Sunday, 3 January 2016

China Bentuk Pasukan Roket dan Pasukan Pendukung Strategis

"Pembentukan Pasukan Roket, dan Pasukan Pendukung Strategis, adalah keputusan besar yang dibuat oleh Komisi Militer Pusat (KMP), untuk mewujudkan impian tentara yang kuat. Ini juga merupakan langkah penting dalam membangun kembali kekuatan modern,"
 Presiden China, Xi Jinping, meresmikan dua kekuatan baru di tubuh militernya, yakni Pasukan Roket dan Pasukan Pendukung Strategis, guna mewujudkan militer China yang kuat dan modern.

"Pembentukan Pasukan Roket, dan Pasukan Pendukung Strategis, adalah keputusan besar yang dibuat oleh Komisi Militer Pusat (KMP), untuk mewujudkan impian tentara yang kuat. Ini juga merupakan langkah penting dalam membangun kembali kekuatan modern," papar Presiden Xi.

Pembentukan dua kekuatan di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army/PLA), tersebut merupakan bagian dari komitmen Beijing untuk melakukan reformasi besar-besaran di tubuh militernya, sejak November 2015.

Pasukan Roket sebelumnya bernama Pasukan Artileri Kedua, yang merupakan pasukan khusus langsung di bawah kontrol dan komando KMP, guna melaksanakan serangan balik, saat China berada dalam kondisi bahaya.

Berdasar catatan, Pasukan Artileri Kedua yang dibangun China, untuk mematahkan monopoli penguasaan senjata nuklir oleh sejumlah negara besar yang diperkirakan memiliki sedikitnya 240 senjata nuklir dan 3.000 hulu ledak.

Dengan nama baru Pasukan Roket, keberadaan pasukan ini semakin kuat dengan penggabungan pasukan khusus dari darat, laut dan udara. Pasukan ini merupakan pasukan daya tangkal.

Sedangkan Pasukan Pendukung Strategis bertugas untuk melaksanakan dukungan kepada setiap unit strategis militer, terutama secara elekronik. Selain itu, China juga telah mempersiapkan pedoman pelaksanaan reformasi di tubuh militernya.

"Pedoman berisi apa saja yang harus dilakukan, bagaimana reformasi dilakukan, apa saja tahapannya, dan seterusnya, sehingga akan mewujud pada 2020," timpal juru bicara Kementerian Pertahanan China, Yang Yujun.

Terkait reformasi tersebut, China juga berencana memangkas personel militernya sebanyak 300 ribu orang dan akan merampingkan tujuh daerah komando militer yang tersebar di beberapa wilayah menjadi satu kesatuan di bawah satu kendali komando.

Reformasi tersebut bertujuan membangun militer China, yang efektif, efisien, modern, dan kuat terutama dalam menghadapi peperangan berbasis informasi, demikian Yang Yujun. (SRK/OkeZone)

BAGIKAN