Thursday, 24 September 2015

Menyambut Kembalinya FIR Kepulauan Riau

Seperti inilah situasi didalam Air Traffic Control (ATC)
"Mendapatkan kembali Flight Information Region Kepulauan Riau bukan hanya membutuhkan semangat nasionalisme maupun kekuatan militer sebagai alat diplomasi, namun harus melibatkan seluruh insan penerbangan nasional"
Sedang hangat dalam berita, bahwa Pemerintah dan TNI kembali tegas terhadap kondisi kedaulatan Negara Republik Indonesia, mengenai permasalahan FIR (flight information region) Kepulaauan Riau yang selama bertahun-tahun belum terselesaikan permasalahannya karena masih dalam kontrol Negara Singapura.

Sebelum menentukan sudut pandang yang baik, berikut adalah pemahaman tentang kedaulatan wilayah udara dalam suatu Negara. Mengacu pada pasal 2 konvensi Chicago 1944, menyatakan di atas laut territorial sampai ketinggian tidak terbatas adalah kedaulatan suatu Negara.

Dalam dunia penerbangan, terdapat dua macam wilayah penerbangan, yakni Flight Information Region (FIR) dan Upper Information Region (UIR). Wilayah udara ditentukan berdasarkan kedaulatan dan keamanan Negara, sedangkan wilayah penerbangan diadakan berdasarkan pertimbangan keselamatan penerbangan.

Kemudian apakah yang mendasari Singapura hingga saat ini masih enggan untuk melepaskan wilayah yang “terpinjam” itu? Dalam artikel ini tidak membahas sebab-sebab berpindah tangannya wilayah Nasional Indonesia, melainkan mencari sudut pandang apakah sudah siap Indonesia kembali “merebut” wilayahnya sendiri.

Undang-undang RI No 17 tahun 1985 serta pasal 3 UNCLOS mengatakan bahwa “pelayanan FIR di atas suatu Negara dapat didelegasikan kepada Negara lain sesama anggota Organisasi Penerbangan Sipil Internasional”. Kemudian, sebagai Negara yang cukup “paranoid” beberapa hal tentunya sudah dilakukan oleh Singapura untuk tetap mempertahankan sesuatu yang bukan miliknya.

Jika kita melihat dari google map, kita dapatkan Pulau Sudong dan Pulau Pawai, dimana Pulau Sudong terdapat sebuah pangkalan udara milter dan Pulau Pawai terdapat Air Weapon Range tempat berlatihnya Helikopter Tempur milik Angkatan Udara SIngapura. Terlihat bukan sebuah masalah, namun sejatinya masalah besar dikemudian hari bagi Indonesia.

Flight Information Region (FIR) Kepri
Dengan adanya daerah latihan militer, maka nantinya ruang udara tersebut akan menjadi wilayah terbatas yang berujung kepada propaganda untuk memperluas batas wilayah Negara mereka yang aslinya hanya tidak lebih besar daripada Jakarta.

Contoh lainnya adalah, ketika insan penerbangan nasional maupun internasional sudah begitu nyaman di kontrol oleh Singapura yang begitu professional dan canggih serta lengkap peralatannya, apakah ketika mendapatkan kembali wilayah kedaulatan kita dalam kontrol penerbangan nasional, kita mampu memberikan kenyamanan lebih dari atau sama dengan yang diberikan Singapura saat ini. Jawabannya “Harus Bisa”.

Demi kedaulatan Negara maka personel terkait harus lebih mampu dan professional, namun tentunya harus dengan dilengkapi peralatan dan fasilitas yang memadai. Semua lini terkait, bukan hanya Air Traffic Control saja, namun sejatinya setiap insan penerbangan nasional pun harus ikhlas dan merasa nyaman tetap dalam koridor “safety consideration”.

Mendapatkan kembali Flight Information Region Kepulauan Riau bukan hanya membutuhkan semangat nasionalisme maupun kekuatan militer sebagai alat diplomasi, namun harus melibatkan seluruh insan penerbangan nasional yang secara langsung sebagai pengguna “safety consideration” dalam tugasnya sehari-hari.

Jika semboyan moril bangsa mengatakan “tidak sejengkal pun tanah bisa direbut oleh musuh” maka dalam hal ini “tidak satu liter udara pun akan dapat direbut oleh bangsa lain” demi Indonesia yang Jaya. “Bersama TNI rakyat Kuat dan Bersama Rakyat TNI kuat serta  Kita bersama-sama Negara Kuat”.

Penulis :
Capt. Teddy Hambrata Azmir

BAGIKAN