Friday, 27 November 2015

Laporan Pamungkas : Helikopter Presiden Mudah Jadi Sasaran Tembak


 "Helikopter AW-101 memiliki tiga engine, sehingga cenderung menimbulkan tanda tingkat kepanasan lebih tinggi dan mudah dideteksi pencari panas (menjadi sasaran tembak senjata dengan pencari panas), berbeda dengan helikopter EC-725 yang hanya dua engine," kata Direktur Produksi PTDI Arie Wibowo di Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/11).

Pernyataan Arie menyoal rencana pengadaan helikopter khusus Presiden dan Wakil Presiden yang menuai pro dan kontra. TNI AU menginginkan helikopter Presiden dibeli dari Italia yakni jenis AW-101, sedangkan sejumlah kalangan merekomendasikan pembelian helikopter dari PTDI yakni tipe EC-725.

Arie mengatakan pembelian helikopter AW-101 membutuhkan investasi tambahan, berupa pengadaan bengkel, fasilitas penunjang dan pelatihan pilot serta teknisi yang memakan waktu. Sedangkan pembelian EC-725 dipercaya tidak akan membutuhkan investasi tambahan karena EC-725 merupakan pengembangan dari helikopter superpuma yang selama ini digunakan Presiden dan Wakil Presiden RI.

"PTDI sudah mengembangkan superpuma menjadi EC-725, yang teknologinya tidak berbeda jauh dengan AW-101. Dengan EC-725, artinya bisa menggunakan pilot superpuma, penguasaan teknologinya lebih mudah," tuturnya.

Arie menekankan fitur-fitur yang ada pada helikopter EC-725 juga sudah sangat layak untuk VVIP sekelas kepala negara. Helikopter jenis ini sudah digunakan oleh sedikitnya 32 kepala negara di seluruh dunia. "Di setiap unit helikopter EC-725 PTDI terlibat dalam pembuatan fuselage (badan) dan tailboom (buntut) serta melakukan kustomisasi sendiri," jelasnya.

Menurut Arie, helikopter untuk kepala negara seyogyanya dibuat dan dirakit di negara asal, agar menjamin keamanan kepala negara. Dia menyampaikan apabila Presiden berminat menggunakan helikopter EC-725 maka PTDI siap menyelesaikannya pada akhir tahun 2016.

Helikopter Jokowi, Super Puma Vs AW-101, Mana yang Unggul
TNI Angkatan Udara membeli helikopter Agusta Westland AW 101 buatan Inggris. Helikopter yang akan didatangkan pada tahun depan tersebut akan menggantikan Super Puma buatan PT Dirgantara Indonesia untuk menunjang mobilitas Presiden Joko Widodo.

Pengamat penerbangan, Gerry Soejatman, mengatakan dua helikopter itu masing-masing mempunyai keunggulan. Namun, jika dari efisiensi, Gerry menilai AW 101 sangat mahal. “Harga bodongnya saja bisa mencapai US$ 45 juta,” kata Gerry, 25 November 2015.

Gerry mengatakan helikopter AW 101 didesain sekitar tahun 1980 dan mulai digunakan pada era 1999. Selain teknologinya yang lebih canggih dari Super Puma, helikopter ini juga dari segi desain lebih nyaman. Penumpang tak perlu merunduk saat akan keluar-masuk.

Namun, meskipun dari segi teknologi dan desain lebih unggul dari Super Puma yang mulai dirakit sejak sekitar 1970, Indonesia belum memiliki teknisi untuk merawat atau memperbaiki helikopter AW 101 jika mengalami kerusakan.

Sedangkan Super Puma, selain harganya lebih murah dan dibuat di dalam negeri, helikopter ini juga sudah cukup teruji karena terus mengalami perbaikan. “Tapi, misalnya terbang di daerah terpencil dan rusak, kalau Super Puma tinggal pesan saja dari Bandung dan teknisi sudah tersedia. Kalau AW mulai dari nol lagi,” ujar Gerry.

Menurut Gerry, seharusnya pemerintah bisa melihat perbandingan lain seperti Super Puma buatan dalam negeri sebelum memutuskan memilih AW. “Menjadi tanda tanya, lucu saja, kemampuannya terlalu lebih, harusnya sesuai dengan kebutuhan,” tuturnya.

Helikopter AW, kata dia, hanya digunakan empat kepala negara, di antaranya Nigeria, Algeria, Turkmenistan, dan Arab Saudi. Sedangkan Super Puma sudah diakui 32 negara. Bahkan ada sejumlah negara yang batal memesan AW karena beberapa kasus.

“Amerika Serikat pernah memesan tapi membatalkan karena dari segi perawatan dan pembenahan mahal. India juga pernah tapi batal karena ada skandal suap. Pemerintah India disogok,” ucap Gerry.

Alasan KSAU Mengapa TNI AU Beli AW-101 Jadi Heli Jokowi
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan, TNI AU akan membeli tiga helikopter untuk "very very important person" (VVIP) seperti yang telah tercantum dalam rencana strategis TNI Angkatan Udara periode 2015-2019.

