Saturday, 4 July 2015

Mereka Terus Berani Bersama "Herky"


Zonasatu.co.id, Jakarta -Kecelakaan pesawat angkut militer Hercules C-130 dengan registrasi A-1310 milik Skuadron 32 TNI Angkatan Udara di Medan, Sumatera Utara, Selasa (30/6), menjadi duka Indonesia. Dalam keterbatasan anggaran, para prajurit TNI tetap teguh mengabdikan jiwa dan raganya demi menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan terus berani menerbangkan Hercules, yang kerap disebut "Herky".

Musibah yang merenggut 12 prajurit TNI AU itu tidak memadamkan keberanian penerbang militer lain untuk menerbangkan pesawat yang tergolong sudah uzur tersebut. Mereka selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin demi mengantisipasi berbagai kemungkinan gangguan penerbangan.

"Tua dan muda itu relatif karena ada juga pesawat yang baru berusia setahun jatuh. Karena itu (ukuran) yang dipakai laik atau tidak laik terbang," kata Letnan Kolonel (Pnb) Fata Patria dalam perbincangan dengan Kompas di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (2/7).

Fata sudah menjadi penerbang Hercules begitu tamat Akademi Angkatan Udara pada 1998. Sejak tahun 2000, ia bergabung di Skuadron 31, Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma.

Seorang rekannya semasa pendidikan turut menjadi korban dalam kecelakaan yang menimpa pesawat Hercules C-130 di Magetan, Jawa Timur, pada 2009. Ketika bencana tsunami meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004, Fata merupakan pilot yang pertama kali mendaratkan pesawat berbadan besar itu di Aceh. Pengalaman tersebut sungguh melekat dalam benaknya. Fata kerap terharu saat mengenang betapa hancurnya Aceh akibat tsunami ketika itu. Ia merasa senang bisa membantu korban tsunami, tetapi ia juga sedih menyadari keterbatasannya dalam mengevakuasi korban.

Boleh jadi karena itu pula, walaupun kecelakaan pesawat Hercules telah terjadi beberapa kali di Indonesia, ia tidak gentar untuk kembali menerbangkannya. "Sebagai pilot, mental kami ketika masuk pesawat sudah siap mengantisipasi kondisi darurat," tutur lulusan program pascasarjana Australian National University itu.

Tidak bercerita
Insiden selama penerbangan juga bukan tak pernah dihadapi Fata, tetapi ia tak pernah menceritakannya kepada keluarganya. Ia tidak mau membuat mereka khawatir.

Kolonel (Pnb) Purwoko Aji Prabowo juga pernah mengalami insiden saat menerbangkan Hercules. Ketika ia masih berpangkat kapten, pesawat yang diterbangkannya mengalami gangguan mesin. Ia tengah menerbangkan pesawat Hercules dari Jakarta menuju Madiun saat salah satu dari empat mesin pesawat itu tak berfungsi. Beruntung, ketika itu pesawat sudah tidak jauh dari Lanud Iswahjudi, Madiun. Ia menyiapkan pendaratan dengan tiga mesin. Pesawat pun mendarat dengan baik.

"Rata-rata penerbang Hercules pernah mengalami satu mesin mati, tetapi kami bisa mengantisipasi dengan latihan menggunakan simulator," tuturnya.

Saat ditanya mengenai tanggapan keluarga soal insiden itu, Purwoko mengaku tak pernah menceritakan hal tersebut kepada istri dan anaknya. "Menurut saya itu tugas tentara. Jadi, ketika pulang ke rumah, ya, bersikap biasa saja," ujar Purwoko.

Purwoko menilai penerbang harus memiliki kepercayaan diri, tetapi juga tak boleh angkuh. Dengan demikian, penerbang bisa lebih cermat dan berhati-hati saat mempersiapkan diri dan pesawat sebelum terbang. Dari sisi sumber daya manusia, dia menilai penerbang Hercules rata-rata memiliki pengalaman memadai. Mereka harus menjalani tahapan pelatihan berjenjang yang membutuhkan jam terbang cukup tinggi, dimulai dari menjadi kopilot hingga menjadi pilot tamu penting (VVIP) penumpang pesawat Hercules.

Belajar dari kecelakaan Hercules C-130 A-1310, Purwoko dan Fata hanya berharap pemerintah tetap menaruh perhatian pada penyediaan pesawat baru dan pemeliharaan pesawat yang baik. Menurut mereka, kedua hal tersebut akan sangat membantu para penerbang-penerbang muda dalam bertugas.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Dwi Badarmanto, secara terpisah, mengatakan, dari hasil evaluasi pada beberapa kecelakaan pesawat milik TNI AU, faktor utama penyebab kecelakaan terletak pada peralatan, bukan pada persoalan sumber daya manusia. Dia menilai TNI AU memiliki banyak pilot yang berkualitas.

Dia mengakui, ketersediaan anggaran untuk alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AU masih jauh dari kebutuhan minimum. Selain anggaran alutsista, Dwi juga berharap agar kesejahteraan dan pendidikan personel TNI AU diperhatikan. Dengan demikian, peristiwa semacam ini bisa dihindari dan Indonesia tak lagi kehilangan penerbang terbaik.(Kompas)



BAGIKAN