Thursday, 27 August 2015

BNPT Dan DIKTI Halau ISIS Dari Kampus


Malang (Zonasatu.co.id) - Dewasa ini, propaganda dan ajakan kekerasan yang disebarkan oleh kelompok radikal ISIS tidak hanya menyasar pada kalangan menengah ke bawah. Kalangan terdidik pun menjadi target dan sasaran rekruitmen. Beberapa contoh dari berbagai negara kalangan pelajar dan mahasiswa telah meninggalkan negaranya untuk berangkat ke Irak-Suriah. Hal sama juga terjadi di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi dilaporkan hilang secara misterius dan ada beberapa yang dilaporkan bergabung dengan ISIS.

Fenomena radikalisasi di lingkungan perguruan tinggi tersebut patut menjadi keprihatinan bersama. Dalam rangka itulah, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerja sama dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menggelar kegiatan “Dialog Pencegahan Paham di Kalangan Perguruan Tinggi” yang diselenggarakan di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya(27/8/2015).

Kegiatan ini akan dibuka secara resmi oleh Kepala BNPT yang akan diwakili oleh Direktur Pencegahan Brigjen Pol. Drs. Hamidin. Disambut oleh Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Moh. Bisri, MS., selaku tuan rumah dan Anggota Komisi III DPR-RI Drs. Ahmad Basarah, MH. Menghadirkan narasumber Brigjen Pol. Drs. Hamidin (Direktur Pencegahan BNPT), Dr. Widyo Winarso (Ditjen Dikti), M. Yahya, Ph.D (Akademisi UIN Malang), dan Ali Fauzi, M.Pd. (Mantan anggota jaringan Teroris).

Dalam kegiatan yang mengundang 300 peserta yang terdiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan mahasiswa dari 94 perguruan tinggi di Jawa Timur ini juga dilaksanakan penandatanganan “Komitmen Bersama Pencegahan Paham ISIS Di Perguruan Tinggi” oleh BNPT, Kemenristek Dikti, Komisi III DPR-RI dan para Wakil Rektor serta Mahasiswa. Melalui “Komitmen Bersama” ini diharapkan meningkatnya sinergi BNPT dengan Kemenristek Dikti dan civitas akademika, membentengi kampus dari pengaruh ISIS.

Kekhawatiran infiltrasi paham kekerasan dan radikalisme seperti ISIS bukan tanpa dasar. Sudah banyak kalangan terdidik, khususnya mahasiswa yang telah terpedaya dengan hasutan dan provokasi ISIS. Dalam kegiatan ini diharapkan para pimpinan perguruan tinggi dapat memberikan rumusan dan solusi terbaik bagaimana membentengi lingkungan perguruan tinggi dari pengaruh paham radikal teroris khususnya ISIS.

Kehadiran ISIS sebagai salah satu dari kelompok teroris yang rajin menebar teror akhir-akhir ini telah memunculkan fenomena radikalisme baru khususnya di kalangan anak muda. Jika dulu anak muda yang terjaring dalam kelompok terorisme diduga dari latar belakang pendidikan yang rendah dan secara ekonomi menengah ke bawah, saat ini golongan terpelajar dari kalangan kelas menengah pun menjadi sasaran dan target dari propaganda dan rekruitmen ISIS.

Selain pola penyebaran konvensional, ISIS dikenal sebagai kelompok teroris yang secara manipulatifmemanfaatkan kekuatan teknologi dan informasi internet sebagai alat propaganda. ISIS merupakan salah satu gerakan teroris yang mampu memanfaatkan media sosial sebagai media propaganda sekaligus rekuritmen keanggotaan. Faktanya, tidak sedikit anak muda yang bergabung dengan ISIS melalui propaganda dan jejaring pertemanan di media sosial.

Dengan adanya beberapa kasus keterlibatan kalangan mahasiswa dalam jaringan dan aksi terorismeISIS merupakan fakta kerentanan lembaga pendidikan tinggi sebagai target kelompok radikal terorisme khususnya ISIS. Atas dasar tersebut maka pencegahan paham  ISIS di lingkungan pendidikan tinggi menjadi sangat penting untuk terus dilakukan secara berkesinambungan. Selain itukerjasama antar pihak terkait dalam menanggulangi masalah tersebut harus terus berjalan dan tidak boleh berhenti di tengah jalan. Dengan dialog maka upaya untuk terus meredam paham ISIS dikalangan Perguruan Tinggi dapat terlaksana secara optimal, serta diharapkan pola pikir mahasiswa dapat terbuka dan memperoleh informasi yang berimbang bahwa ISIS dan kelompok-kelompok radikal terorisme merupakan hal yang membahayakan kelangsungan hidup, baik dalam lingkungan keluarga, berbangsa dan beragama. (AS/BNPT)

BAGIKAN