"Untuk sementara dengan anggaran renstra, kita akan membeli tiga unit helikopter untuk skadron udara VVIP," kata KSAU di sela-sela acara silaturahmi dan makan bersama media massa di Wisma Angkasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 24 April 2015 malam.

Menurut KSAU, rencana pembelian helikopter AW-101 yang canggih dan modern yang belakangan ramai disebut sebagai heli Jokowi itu murni merupakan hasil kajian dari Skadron Udara VVIP. Kemudian dikaji di Mabes TNI. "Setelah dikaji dengan baik, saya memutuskan untuk membeli helikopter VVIP. Ini merupakan hasil kajian kita," kata Agus.

Terkait dengan permintaan agar helikopter itu dipasang antipeluru, kata KSAU, akan dilihat lagi anggarannya. Bila mencukupi, bisa saja dipasang antipeluru, anti-jamming, antirudal, dan lainnya. "Kalau helikopter Presiden AS dipasang segala macam, dengan anggaran bisa mencapai US$ 120 juta," kata Agus.

Pembelian helikopter VVIP yang diperuntukkan bagi presiden, wakil presiden, pejabat tinggi negara, dan tamu negara itu lebih mengutamakan safety (keamanan) dan kenyamanannya. "Kalau tidak safe, dan nanti terjadi apa-apa, saya yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, saya minta agar helikopternya safe," tutur KASAU.

Helikopter VVIP yang dibeli TNI ialah Agusta Westland AW-101. Ini adalah helikopter angkut menengah antikapal selam yang dapat digunakan untuk kepentingan militer dan sipil. Agusta Westland AW-101 dikembangkan oleh perusahaan patungan Westland Helicopters asal Inggris dan Agusta asal Italia. Helikopter ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata angkatan laut modern.

Selama ini, sejumlah pejabat negara, termasuk Presiden RI, mengunakan Helikopter Super Puma yang dioperasikan oleh Skuadron 17 VIP TNI AU yang bermarkas di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sebelum kemudian dirawat dan dioperasikan oleh Skuadron 45 VIP yang juga bermarkas di Halim.

Skuadron 17 dan 45 tersebut merupakan skuadron khusus yang menerbangkan pesawat-pesawat atau helikopter-helikopter untuk VIP dan VVIP. Skuadron 17 misalnya pernah membawa Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon dengan Boeing 737. Sedangkan Skuadron 45 mengkhususkan pada pengoperasian helikopter atau rotary wing aircraft.

Agus Supriatna menegaskan, pengadaan helikopter antipeluru Agusta Westland AW-101 itu bukan oleh Sekretariat Negara (Setneg) seperti Helikopter Super Puma itu. "Heli Super Puma pengadaannya oleh Setneg, tapi dioperasionalkan oleh TNI AU," kata KSAU.

Pengamat : Helikopter Baru untuk Jokowi Terlalu Mahal
Pengamat penerbangan Gerry Soejatman mengatakan keputusan TNI Angkatan Udara membeli helikopter AgustaWestland AW 101 buatan Inggris-Italia berlebihan. Menurut dia, selain harga helikopter yang mahal, Indonesia belum mempunyai teknisi khusus untuk melakukan perawatan.
“Pertanyaannya, apakah butuh? Helikopter itu terlalu mahal. Bodongnya saja sekitar US$ 45 juta,” ucap Gerry, Rabu, 25 November 2015.

Menurut Gerry, jika helikopter itu memang diperuntukkan untuk Presiden Joko Widodo yang gemar blusukan, dibutuhkan teknisi ahli. Selain itu, biaya operasionalnya tinggi. “Misalnya, jika terbang menggunakan Super Puma di daerah terpencil dan rusak, tinggal pesan saja dari Bandung dan teknisi sudah tersedia. Kalau AW, mulai dari nol lagi,” ujar Gerry.

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Dwi Badarmanto menuturkan satu unit helikopter yang akan didatangkan ke Indonesia pada tahun depan itu akan digunakan khusus untuk tamu VVIP, termasuk Presiden dan Wakil Presiden RI. Pembelian helikopter itu sudah masuk dalam rencana strategis TNI AU tahun 2014-2019.

AW-101 akan menggantikan Super Puma buatan Airbus Prancis yang biasanya digunakan untuk menunjang mobilitas Presiden RI. Dwi mengklaim helikopter tersebut mempunyai beberapa kelebihan, seperti memiliki tiga baling-baling yang membuat mesinnya lebih cepat.

Adapun PT Dirgantara Indonesia sudah bisa memproduksi helikopter Cougar, generasi terbaru Super Puma, yang setidaknya sudah 25 tahun digunakan TNI AU. Harga per unit helikopter buatan dalam negeri itu sekitar US$ 30 juta. (SRK/Tempo)

BAGIKAN