Friday, 2 October 2015

Chudlori Ungkap Instruksi Malam Jumat Pembantaian PKI

"Kekuatan PKI di Blitar saat itu sangat besar. PKI telah menyusup ke semua elemen sosial hingga birokrasi pemerintahan."
Zonasatu.co.id - Kabar huru-hara penculikan tujuh Jenderal terkait G 30S PKI diterima terlambat. Sebab penyampaian informasi saat kejadian tak secanggih saat ini.

"Kita memang terlambat menerima kabar adanya Gerakan 30 September 1965. Memang saat itu tidak banyak saluran informasi seperti sekarang, " ujar Chudlori Hasyim (83), bekas Pimpinan Ansor Nahdlatul Ulama (NU) Blitar, saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.

Chudlori masih terlihat bugar. Perawakanya jangkung, tinggi, dan besar dibanding kebanyakan orang Indonesia. Nada bicaranya lantang. Setiap kalimat yang terucap penuh dengan tekanan. Ia juga masih piawai melontarkan candaan. Guyonan khas warga nahdliyin.

"Ansor Zaman 1965 jelas lebih kuat dan gagah. Tidak seperti Ansor zaman sekarang," ucapnya.
Ayah empat anak dan kakek enam cucu itu adalah salah satu penggagas sekaligus pendiri Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU.

Walau secara umum sehat, sebuah tongkat penyangga menopang kaki kirinya. Tongkat alumunium dengan bagian atas sebagai penumpu ketiak itu yang menemani Chudlori kemana pun ia pergi.

Langkahnya tampak tertatih. Begitu juga saat keluar dari kamar menuju ruang tamu. Suatu ruang yang bersih dan tertata.

Figura bergambar bumi bertuliskan tinta emas Nahdlatul Ulama (NU) menghias dinding ruangan. Di sebelahnya tampak jam tembok dan sejumlah foto keluarga.

Chudlori juga mengenakan alat bantu pendengaran. Piranti digital berwarna putih itu terpasang di daun telinga kanannya.

Bersama delapan pimpinan Ansor Blitar lain, Chudlori memutuskan membentuk Banser. Yakni suatu kekuatan para militer untuk menjawab aksi sepihak PKI dan organisasi sayapnya. Peristiwa itu terjadi pada 14 April 1964 dan ditandai sebagai harlah Banser NU.

Kesembilan pimpinan Ansor Blitar itu adalah Zaenudin Kayubi atau Moch Zein Kayubi, KH Abdurrochim Sidik, M Romdhon, Zaenuri Acham, Atim Yanto, Chudlori, Moch Fadhil, H Supangat, dan H Ali Muhsin.

Rapat sembilan orang itu berlangsung di Markas Ansor di Jalan Semeru, Kota Blitar. Yakni suatu bangunan yang awalnya rumah milik seorang keturunan Tionghoa.

Usulan nama Banser datang dari Kayubi. Ia menafsirkan ejawantah dari multi fungsi, banyak guna, serba guna. Karenanya, Kayubi langsung didaulat sebagai Ketua.

Di luar Ansor Banser, Kayubi bekerja di Badan Pekerja Harian (BPH) NU yang ditugaskan di pemerintahan dan legislatif.

Saat itu Ansor dan Banser Blitar sudah bertekad bulat memerangi PKI. Di satu sisi PKI gencar-gencarnya meneriakkan pengganyangan tujuh setan desa.

Para tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pengirim zakat, dicap sebagai lawan yang harus diperangi.

Menurut Chudlori situasi akar rumput di Blitar sebelum dan sesudah G 30 S PKI sudah memanas. Massa Ansor dan pengikut PKI, terutama BTI dan Pemuda Rakyat saling curiga.

Di beberapa tempat, di antaranya wilayah Kecamatan Gandusari, Ansor-PKI nyaris bentrok fisik. Pemicunya adalah aksi sepihak PKI.

Memang, pasca-dilarangnya Masyumi dan terbelahnya PNI, NU dan PKI terkerek menjadi dua besar pemenang Pemilu 1955.

"Banyak warga NU pemilik tanah yang merasa resah dengan aksi sepihak orang-orang PKI, " kenang Chudlori.

Tepat hari ke-14 (14 Oktober 1965) pasca-pembunuhan para Jenderal, instruksi rahasia itu datang.
Perintah yang membonceng kabar penculikan Jenderal itu muncul dalam sebuah rembug (rapat) khusus pimpinan Ansor. Rapat yang merumuskan perlawanan terhadap aksi sepihak orang orang PKI.

