Sunday, 13 September 2015

Pilihan Sulit Muslim Afrika Tengah: Murtad atau Mati

Ekstrimis Kristen Anti-Balaka menyerang dan menghancurkan semua rumah penduduk muslim yang ditemuinya 
(Sbr: Telegraph.co.uk)
"...Kepala desa dan seorang pendeta protestan datang ke hutan memberi tahu bahwa jika mereka tak kembali, Anti balaka akan memburu dan membunuh mereka..."
Afrika Tengah (Zonasatu.co.id) - Republik Afrika Tengah, negara di jantung benua Afrika, menyeruakkan nestapa Muslim yang tertindas lagi teraniaya. Di-sweeping dan dikejar-kejar milisi yang menyandang Kalashnikov, membuat Muslim lari meninggalkan ru mahnya dan terlunta di pengungsian. Muslim yang tetap tinggal, atau nekad kembali, dipaksa membuat pilihan sulit: murtad atau mati. Sebuah 'inkuisisi' sedang berlangsung di sana.

Amnesty Internasional melaporkan setidaknya lima kota dan sejumlah desa di Afrika Tengah yang penduduknya telah pindah ke agama Kristen di bawah ancaman kematian atau paksaan dengan kekerasan.

"Jumlah mereka (yang dimurtadkan) kecil, hanya puluhan, bukan ratusan, tapi problem yang ditimbulkannya sangat serius. Sebab ini merupakan indikasi intoleransi yang sangat menyolok terhadap praktik keagamaan Islam," tulis Amnesty Internasional dalam laporan bertajuk Erased Identitiy: Muslims in Ethnically-Cleansed Areas of the Central African Republic, yang dirilis akhir Juli lalu.

Omaru F, seorang penambang berlian di Desa Bania, Prefektur Mambere Kadei, menceritakan bagaimana pemaksaan itu. Pada Februari 2014, Milisi Anti Balaka dari kawasan Carnot dan Bouar menyerang Bania, dan membunuh dua pemimpin Muslim desa tersebut.

Penduduk desa kemudian berlarian ke hutan, bersembunyi dalam kelompok-kelompok kecil. Setelah beberapa pekan bersembunyi, kepala desa dan seorang pendeta protestan datang ke hutan memberi tahu bahwa jika mereka tak kembali, Anti balaka akan memburu dan membunuh mereka. Tapi, supaya bisa kembali, syaratnya harus pindah agama.

Ngeri diburu milisi Kristen dan animis tersebut, mereka pun pasrah, pulang dan dibaptis. Prosesi pembaptisan berlangsung di Gereja Apostolik, dihadiri kepala desa. Dan, mereka harus menunjukkan 'kartu baptis' kepada Anti Balaka, agar tidak dibunuh. Omaru termasuk yang dibaptis.

Tapi, kepada Amnesty Internasional, dia mengaku tidak menerima agama Kristen di dalam hatinya. Tak tahan dengan pelecahan agama itu, beberapa bulan kemudian dia lari ke Berberati. (CSE/Republika)

BAGIKAN