Saturday, 15 August 2015

Merasa Tidak Siap Perang Dengan Rusia, Pentagon Ketakutan

Paska perang Irak tidak sedikit prajurit AS mengalami luka fisik dan mental
AS (Zonasatu.co.id) - Seorang pejabat Pentagon atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) menyuarakan ketakutannya jika perang dengan Rusia pecah. Sebab, Pentagon merasa tidak siap seperti yang diinginkan.

Pejabat Pentagon itu mengatakan, militer AS selama 15 tahun terakhir sibuk dengan perang kontra terorisme. Perang itu telah melelahkan pasukan darat AS dan menguras logostik. Sedangkan Rusia terus meningkatkan kemampuan militernya untuk terus beramanuver terhadap sekutu-sekutu NATO.

Dua pejabat Pentagon mengungkapkan kecemasan mereka kepada media AS, The Daily Beast, dalam kondisi anonim karena isu itu sensitif. ”Mungkinkan kita bisa mengalahkan Rusia hari ini (dalam pertempuran berkelanjutan)? Tentu, tapi itu akan mengambil semua yang kami miliki,” kata salah satu pejabat Pentagon, Jumat (14/8/2015). ”Apa yang kami katakan adalah bahwa kita tidak siap seperti yang kita inginkan,” lanjut dia.

“Perang (di Irak dan Afghanistan) telah menguras kemampuan kami,” imbuh pejabat kedua Pentagon. Sedangkan saat ini, Pentagon masih disibukkan perang melawan ISIS dan kelompok teror lainnya di Timur Tengah. Kemampuan militer AS selama ini dikuras untuk melatih tentara Irak dan oposisi moderat Suriah yang sampai sekarang belum bisa mengalahkan ISIS.

Sebelum kekhawatiran para pejabat Pentagon terhadap perang melawan Rusia itu muncul, para petinggi militer selama beberapa pekan ini terus menyuarakan Rusia sebagai ancaman paling berbahaya bagi AS. Sedangkan Rusia enggan merespons penyataan para petinggi militer AS itu.
Militer AS mengakui bahwa Kremlin memiliki sekitar 4.000 senjata nuklir dan anggaran militer Rusia merupakan yang terbesar ketiga di dunia. Sementara itu, seorang pejabat intelijen AS kepada The Daily Beast, mengeceilkan potensi perang melawan Rusia.

”Sebuah perang antara Rusia dan NATO adalah skenario yang tidak mungkin, mengingat dampak yang parah akan dihadapi Rusia. Selain reaksi luar biasa, penuaan peralatan militer Rusia dan kemampuan logistik yang bermasalah menjadi hal yang sangat sulit bagi mereka,” ujarnya yang menolak diidentifikasi.

“Singkatnya, konflik langsung dengan Rusia adalah probabilitas yang rendah, situasi seperti itu berisiko tinggi,” lanjut dia. (SRK/Sindonews)

BAGIKAN