Saturday, 18 July 2015

Mudik Salah Satu Budaya Yang Dapat Memicu Urbanisasi

Suasana arus mudik lebaran di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta
Lebaran telah tiba, Fenomena mudik atau pulang kampung menjelang Idul Fitri, sudah menjadi tradisi bagi umat muslim di Indonesia. Selama hampir dua minggu,  seluruh stasiun televisi dan media massa lainnya “hiruk pikuk” berlomba-lomba memberitakan hajat tahunan masyarakat kita. Dengan berbagai alat transportasi dari darat, laut, maupun udara, masyarakat berbondong-bondong untuk bersilaturahmi bersama sanak saudara.

Efek fenomena mudik lebaran adalah pergi satu pulang dua. Seringkali terjadi, tradisi “membawa” keluarga ikut serta oleh para pemudik saat mereka kembali ke Jakarta atau kota besar lainnya. Kebiasaan yang terjadi tesebut, dampak dari besarnya antusias masyarakat di desa akan terjadi perbaikan ekonomi sosial dengan melakukan hijrah ke ibu kota.

Beberapa peneliti dan para Sosiolog memandang hal ini sebagai suatu situasi yang membudaya dikalangan masyarakat kita dan harus mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat. Masih banyak masyarakat awam berpendapat jika dengan merantau di kota besar pasti akan sukses dan berhasil, padahal pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Beberapa pengamat mengatakan jika tradisi mudik yang seperti ini (Pergi satu pulang dua) terus berlanjut tidak menutup kemungkinan akan menjadi “bumerang” bagi kota-kota yang menjadi target urbanisasi.

Jakarta misalnya, adalah daerah yang paling banyak menjadi tujuan urbanisasi pasca momentum mudik lebaran.   Sebagai ibukota negara, pemerintah tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi tersebut.  Karena secara otomatis, urbanisasi musiman ini juga memberi dampak beragam pada kehidupan sosial masyarakat Jakarta itu sendiri.

Meningkatnya jumlah penduduk ibukota tanpa dibarengi dengan jumlah lapangan pekerjaan yang memadai tentu dapat berpotensi memicu meningkatnya angka pengangguran dan kriminalitas.  Itu adalah hal yang paling mungkin terjadi ketika orang-orang “korban urbanisasi” tersebut berusaha bertahan hidup dikota dengan biaya hidup yang cukup tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 pernah mencatat jika dalam kurun waktu setahun (Februari 2014 sampai dengan Februari 2015) angka pengangguran di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup banyak sekitar 300 ribu orang sehingga total keseluruhan menjadi 7,45 juta orang.

Untuk menghindari dampak “gagal merantau” yang pada akhirnya malah memberi efek buruk pada kehidupan sosial di kota besar, beberapa pengamat sosial memberi rambu-rambu yang semestinya diperhatikan bagi para perantau yang ingin mengadu nasib di ibukota seperti Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya.

Pertama, harus memiliki skill (keahlian), karena sampai sekarang ini masih banyak dijumpai sebagian besar masyarakat ketika sudah sampai di ibu kota mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan bahkan diantaranya tidak memiliki skill sama sekali sehingga mau tidak mau mereka harus tersisihkan karena kalah berkompetisi. Kedua,  harus memiliki mental pekerja keras dan ulet, ini juga salah satu syarat wajib yang harus dimiliki oleh para perantau agar selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan selama diperantauan. Ketiga, adanya kepercayaan diri yang tinggi, karena mengadu nasib di ibukota tidak cukup hanya bermodalkan pintar dan ahli saja, melainkan juga harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi.


Penulis : Dheenar Risanda

BAGIKAN