Friday, 28 August 2015

Komisi III DPR RI Ahmad Basarah : Terorisme Adalah Bentuk Kejahatan Extra Ordinary Crime

 
Malang (Zonasatu.co.id) - Gejala kampus dijadikan ladang untuk menanamkan paham radikalisme kembali mengemuka dalam beberapa tahun terakhir setelah dalam kasus terorisme beberapa waktu lalu melibatkan sejumlah mahasiswa diberbagai perguruan tinggi.

Pada 2010, dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dijatuhi vonis 4,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena terbukti menyembunyikan teroris pelaku bom JW Mariot dan Ritz Carlton. Kemudian, setahun berikutnya seorang alumni UIN Syarif Hidayatullah juga ditangkap terkait upaya pengeboman jalur pipa gas di Serpong. Sementara dikabarkan puluhan mahasiswa lainnya disebutkan menghilang setelah direkrut dan dibaiat masuk ke dalam jaringan Negara Islam Indonesia atau NII.

Untuk itu Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) bekerjasama dengan Dikti sepakat melakukan penangkalan bersama untuk menghalau masuknya paham radikalisme yang dinilai cukup membahayakan stabilitas keamanan negara.

Anggota Komisi III DPR RI Drs. Ahmad Basarah, MH mengapresiasi langkah BNPT sebagai langkah terobosan yang baik. Menurutnya terorisme termasuk kejahatan extra ordinary crime (Kejahatan Tingkat Tinggi) yang penanganannya harus dilakukan secara masif melibatkan seluruh komponen. Dengan adanya keterlibatan perguruan tinggi sebagai lini terdepan perlawanan terorisme bersama BNPT diharapkan dapat menghadang laju perkembangan paham radikalisme yang saat ini terus melakukan infiltrasi dikalangan mahasiswa.

“Terus terang saya sangat mengapresiasi baik kerjasama ini (BNPT dan Dikti), karena dapat menangkal berkembangnya ide radikalisme di kampus – kampus” Ujarnya saat memberikan materi di Universitas Brawijaya, Malang, Jatim (27/08/2015).

Senada dengan Ahmad Basarah, Direktur Pencegahan Brigjen Pol Hamidin BNPT juga mengungkapkan jika perkembangan jaringan radikalisme seperti ISIS sudah masuk pada taraf mengkhawatirkan sehingga diperlukan penangkalan bersama.

"Maka, untuk itulah kami masuk melalui kampus, untuk menciptakan daya tangkal itu," ujarnya, Kamis (27/8/2015).

Dengan digelarnya sosialisasi melalui “Dialog Pencegahan Paham Radikalisme Teroris dan ISIS dikalangan Perguruan Tinggi Jatim” yang bertempat di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya Malang , BNPT menginginkan adanya keterlibatan para civitas akademia untuk turut bergabung dalam memerangi penyebaran paham radikalisme ISIS dari kampus. (AS)

BAGIKAN