Saturday, 31 October 2015

Menkopolhukam : Pergunakan Sosmed Untuk Tangkal Radikalisme dan Terorisme


 Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa generai muda pada saat ini telah menghadapi era digitalisasi yang salah satunya ditandai dengan pesatnya perkembangan sosial media (sosmed). Namun tidak menutup kemungkinan sosmed ini juga dijadikan alat oleh kelompok tertentu dalam menyebarkan ajaran radikalisme dan terorisme.

Untuk itu dirinya mengimbau, agar para pemuda dapat memanfaatkan sosial media (sosmed) sebagai penangkal radikalisme dan terorisme. Hal tersebut  Luhut, saat memberikan sambutan dalam Gelar Seni dan Budaya Nusantara yang digelar Badan Nasional  Penanggulangan Terorisme (BNPT)  di lapangan Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Jumat (30/10) malam.

BNPT menggelar acara tersebut dalam upaya pencegahan paham radikal terorisme dan ISIS terhadap Generasi Muda  yang bertepatan di Hari Sumpah Pemuda

“Ini juga yang perlu diwaspadai karena sosmed saat ini juga menjadi penyebaran ajaran radikalisme dan terorisme. Ini challenge. Untuk itu saya sangat senang dengan acara yang diselenggarakan BNPT ini dengan mengajak anak muda penggiat dunia maya, dalam memainkan dan menangkal teroris melalui media sosial," kata Luhut

Selain dengan metode hard approach, menurutnya masalah radikalisme dan terorisme juga bisa dihadapi dengan soft approach, misalnya dengan kebijakan pemerataan supaya tidak timbul civil opinion yang berujung pada radikalisme. “Karena akar persoalan munculnya radikalisme dan terorisme juga tak lepas dari  masalah ekonomi dan non ekonomi,” ujar pria yang dalam karir militernya dibesarkan di korps Baret Merah, Kopassus ini

Karena menurutnya, berdasarkan hasil sejumlah riset menunjukkan bahwa dari 400an anggota Al Qaeda, 90 persennya justru berasal dari keluarga yang harmonis, dan 75 persennya berpendiikan bagus. Hanya saja, mereka melihat kesenjangan dan ketidakadilan.

Luhut juga mengharapkak agar para pemuda Indonesia bisa mengikuti kata hati dan berdisiplin mengejar cita-citanya. “Kita akan menghadapi era pasar bebas Asean yang menuntut kita memiliki daya saing untuk mampu bertahan, itu jugalah yang harus dipegang generasi muda tapi tetap dengan hati yang bersih," imbuhnya.

Dalam kesempatran tersebut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi saat memberikan sambutan sekaligus menutup acara tersebut mengungkapkan bahwa terorisme merupakan musuh bersama. Karena itu, semua elemen bangsa, terutama kalangan pemuda, harus ikut serta mencegahnya.

“Tentunya saya berharap kepada seluruh pemuda baik dari kalangan mahasiswa, pelajar, maupun komunitas pemuda lainnya, agar bisa turut serta dalam sosialisasi BNPT terkait program pencegahan terorisme,” kata Imam Nahrawi.

Menurutnya, seluruh mahasiswa dan pemuda harus digerakkan bersama agar sadar bahwa ancaman terorisme itu ada dan nyata. “Dan untuk mengurangi penyebaran paham radikalisme dan terorisme, tentunya harus semakin banyak dilakukan sosialisasi sebagai solusi antisipasi,” katanya.

Dirinya berharap agar Kemenpora dapat bekerja sama dengan BNPT dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi pencegahan terorisme tersebut. Bahkan dirinya juga mengajak kepada anak-anak muda untuk terus berkreativitas dan tidak boleh menyerah dengan keadaan. "Karena di setiap diri pemuda itu punya potensi besar yang belum tergali,” ujar Cak Imam

Dipenghujung acara, pagelaran seni budaya ini menampilkan tarian dan musik kolosal dari berbagai suku yang ada di Indonesia. Selain itu para acara tersebut juga dimeriahkan oleh penyanyi Arman Maulana dan juga Charlie van Houten. (IH)

BAGIKAN