Sunday, 12 July 2015

Mantan KaBIN Buka “Dapur” Intelejen Negara

Marciano Norman mantan Kabin

Zonasatu.co.id, Jakarta - Di era demokratisasi ini, intelijen negara dituntut untuk menciptakan, memicu,  mengacu serta menyelesaikan perubahan. Oleh karena itu intelijen harus menyesuaikan diri dengan fenomena tuntutan perubahan, tanpa menyimpang dari tujuan kepentingan nasional. Intelijen pun tak lagi bisa berbuat semaunya, karena dituntut untuk lebih professional dalam koridor ketentuan hukum yang berlaku, utamanya pasca pemberlakuan UU No. 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara.

Hal itu ditegaskan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI (Purn). Marciano Norman saat diskusi peluncuran bukunya yang berjudul “Intelijen Negara : Mengawal Transformasi Indonesia Menuju Demokrasi yang Terkonsolidasi”, di Jakarta, Jumat (10/7).

“Saya lah Kepala BIN pertama yang harus melaksanakan amanat UU Intelijen Negara. Tentunya ada dinamika tersendiri, karena Intelijen tidak lagi bebas sebebas-bebasnya. BIN dikawal ketat UU. Maka tantangan saya merubah kultur insan intelijen kita agar menghormati UU di era keterbukaan, tuntutan transparansi dan akuntabilitas,” kata Marciano.

Dengan kondisi dari BIN yang bebas sebebasnya, kemudian menjadi lembaga yang harus mentaati atau dikawal ketat UU, tentu menuntut kepiawaian insan intelijen dalam melaksanakan operasi intelijen tanpa harus melanggar UU, apalagi melanggar HAM.

Lebih lanjut ia mengatakan, era demokrasi menuntut diwujudkannya keseimbangan antara kerahasiaan dan keterbukaan. Namun disisi lain, dilema utama intelijen adalah bagaimana bisa berperan sebagai pelindung demokrasi, dan disaat yang sama juga harus beroperasi secara rahasia.

“Tuntutan demokratisasi, supremasi hukum, akuntabilitas dan HAM, bukan berarti seluruh aktivitas badan intelijen harus transparan secara telanjang  di ranah publik. Tapi karena aktivitas intelijen,  langsung maupun tidak, berkait dengan hak kebebasan individu, maka intelijen harus tunduk dan diatur dengan ketentuan yang diamanahkan Undang-Undang,” jelas Marciano.

Marciano berharap, dengan semakin kompleks dan rumitnya ancaman global, aturan yang ada dapat memayungi aktivitas intelijen negara, untuk semakin professional dalam mengawal kepentingan bangsa. “Kepemimpinan nasional dapat berganti, tapi BIN akan tetap menjadi pengawal setia jati diri bangsa. Kepentingan dan keamanan nasional adalah satu hal yang harus tetap dijaga,” pungkasnya.

Sementara itu dikesempatan yang sama, pengamat intelijen Wawan H. Purwanto mengapresiasi keterbukaan Letjen (Purn) Marciano Norman yang mau mengupas seluk beluk pengalaman dan pemikirannya selama 3 tahun 9 bulan menjabat sebagai orang nomer satu di Badan Intelijen Negara.  

Wawan yang juga editor buku ini mengatakan, buku ini menarik untuk dikaji semua kalangan. “Kita juga bisa melihat, selama pak Marciano Norman memimpin BIN, tidak banyak gejolak yang terjadi. Kalaupun ada riak yang tak terhindarkan,  tangan dinginnya mampu menanganinya dengan baik. Sehingga negeri ini dan pemerintahan yang lalu  selamat sampai akhir masa jabatannya,” kata Wawan. (Anto) 

BAGIKAN