Thursday, 29 October 2015

Menag RI : Banyak Yang Belum Mengerti dalam Memahami Arti Jihad

“Setiap pemeluk agama itu harus radikal. Tetapi dengan cara mengakar dari perspektif agama”
 Menteri Agama (Menag) RI, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan jika mempelajari agama memang harus dalam cara yang radikal. Cara itu dengan artian mempelajari dengan sungguh-sungguh dan dengan ajaran yang benar dan mengakar. Karena menurutnya, semua agama yang ada mengajarkan untuk melakukan kebaikan, bukan sebaliknya.

“Setiap pemeluk agama itu harus radikal. Tetapi dengan cara mengakar dari perspektif agama” ungkap Lukman Hakim saat menjadi keynote speech dalam dialog pencegahan paham radikal terorisme dan ISIS bertema “Peran Generasi Muda Dalam Pencegahan Terorisme” di Jogja Expo Center, Rabu (28/10/2015

Sehingga yang patut untuk diperangi dalam hal mencegah terorisme adalah perilaku ekstrim dalam memahami radikalisme tersebut. Bukanlah justru radikalisasinya. “Yang harus diperangi bukanlah pahamnya tapi perilaku ekstrimnya, yang mentolelir kekerasan untuk memaksakan kehendak,” tegas Luqman.

Dikatakannya, dalam ajaran Islam, arti jihad itu sendiri sering dipahami dengan cara yang salah yang sering diartikan untuk melakukan aksi teror.. Padahal sesungguhnya kata jihad itu mempunyai arti kata yang sangat luas, bukan dalam arti sempit yaitu dengan cara perang fisik.

“Dalam Islam kata jihad sering dijadikan justifikasi untuk mendasari seseorang melakukan kekerasan. Dalam bahasa itu arti Islam adalah salam kedamaian Seperti dengan cara menuntut ilmu dan membantu sesama yang membutuhkan. Jihad bisa juga diartikan haji mabrur, berbakti pada orang tua, menyampaikan kebenaran, dan masih sangat luas lainya. Itu contoh dari pemahaman jihad,” paparnya.

Dirinya menilai jika selama ini aksi-aksi teror yang terjadi adalah respon atas ketidak adilan yang dihadapi oleh oknum yang kemudian tidak disikapi dengan kesadaran untuk menghadapi dengan aturan yang ada. Sehingga ia merespon dengan cara instan dan cepat dengan menghalalkan cara kekerasan.

“Paham keagamaan sering menjadi justifikasi. Ajaran yang tidak pas sering dijadikan landasan untuk mentolelir kekerasan,” ucapnya.

Menurutnya, tidak hanya dalam agama Islam, namun semua agama mempunyai faham yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan zaman yang telah berjalan. Namun, dalam hakekatnya, seluruh agama itu mengajarkan kasih sayang, toleransi dan memanusiakan manusia. “Harus disatukan pemahaman itu, agar tidak yang memunculkan gesekan-gesekan yang diikuti tindak kekerasan yang tidak memanusiakan manusia,” tegasnya.

Ia juga melihat jika penanganan terorisme itu bukanlah hal yang yang bisa dipandang dalam perkembangan era globalisasi saat ini. Setiap orang dengan memegang smartphone dapat dengan mudah mengakses informasi baik yang bersifat positif dan negatif dalam era sekarang ini.

Di sisi lain dalam dunia maya, masyarakat juga dengan gampangnya menemukan situs-situs yang mengkafirkan pihak lain yang berbeda, dan memicu pertumpahan darah atas persoalan yang sebenarnya tidak prinsipil.

“Tidak tahu motif apa yang ada dalam situs yang menyebar paham radikalisme yang menjurus pada aksi ekstrim. Untuk itu saya juga sangat mengapresiasi BNPT yang berkomitmen serius menangani dunia maya,” jelasnya.

Luqman juga menyambut baik langkah dari BNPT untuk menggandeng Kemenag dalam penanganan terorisme. Salah satunya adalah dengan penandatanganan MoU penanganan terorisme. (IH)

BAGIKAN