ditangkap di hotel sekitar Senayan, Jakarta, A (Adriansyah) dan AK di Hotel Swiss-Belresort, Bali," papar sumber.

Selain Brigadir Agung, KPK menemukan Adriansyah pernah menggunakan seorang kurir bernama Suparta (wiraswasta) untuk mengambil uang suap dari PT MMS. Jumlah pengambilannya beberapa kali dengan nominal hampir sama (sekitar Rp500 juta) dan variatif.

Pada Rabu (29/4) penyidik sebenarnya menjadwalkan pemeriksaan terhadap Suparta. Tapi yang bersangkutan tidak hadir karena surat panggilan pemeriksaan kembali ke kantor KPK. Suparta ternyata sudah berganti alamat. KPK masih melacak alamat baru Suparta guna melayangkan panggilan ulang.

"Suparta juga pernah digunakan A (Adriansyah) sebagai kurir untuk ambil uang," tegas sumber tadi.

Selain itu, diduga rekening Bambang Alamsyah sering kali digunakan Adriansyah untuk menampung uang suap baik sebelum maupun setelah menjabat sebagai bupati tanah laut dua periode, 2003-2008 dan 2008-2013.

Adriansyah bahkan diduga ikut mempengaruhi atau meminta Bambang selaku bupati aktif 2013-2018 untuk melanggengkan pengusahaan bisnis PT MMS dan/atau group, salah satunya izin usaha pertambangan (IUP) barubara.

Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha menyatakan, belum mengetahui berapa jumlah total penerimaan suap Adriansyah meski Wakil Ketua KPK Zulkarnain sebelumnya sudah menyatakan, Adriansyah menerima suap sejak 2009.

Penyidik tutur dia, masih berusaha memastikan berapa jumlah total penerimaan suap Adriansyah. Selain itu juga ditelusuri bagaimana cara penerimaan suap Adriansyah, berapa kali penerimaan lewat kurir anggota Polsek Metro Menteng, Jakarta Pusat Brigadir Polisi Satu (Briptu) Agung Krisdianto, di mana saja, dan apakah ada kurir lain.

Dia juga belum bisa memastikan apakah rekening Bupati Tanah Laut 2013-2018 Bambang Alamsyah digunakan sebagai penampung uang suap Adriansyah.

"Saya cek dulu. Belum ada informasi dari penyidik soal kurir lain tersangka A. Berapa kali lewat Brigadir Agung itu juga saya belum tahu. Itu penyidik yang dalami dan telusuri," tandas Priharsa.(SindoNews)

BAGIKAN