Saturday, 4 July 2015

Singapura Luncurkan Littoral Mission Vessel Kelas Independence Pertamanya


Zonasatu.co.id - Singapura telah meluncurkan kapal pertama dari delapan Littoral Mission Vessels - LMV (Kapal Misi Littoral) yang dipesan untuk Angkatan Laut Republik Singapura (Republic of Singapore Navy - RSN).

Kapal bernama Independence itu diluncurkan pada tanggal 3 Juli 2015 di galangan kapal ST Marine di Benoi dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen.

Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) menandatangani kontrak untuk pengadaan LMV pada Januari 2013, untuk menggantikan 11 kapal patroli RSN kelas Fearless yang telah berdinas sejak pertengahan tahun 1990-an. LMV dirancang bersama oleh Saab AB Kockums dan ST Marine, dan kini sedang dibangun di Singapura oleh ST Marine. Badan Sains dan Teknologi Pertahanan Singapura (Defence Science and Technology Agency - DSTA) menjadi manajer dan integrator sistem untuk program tersebut.

Kelas Independence dilengkapi dengan satu meriam utama Oto Melara 76 mm, dua remote-controlled weapon station Oto Melara Hitrole 12,7 mm (masing-masing satu pada sisi kiri dan sisi kanan), dan sistem senjata Rafael Typhoon 25 mm yang dipasang menghadap belakang kapal. Perlindungan terhadap pesawat dan rudal musuh dilakukan oleh sistem rudal anti-udara MBDA VL Mica yang diluncurkan melalui sistem luncur vertikal (vertical launching system - VLS) 12 sel di bagian depan kapal.

Pilihan non-lethal kapal tersebut adalah dua water cannon dan dua turret sistem remote-controlled long-range acoustic device (LRAD) dengan lampu xenon yang terintegrasi.

Perangkat sensor meliputi radar pengawasan Thales NS100 3D, radar navigasi Kelvin Hughes SharpEye, dan pengarah elektro-optik dan sistem pengintai 360° dari Stelop (unit usaha ST Electronics). Menanggapi pertanyaan dari IHS Jane, pihak RSN menyebutkan bahwa LMV tidak memiliki kemampuan anti-kapal selam (ASW).

Kapal 1.250 ton ini memiliki panjang 80 m, beam 12 m, dan draft 3 m. Kapal tersebut memiliki kecepatan tertinggi lebih dari 27 kt dan jangkauan sejauh 3.500 mil dengan endurance 14 hari.

LMV dapat membawa sebuah helikopter angkut kelas menengah di flight deck-nya. Kapal ini juga dilengkapi dengan sistem peluncuran-dan-recovery (disediakan oleh Norwegian Deck Machinery) yang dapat menampung dua rigid hull inflatable boats (RHIB) atau wahana permukaan laut tanpa awak (unmanned surface vessel - USV) Protector. LMV menampung awak kapal sebanyak 23 orang, termasuk lima perwira.

Sebuah konsep yang sedang dibuktikan oleh RSN untuk pertama kalinya adalah pusat komando terpadu (integrated command centre) LMV, yang menggabungkan anjungan kapal, pusat informasi tempur (combat information centre - CIC), dan ruang kontrol mesin.

"Pusat komando terpadu mengintegrasikan dan mensinergikan pengelolaan fungsi navigasi, permesinan, dan tempur untuk mencapai efektivitas dan efisiensi operasional yang lebih besar, terutama selama operasi keamanan maritim", kata MINDEF. Pendekatan ini mencerminkan pendekatan yang diadopsi pada Littoral Combat Ship (LCS) kelas Independence Angkatan Laut AS.

Juga dipasang pada kapal tersebut adalah sistem pemantauan jarak jauh yang memungkinkan untuk pelaporan real-time data kelaikan kapal. "Status kesehatan platform kapal dan sistem tempur juga dapat dikirimkan kembali ke pangkalan untuk pemantauan dan prognosis yang terpusat dari sistem bersangkutan untuk mendeteksi anomali dan rencana untuk pemeliharaan pencegahan," kata MINDEF.

Untuk memaksimalkan fleksibilitas, LMV telah dikonfigurasi untuk dapat mengoperasikan berbagai paket misi dalam kontainer seperti modul medis untuk mendukung operasi bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana (humanitarian assistance and disaster relief - HADR). Platform ini juga dapat menggunakan sistem tanpa awak untuk operasi pengawasan dan penanggulangan ranjau laut (mine countermeasures - MCM).

Setelah peluncuran, Independence akan menjalani periode instalasi sistem tempur, dan kemudian akan memulai uji coba laut. Kapal tersebut dijadwalkan untuk diserahkan pada tahun 2016 dan diharapkan akan beroperasi penuh pada tahun 2017. Kesemua delapan LMV diharapkan mencapai kemampuan operasional penuh pada tahun 2020.

Pendapat  janes.com
Konsep seperti pusat komando terpadu mencerminkan upaya RSN untuk mengurangi kebutuhan sumber daya manusia. Dalam sebuah wawancara dalam publikasi Angkatan Bersenjata Singapura Pioneer Mei 2015, panglima Angkatan Laut Singapura Rear Admiral Lai Chung Han menyoroti berkurang tingkat kelahiran negara tersebut sebagai suatu tantangan yang dihadapi Angkatan Laut Singapura.

Upaya terbaru lainnya untuk meringankan beban kerja meliputi pengunaan sistem wahana tanpa awak di kapal RSN, seperti UAV (unmanned aerial vehicle) Scan Eagle kendaraan udara tak berawak (UAV) dan AUV (autonomous underwater vehicle) REMUS.

Tidak adanya kemampuan ASW organik pada LMV, merupakan hal yang kontras dengan pendahulunya yang dilengkapi dengan sonar, menunjukkan bahwa RSN kini mengandalkan frigat kelas Formidable sebagai penindak kapal selam utama AL Singapura. Hal ini juga bisa menjadi indikasi bahwa RSN akan menggunakan helikopter berkemampuan anti kapal selam pada LMV.(TSM/Janes.com)



BAGIKAN