Chudlori ada di sana. Karena dia memang termasuk salah satu pimpinan. Ia masih ingat perintah itu diutarakan secara lisan.

Tanpa banyak berdebat, instruksi langsung disepakati dan disebar cepat ke anggota Ansor Banser anak cabang (kecamatan) dan ranting (desa).

"Isinya (perintah) setiap kader Ansor dan Banser untuk menyiapkan senjata tajam dalam menghadapi PKI," tuturnya.

Sayang, Chudlori enggan membeberkan hulu dari pembawa pesan. Ia hanya menandaskan perintah kader Ansor Banser menyiapkan sajam muncul dalam rapat. "Munculnya ya di dalam rapat, "cetusnya.

Setelah perintah rahasia disebar, Ansor dan Banser mulai dari tingkat anak cabang dan ranting langsung bergerak.

Masing masing orang, kata Chudlori, memanggul karung goni. Isinya senjata tajam mulai belati, parang, sangkur hingga pedang. "Kita memang hendak perang melawan PKI, "tegasnya.

Chudlori juga ingat sebelum bergerak Ansor dan Banser juga menggelar apel perlawanan. Lokasinya di alun alun Kota Blitar.

Apel untuk mengimbangi Pemuda Rakyat yang sebelumnya juga memobilisir massa . Apel perlawanan Ansor Banser dihadiri Ketua PBNU Idham Chalid dan Pangdam V Brawijaya. Idham bahkan menjadi komandan upacara.

Sekira 10 ribu anggota Ansor Banser berkumpul. Show of force itu, kata Khudlori, sontak menciutkan nyali orang orang PKI.

Tidak sedikit aktivis Pemuda Rakyat, Lekra, BTI, dan SOBSI yang meninggalkan rumah. Mereka seperti merasakan bakal menjadi sasaran amuk massa.

Kekuatan PKI di Blitar saat itu, kenang Chudlori, sangat besar. PKI telah menyusup ke semua elemen sosial hingga birokrasi pemerintahan. Bahkan Bupati Blitar Sumarsono juga kader komunis.
Begitu juga di lembaga DPRGR Kota Blitar. Perwakilan Fraksi PKI, yakni Soebandi eks anggota TNI Batalyon 29 sekaligus Ketua Front Nasional Blitar, juga mampu merebut posisi ketua.

Istri Soebandi, yakni Putmainah, merupakan Ketua Gerwani sekaligus anggota Fraksi PKI DPRGR Kabupaten Blitar.

Ajaran komunis yang dikenalkan dan disemaikan pertama kali oleh Karso dan Ngalim, warga Blitar itu tumbuh pesat.

Karso dan Ngalim adalah tokoh komunis angkatan 1926. Keduanya tewas dalam agresi militer Belanda tahun 1949. "Tapi sebenarnya yang paling memantik kemarahan masyarakat adalah aksi sepihak, "jelas Chudlori.

Kayubi dalam setiap orasi di depan kader Ansor Banser menegaskan, PKI sudah terang-terangan merebut harta warga NU. Masak kita diamkan saja. Mari kita lawan! Demikian Orasi saat itu.

Menurut dia, pembunuhan orang PKI pertama kali disepakati berjamaah pada malam Jumat 14 Oktober 1965. Korbanya Jiang, seorang tionghoa tokoh Baperki yang menjadi tukang pukul andalan PKI.

Rumah Jiang di sebelah barat terminal Kota Blitar diserbu Ansor dan Banser. Jiang disembelih di halaman rumahnya.

Orang-orang Ansor dan Banser juga menyerbu dan menduduki markas PKI di Kota Blitar. Pengikut PKI yang terlambat menyelamatkan diri langsung dihabisi.

KH Abdurrochim Sidik dalam buku "Banser Berjihad Menumpas PKI" mengatakan, sebelum pembantaian berjamaah malam hari, pembunuhan sudah terjadi siang harinya.

Sebelum gerakan serentak malam hari, sejumlah Ansor Banser lebih dulu menghabisi pengurus PKI di wilayah Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

"Tidak sedikit orang-orang PKI yang meninggalkan rumahnya. Begitu mendengar suara takbir mereka langsung kabur pontang panting, "kenang Chudlori.

Setelah malam Jumat itu, kata Chudlori, pembunuhan terhadap orang PKI berlanjut tanpa kenal waktu pagi, siang maupun malam. (CSE/OkeZone)

BAGIKAN