Thursday, 28 May 2015

Peran Media Nasional dalam Penciptaan Sinetron Politik

Jaringan media internasional (Illustras
Dalam mendukung suatu drama politik, media tidak segan-segan menerbitkan berita-berita bohong alias hoax. Koran New York Times (NYT) misalnya, selama konflik Ukraina selalu menyuguhkan berita-berita yang menyudutkan pemerintah Rusia, seperti pemberitaan bahwa pasukan khusus Rusia bergerak di timur wilayah Ukraina. Pemberitaan ini jelas dibantah Rusia. Kebohongan lain yang dilakukan NYT misalnya menyebut Presiden Vladimir Putin memiliki kekayahaan rahasia sebesar $40-$70 juta dollar.

Contoh lain rekayasa berita dilakukan oleh CNN, ketika rejim Saddam Husein jatuh, publik dunia melihat rakyat Irak ramai-ramai meruntuhkan patung Saddam Husein seolah-olah sebagai ekspresi gembira mereka terbebas dari tirani. Fakta sebenarnya adalah, peristiwa tanggal 9 April 2003 terjadi atas perintah seorang Kolonel Marinir Amerika dan bukan aksi spontan rakyat pada waktu itu. Prosesi peruntuhan patung itu lalu dimanfaatkan oleh seorang perwira intelijen militer Paman Sam untuk mempropagandakan bahwa rakyat Irak senang dengan kejatuhan Saddam.

Bagaimana bisa media melakukan kebohongan? Tetapi jika merujuk kembali pada peran media sebagai lembaga politik dan memiliki hubungan dengan intelijen, kebohongan itu tampak menjadi “sah-sah” saja.

Mewaspadai Drama Politik
Drama politik tidak saja bisa dibuat atau diciptakan media-media konvensional, kini dengan hadirnya internet, media-media cyber dapat menyodokkan krisis politik secara massif. Contoh saja kasus perkosaan massal gadis Tionghoa pada rusuh Mei 1998 lalu, Selang beberapa waktu dari kerusuhan yang banyak menelan korban meninggal itu, tiba-tiba muncul berita ratusan amoy diperkosa. Padahal tak ada satu wartawan pun yang mendapatkan berita itu, meski mereka tersebar di berbagai pelosok tempat kejadian. Lantas darimana sumbernya, sehingga tak ada wartawan yang tahu?

Usut punya usut, ternyata awal ceritanya juga bermula dari internet. Di salah satu news group (news: soc.culture.indonesia) di internet dikutip cerita pengakuan seorang perempuan bernama Vivian serta beberapa perempuan keturunan Cina lain yang diperkosa ramai-ramai oleh orang pribumi. Yang keterlaluan, dikisahkan para hidung belang itu berkata, "Kamu diperkosa karena kamu Cina dan non muslim," lantas bertakbir sebelum memperkosa.

Celakanya, cerita seperti ini dipercaya begitu saja oleh kalangan pers dengan mem-blow up besar-besaran. Padahal berbagai media itu juga tidak berhasil mendapatkan perempuan-perempuan yang menjadi korban, seperti halnya kalau wartawan koran kriminal memberitakan kasus pemerkosaan biasa.

Para aktivis feminisme seperti mendapat durian runtuh ketika mendapakan issu ini. Mereka sibuk menggerakkan demo menentang perkosaan massal yang tidak jelas siapa dan dimana korbannya itu. Lantas membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bersama berbagai pihak lain untuk menyelidikinya.

Meski demikian, issu itu terus menggelinding hingga ke luar negeri. Surat kabar Sidney Herald Tribune dan New York Times yang bertiras besar tak ketinggalan memuat issu ini pula. Membuat citra buruk di dunia internasional bahwa orang Indonesia biadab.

Keraguan akan benar-tidaknya isu perkosaan amoy itu pun diungkapkan sebuah artikel di Asian Wall Street Journal yang berjudul “Some Indonesia Rape Photos on the Internet Are Frauds” ditulis oleh  dua orang reporter Wall Street Journal, Jeremy Wagstaff dan Jay Solomon. Sekarang artikel tersebut sudah tidak didapati, kecuali jika anda mengakses arsip rtikel itu selengkapnya dapat dibaca di situs IHCC : http://reocities.com/capitolhill/4120/false.html.

Contoh lain peran media dalam memojokkan Indonesia atau menggiring langkah-langkah pemerintah, yaitu ketika Krisis Moneter 1998. Tepatnya bulan Januari 1997, ketika rupiah mengalami fluktuasi tak terkendali antara 7.100 – 7.800 per dollar dalam satu hari, dua bank Indonesia membeli rupiah dalam jumlah besar, tindakan tersebut berhasil menurunkan rate kurs di bawah 7.000 untuk sementara. Anehnya, Far Eastern Economic Review mengkritik upaya pemerintah Indonesia menyelamatkan perekonomian negaranya sendiri dengan menyebutnya sebagai "upaya terang-terangan untuk mendistorsi pasar." Tindakan Indonesia ini pun membuat marah para spekulan : dalam beberapa hari rupiah jatuh lebih dari 8.000 terhadap dolar, dan lebih dari 10.000 pada pertengahan Maret 1997.

Skema peran itulah yang akan terus diulangi oleh media-media, terutama media asing, dalam kultur global yang telah kehilangan batas-batas geografisnya, informasi dapat menjadi senjata mematikan terlepas dari benar atau tidaknya informasi tersebut. Di Jerman, para pelajar dan mahasiswa Indonesia dengan bebas mengunduh tulisan-tulisan Aditjondro lalu menyebarluaskannya tanpa proses kroscek terlebih dahulu.

Masalahnya, menurut sosiolog UI yang juga pengamat internet Imam B Prasodjo, dalam dunia riil kerap terjadi ketidaksetaraan penguasaan informasi (unequal information). Kelompok kuat (dominant group) memiliki akses untuk menyebarkan informasi, sementara kelompok lemah (less dominant group) hanya menjadi objek. Sehingga cenderung terjadi fenomena dominasi dan eksploitasi satu pihak pada pihak yang lain.

Fakta ini menegaskan, internet --termasuk mailing list (milist)-- meski masih terbatas penggunanya pada kalangan menengah ke atas yang sedikit jumlahnya, tapi karena yang sedikit itu adalah kelompok dominan, maka peran internet tidak bisa lagi dipandang dengan sebelah mata.

Seperti mMenurut Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsoedin bahwa dunia strategi dan pertahanan sedang memasuki babakan baru, yakni perang asimetris. ”Kita harus menanggalkan cara berpikir perang konvensional. Banyak hal yang terjadi tanpa disadari adalah dampak perang asimetri. Media digunakan sedemikian rupa mengumbar sensasi. Perang asimetri itu bukan menghadapkan senjata dengan senjata atau tentara melawan tentara,” ujarnya.(Kompas 28/3/2011)

Penulis : Sofyan Ahmad



BAGIKAN