Saturday, 1 August 2015

“Test Water” Asing di Tolikara

Bendera Israel berkibar bersebelahan dengan bendera Indonesia di Tolikara Jayapura Papua
Kasus Tolikara bisa dikatakan sebagai “Test water” yang dilakukan asing untuk melihat reaksi Indonesia saat isu yang sama (SARA) dihembuskan di bumi Cendrawasih.
Sejak Indonesia merdeka dan terbebas dari penjajahan asing tahun 1945, Indonesia sepertinya tidak pernah lepas dari isu – isu yang berkaitan dengan keamanan nasional, apalagi yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Anehnya, semua peristiwa yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia tersebut selalu berkaitan dengan isu SARA yang memang mudah dijadikan sebagai alat pembakar situasi di negara yang kaya etnis ini.

Berbagai dugaan dan spekulasi yang mengarah adanya keterlibatan asing di Indonesia memang tidak bisa diabaikan begitu saja mengingat sejak jaman dulu asing sangat berkepentingan dan selalu diketahui memainkan peran ganda di Indonesia. Disatu sisi mereka mendukung kebijakan politik Indonesia tapi disisi lain mereka juga suka menikung dari belakang dengan menunggangi isu – isu yang menguntungkan mereka.

Seperti kasus pembakaran musholah milik umat muslim di Tolikara Jayapura Papua oleh massa Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) beberapa waktu lalu (17/7/2015) disinyalir asing berada dibalik peristiwa yang berpotensi menimbulkan konflik Komunal tersebut. Pasalnya peristiwa Tolikara terjadi setelah jurnalis asing diperbolehkan masuk ke Papua setelah sempat dilarang karena isi pemberitannya yang cenderung merugikan pihak Indonesia. Selain itu dalam acara yang digelar oleh GIDI juga dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari negara asing seperti Belanda, Israel, Palau dan Papua Nugini. Padahal sebelumnya kasus seperti ini tidak pernah terjadi di Papua, apalagi masyarakat Papua bisa dikatakan memiliki sikap toleransi beragama yang baik.

Letjen (Purn) Johanes Suryo Prabowo mantan Kepala Staf Umum TNI sangsi jika kasus Tolikara adalah murni kriminal. Dia mengatakan jika kasus Tolikara terdapat konspirasi Global yang menginginkan Papua lepas dari bumi pertiwi. Parameternya adalah adanya kemiripan kasus antara Tolikara dengan Timtim yang sama – sama dipicu konflik Komunal akibat pembakaran tempat peribadatan.

Pasukan INTERFET Australia berpatroli di Dili 1999
Sebelum Timtim lepas jauh tahun sebelumnya (1996) Australia sudah menyiapkan ribuan pasukannya di Darwin dan dilatih agar terbiasa hidup di daerah tropis seperti Indonesia. Tahun 1999 Australia berhasil masuk ke Timtim dibawah payung hukum PBB sebagai INTERFET (International Force for East Timor) berkedok pasukan “penengah” setelah sebelumnya berhasil membuat bumi Loro sae mengalami “perang saudara” yang dipicu isu SARA. Sasarannya jelas, setelah Timtim lepas akan ada pembagian hasil antara Timtim dengan negara Kangguru berupa sumber daya alam di celah Timor.

Kasus Tolikara bisa dikatakan sebagai “Test water” yang dilakukan asing untuk melihat reaksi Indonesia saat isu yang sama (SARA) dihembuskan di bumi Cendrawasih. Pemerintah dan rakyat Indonesia harus lebih jeli dan hati – hati menyikapi permasalahan Tolikara ini, apalagi sudah bukan rahasia jika di Papua terdapat puluhan negara asing yang “numpang” makan dan tidak mau pergi begitu saja meski yang punya rumah mengusirnya pakai “sapu”.

Perlu diingat, tahun 2013 Amerika salah satu negara yang juga memiliki kepentingan besar di Papua sudah memindahkan puluhan ribu prajuritnya ke Fort Robertson Darwin Australia dengan dalih sebagai pasukan reaksi cepat bantuan bencana alam, jumlah yang terlalu besar bagi ukuran pasukan penanggulangan bencana alam. Sedangkan Darwin adalah wilayah yang sama saat Australia menyiapkan ribuan prajuritnya masuk ke Timtim sebagai pasukan INTERFET.

Penulis : Ahmad Budi Setiawan

BAGIKAN