Friday, 2 October 2015

Mantan Kopassus: Jika Saja PKI Menang, Tentara dan Umat Islam akan Dibunuh!

"Jangan melupakan sejarah dan memutarbalikkan sejarah. Umat Islam pun menjadi korban!" 
Zonasatu.co.id - PKI yang menjadi kambing hitam untuk keadilan oleh sebagian orang dan oknum menuai kritik tajam dan keras dari salah satu orang.

Ia dan keluarga besarnya merasakan bagaimana PKI pada saat itu melakukan tindakan biadab kepada dirinya, keluarga, serta organisasinya. Adalah Mantan Komandan Jenderal Kopassus, Mayor Jenderal Tentara Nasional Indonesia (Purn), Muchdi Purwoprandjono.

Mantan Komandan Kopassus ini menegaskan bahwa jika ada isu-isu atau wacana yang sempat hadir, di antara pemerintah meminta maaf, maka hal itu ia katakan tidak diperlukan. "Jelas mereka memberontak. Jadi tidak perlu kita meminta maaf," tegasnya.

Ia juga mengisyaratkan kepada pemerintah agar melihat tragedi PKI dengan jernih dan adil. Para ulama dan umat Islam pada saat itu merupakan korban dan kebiadaban dan kekejaman PKI.

"Saya kira pemerintah mempunyai kewajiban menilai. Mana yang radikal dan mana yang tidak pada saat itu," tambahnya.

Ia yang hadir dalam pemutaran ulang sejarah kekejaman PKI tadi malam (30/09/2015) memiliki tujuan, yakni agar masyarakat dan umat Islam tahu bagaimana sikap PKI terhadap tentara atau umat Islam pada waktu itu. Sehingga orang atau oknum yang tidak bertanggung jawab tidak dapat memutarbalikkan sejarah atau mengada-ngada bahwa PKI-lah korbannya.

"Jangan melupakan sejarah dan memutarbalikkan sejarah. Umat Islam pun menjadi korban!" tegasnya.

Ia dan kelurganya pada waktu itu yang merupakan salah satu target PKI menuturkan, jika saja PKI menang pada saat itu, maka ia, keluarga, dan umat Islam akan menjadi korban kebiadaban dan kekejaman PKI. "Jika saja mereka (PKI) menang, maka kita semua akan habis," bebernya.

Oleh karena itu, untuk lembaga seperti Komnas HAM atau pemerintah jangan hanya mendengar satu atau dua pihak saja, tetapi dengarkan pula dari tokoh atau ulama-ulama Islam. Hal ini agar keadilan sejarah dapat dipertanggung jawabkan.

"Jangan hanya mendengar dari tokoh PKI seperti Aidit saja untuk ungkap kebenaran. Akan tetapi dengarkan pula tokoh-tokoh umat Islam (pada saat itu)," kritiknya.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu di daerah Indonesia dikejutkan oleh atribut-atribut PKI (misal: palu arit) di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, ada pula artis, sutradara, hingga politisi yang diduga mendukungnya dengan menggunakan atribut yang sama. Dan ini dapat disaksikan di media-media sosial yang sempat menyebar. (CSE/VoaIslam)

BAGIKAN