Saturday, 26 September 2015

Antara Bumi Maguwo dan Bandara Baru

"Moril tempur prajurit tergantung bagaimana mereka memahami dan bangga terhadap jati diri dalam sejarah kemenangan para pendahulunya..."
Bukan sebuah analisis seorang ahli hukum penerbangan, hanya sebuah sudut pandang dari seorang pecinta kedaulatan negeri dengan segala macam bentuk dan caranya mengenai polemik Bandara Jogjakarta. Sengaja baru dikeluarkannya artikel ini setelah “cooling down” dari segala macam kerancuan dan silih bergantinya pendapat ahli-ahli.

Angkatan Udara Indonesia, sebaiknya janganlah dibubarkan dimana didalamnya terdapat unsur-unsur penting demi terciptanya keutuhan negeri tercinta. Walaupun kalimat tersebut hanyalah sebuah bahasa “moril” untuk tetap memberi semangat kepada mereka untuk “keep on fighting”.

Secara moril, Pangkalan Udara Adisutjipto adalah sebuah tempat bersejarah sebagai sebuah lambang kemenangan Bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda. Hingga saat ini pun, tetap sebagai “pabrik moril” bagi para pejuang-pejuang muda dimana sebagai “kawah chandradimuka” pembentukan perwira penerbang penjaga angkasa Indonesia.

Sedangkan secara ekonomi, tentu saja sebagai daerah pariwisata Bandara Adisutjipto sangat mendongkrak perekonomian rakyat Jogjakarta secara khusus dan Indonesia pada umumnya, dimana Bandara adalah salah satu “pintu masuk” pariwisata paling efektif bagi wisatawan dalam negeri dan mancanegara.

Perbedaan antara Bandar Udara (bandara) dengan Pangkalan Udara pun hanya pada fungsinya saja, dimana Bandar Udara digunakan untuk kegiatan penerbangan sipil sedangkan Pangkalan Udara difungsikan pada peran pertahanan Negara.

Dalam “British Doctrine”, “maintanance of Morale” atau menjaga moril tempur berada dalam urutan kedua “Principal of War” setelah azas “Maintanance of Aim”. Moril tempur prajurit tergantung bagaimana mereka memahami dan bangga terhadap jati diri dalam sejarah kemenangan para pendahulunya dan Pangkalan Udara Adisutjipto adalah salah satu “ikon” moril bagi seluruh prajurit TNI AU dimana pun mereka berada.

Sedangkan dalam prinsip ekonomi, semakin banyak konsumen maka akan semakin besar keuntungan, dalam hal ini Bandara Adisutjipto sebagai “pintu masuk” pariwisata sangat berperan sebagai suplai konsumen sebagai salah satu sarana infrastruktur perekonomian daerah maupun devisa Negara.

Sehingga tidak ada satu alasan pun untuk berpihak kepada salah satu diantara kedua pilihan, karena dua-duanya memiliki nilai untuk kepentingan nasional. Namun, tetap harus ada solusi tanpa menegangkan “urat saraf”.

Kita ketahui, bahwa trafik udara yang keluar masuk Jogjakarta adalah termasuk yang sangat padat karena banyaknya permintaan konsumen untuk berkunjung ke salah satu ikon wisata di Indonesia tersebut. Sedangkan trafik milter pun juga sangat padat karena Sekolah Penerbang TNI AU setiap hari Senin hingga Jumat melaksanakan latihan pada delapan area latihan dan terbagi menjadi tiga lapisan  “low, medium dan high” pada tiap-tiap area tersebut.

Solusi mengurai trafik udara dengan rencana pembangunan Bandara baru di Kulonprogo adalah solusi paling tepat. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu PT Angkasa Pura I telah ditunjuk oleh pemerintah untuk melakukan proses pembangunan Bandara Kulonprogo termaksud, akan tetapi rencana yang bergulir ini ternyata terhambat oleh dicabutnya perijinan pembangunan Bandara oleh PTUN Jogjakarta (print.kompas.com/baca.2015/06/24/Proses-Pengadaan-Tanah-Bandara-Kulon-Progo-Berhent).

Kita semua berharap ada solusi dari Sultan Jogjakarta sebagai Marwah di Bumi Mataram, sehingga solusi untuk pembangunan Bandara baru yang modern di Kulonprogo ataupun dimana saja jika ada pengubahan tempat dapat terlaksana.

Suatu saat, berharap sekali dapat berkunjung ke Jogjakarta dimana penulis “dibesarkan” dapat melihat sebuah Bandara yang modern, besar dan berskala Internasional dan biarlah tempat bersejarah dimana para pejuang udara “dibesarkan” tetap menjadi besar di Bumi Maguwo.

Penulis :
Capt. Teddy Hambrata Azmir

BAGIKAN