Sunday, 2 August 2015

Jadikan MOS Sebagai Ajang Pembelajaran Bukan Penyiksaan


S etiap memasuki tahun ajaran baru saya selalu menjumpai adanya kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) yang masih mengharuskan siswa barunya mengenakan pernak – pernik aneh sebagai atributnya. Topi berbentuk kerucut, kerah baju berhiaskan permen, rambut berkuncir dua, tas dari kresek dan papan nama besar lengkap dengan julukannya tergantung dibadan jadi kelengkapan wajib untuk dikenakan.

Dalam hati kadang saya berpikir MOS yang seperti ini tujuannya untuk apa? Dimana sisi mendidiknya? Jika bertujuan untuk membentuk karakter siswa apa harus dengan kegiatan yang dapat mempermalukan mereka secara psikis dengan pemakaian atribut yang aneh – aneh?

Masa Orientasi Siswa atau yang biasa disebut sebagai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sejatinya adalah kegiatan yang dilakukan oleh pihak sekolah bertujuan untuk memperkenalkan kondisi lingkungan sekolah kepada siswa baru. Didalamnya harus terdapat kegiatan – kegiatan yang bersifat mendidik seperti pemberian wawasan, kedisiplinan, pembentukan budaya belajar sampai dengan pengenalan norma dan tata tertib yang berlaku di sekolah.

Namun pada kenyataannya kegiatan masa orientasi masih sering dijadikan sebagai ajang “penyiksaan” dan balas dendam yang berbentuk perpeloncoan oleh kakak kelas (Senior) kepada siswa baru (Junior) dengan dalih pembinaan mental dan pembentukan karakter.

Hal seperti ini yang terkadang luput dari pengawasan pihak sekolah yang terkadang menyerahkan begitu saja pelaksanaan kegiatan kepada siswa senior yang ditunjuk (Biasanya yang terlibat dalam OSIS) sebagai panitia penyelenggara sekaligus pelaksana. Pihak sekolah hanya sebatas mengetahui dan tanpa melibatkan diri lebih dalam terkait proses perencanaannya.

Padahal berhasil tidaknya kegiatan tersebut bergantung pada tahap perencanaannya, mulai dari kesiapan sarana prasarana, bentuk kegiatannya, sistem pengawasan sampai dengan tingkat pengamanan jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.

Saya pribadi salut dengan perencanaan kegiatan masa orientasi siswa yang pernah dilakukan oleh institusi TNI terhadap salah satu sekolahan swasta di Jakarta. Semuanya tampak terukur dan terencana, level pembawaannyapun juga disesuaikan dengan tingkatan siswa yang dibawanya. Jadi tidak ada sama sekali yang namanya kesan militeristik, sebaliknya sisi manusiawi dan mendidik lebih ditonjolkan.

Prajurit TNI saat melatih kedisiplinan di SMAN 1 Arso 
Kab. Keerom Papua (Sbr: Puspen TNI)
Pernah suatu ketika saat pelaksanaan upacara bendera dibarisan tengah ada seorang siswi jatuh pingsan. Dengan sigap dan cekatan personel kesehatan dari pihak TNI segera membawanya masuk ke ruang kesehatan. Saat kondisinya semakin memburuk, ambulanpun sudah siap dilokasi dan tanpa dikomando pihak panitia sudah tahu kerumah sakit mana siswi ini akan dibawa untuk dilakukan penanganan.

Hal ini membuat saya penasaran, ketika saya lakukan penelusuran melalui pihak panitia ternyata pihak TNI sudah memperhitungkan segala kemungkinan terburuk dan semuanya tersusun dalam sebuah buku perencanaan bersampul kuning mulai A sampai Z.

Berbeda dengan apa yang pernah saya ketahui selama ini, masih ada pihak sekolah menyelenggarakan kegiatan masa orientasi yang terkesan asal jalan tanpa disertai perencanaan yang baik, sehingga kerap kali didapati kekerasan berupa fisik maupun psikis yang berpotensi merugikan pihak siswa itu sendiri bahkan lebih jauh lagi yaitu sampai mengakibatkan kematian.

Penulis : Dheenar Risanda

BAGIKAN