Friday, 16 October 2015

Mobil yang Ditumpangi Penyidik KPK Masuk Jurang, Ada Unsur Sabotase?


 Mobil yang ditumpangi tiga penyidik KPK dan petugas dari BPKP masuk ke dalam jurang di wilayah NTB, Rabu (14/10) malam. Kecelakaan naas itu kabarnya disebabkan kesalahan supir yang mengantar tim tersebut.

Plt Wakil Ketua KPK Johan Budi SP mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima, sopir yang membawa penyidik menggantuk.

Johan pun memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan itu. Namun dua penyidik KPK mengalami luka di bagian kepala. Seorang di antaranya adalah Novel Baswedan. Keduanya sempat dirawat dokter setempat.

Kecelakaan itu terjadi saat tim KPK sedang bertugas melakukan pengecekan fisik, terkait penyidikan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP.

Saat ini KPK memang tengah menyelesaikan sejumlah perkara, termasuk korupsi e-KTP. Sebelum ke NTB, para penyidik sempat mendatangi sejumlah kota di Pulau Madura. Mereka mengambil sampel pengecekan fisik alat-alat e-KTP. Sejauh ini, kasus e-KTP baru menjerat pejabat pembuat komitmen (PPK) dari Kementerian Dalam Negeri, yakni Sugiarto.

Banyak pihak menduga kecelakaan ini ada unsur sabotase. Pengamat politik dari Sigma, Said Salahuddin menilai wajar saja  jika muncul dugaan ada unsur sabotase dari kecelakaan tersebut karena publik tahu KPK  banyak musuhnya terutama para koruptor yang tentu berusaha agar kasusnya tidak diproses KPK. Bahkan ada yang menduga peristiwa itu jangan-jangan menggunakan ‘cara-cara halus’ semacam guna-guna yang bagi masyarakat daerah hal itu  merupakan sesuatu yang bisa dilakukan.

Namun menurut Said, terlepas dari itu semua, sebaiknya kecelakaan itu tetap diproses dan tidak dibiarkan begitu saja atau tidak dianggap sebagai kecelakaan biasa.

“Sebaiknya lakukan identifikasi murni unsur kecelakaan atau faktor lain. Kita juga perlu tahu supirnya apakah dari KPK atau bukan, kendaraan yang digunakan milik siapa, apa sudah dilakukan pengecekan kendaraan sebelum digunakan. Jadi ada olah TKP untuk identifikasi ada tidaknya unsur di luar kelalaian. Karena koruptor bisa melakukan segala cara, jadi jangan buru- buru mengatakan ini murni kecelakaan biasa,” tambahnya. (CSE/FastNews)

BAGIKAN