Wednesday, 2 March 2016

Gubernur Jatim : Pancasila Sebagai Dasar Pembangunan di Jatim

“ Tahun 2015 uang yang masuk ke Jatim dari luar provinsi  ( perdagangan antara provinsi ) sebesar 452 trilyun, dan uang keluaran Jatim sebesar 352 trilyun. Sehingga tahun 2015, Jatim  surplus sekitar 99,831 trilyun,”
 Pancasila tidak tampak dan tidak kelihatan, di lorong sepi ada tapi tidak pernah ada yang menyapa. Untuk itu, kami setuju  dengan pendapat para Kyai bahwa di Indonesia itu adalah Islam Nusantara, karena dalam islam  memasukkan nilai- nilai cultural untuk mematahkan pasar bebas, kemudian Pancasila sebagai ramuan untuk membandingkan. Oleh karena itu, Jawa Timur  menggunakan Pancasila sebagai dasar dan ola pembangunan daerah.

Pernyataan tersebut  disampaikan Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo saat menjadi pembicara pada  acara Seminar Nasional Kembali ke Pancasila yang diadakan oleh PWNU Jatim dengan didukung pemprov. Jatim di Hotel mecure Subata, selasa (1/3).

Dikatakan, Liberalisasi itu hukumnya effisen tapi hal itu tidak cocok bila hal tersebut diterapkan di Indonesia. Sebagai contoh nyata yang saat ini sudah terjadi, yaitu 1 persen penduduk Indonesia telah menguasai 50 persen asset  di Indonesia dan hal tersebut merupakan orang terkaya di dunia yang ke – 3. Untuk itu, jangan menggunakan rumusan liberal yaitu suara terbanyak yang menang, itu tidak benar dan tidak rasional. Tapi gunakanlah dasar Musyawarah mufakat, yaitu kebaikan mutlak untuk diikuti.

Menurut Pakde Karwo, panggilan akrab Gubernur Jatim Sorkarwo, Jatinomic adalah sebagai solusi  keadilan. Mengapa Jatinomic, karena janomic menggunakan Pancasila sebagai dasar/ pola dalam menjalan pembangunan  daerah. Yang dimaksud Pancasila disini adalah harus bekerja dalam kesehariannya tidak hanya diam, karena dengan bekerja maka kita bisa menyelesaikan masalah dan masyarakatlah yang dapat merasakan hasilnya.

Tahun 2009 lalu, saya dan Gus Ipul mulai memimpin Jawa Timur, dan jumlah kemiskinan di jatim saat itu  sekitar 16,68 % begitu juga dengan hasil  pertanian  yang nilainya terus melorot atau turun, karena para petani langsung menjual setelah panen. Namun, setelah ada penanganan khusus yakni memberikan pelatihan dan sosialisasi bahawa hasil pertanian jangan dijual mentah melainkan harus diolah atau djadikan beras dulu baru dijual, maka tahun 2014 ada peningkatan  hingga 36,57 %. Begitu juga dengan tenaga kerja yang terserap di bidang pertanian hingga mencapai 30 % dan hasil pertanian yang dijual dalam bentuk makanan atau setengah jadi sebesar 29, 27 %.

Selain itu, tambahnya, untuk meningkatkan perekonomian Jawa Timur, pemprov. Jatim telah  menjalin kerjasama dengan provinsi- provinsi lain yang  ada di Indonesia. Hingga saat ini sudah ada sekitar 26 provinsi yang dijadikan duta atau  kantor perwakilan dagang Jatim untuk pemasaran hasil produk-produk Jawa Timur. Sekaligus  kantor perwakilan dagang yang ada di provinsi- provinsi itu juga menjadi kepanjangan tangan  Jawa Timur  untuk mengirimkan barang- barang asal Jatim ke Negara tetangga. Seperti dari perwakilan kantor dagang yang di Aceh mengirim barang Jatim ke Malaysia, Singapore dan dari NTB mengirimkan barang Jatim ke Australia serta dari  Kalimantan mengirimkan barang Jatim ke Jepang dan Eropa.

“ Tahun 2015 uang yang masuk ke Jatim dari luar provinsi  ( perdagangan antara provinsi ) sebesar 452 trilyun, dan uang keluaran Jatim sebesar 352 trilyun. Sehingga tahun 2015, Jatim  surplus sekitar 99,831 trilyun,” jelas Pakde Karwo.

Sebelum mengakhiri paparannya, Gubernur mengatakan, tahun 2016 ini Jawa Timur akan membuka ini akan membuka kantor perwakilan  Jawa Timur di Swiss dan Jepang serta Amerika. Dan tahun 2016  ini juga Jatim akan membuka pameran sekaligus kantor perdagangan di Singapore yang akan digunakan untuk memajang serta pameran produk- produk Jatim, mulai dari kopiah,  kipas hingga produk makanan serta batik yang menjadi khas Jawa Timur. Sehingga ke depan Jatim lebih dikenal di manca Negara melalui hasil UMKMnya.

Ditempat yang sama Ketua PWNU jatim KH. Hasan Mutawakil Alallah mengatakan, pancasila sebagai pilar Negara dan sebagai dasar Negara, oleh karena itu Pancasila tidak bisa dan tidak boleh diganti dengan apapun karena Pancasila meruapakan harga mati. Bila ada keinginan atau gerakan yang akan mengganti pancasila sebagai dasar dan pilar Negara, maka NU lah yang pertama kali menentang karena NU akan selalu menjaga Pancasila dan NU akan selalu bersama unsur negera/ stake holder untuk menjaga keberadaan Pancasila.

Karena pancasila telah terbukti lebih dari 70 tahun menjadi panutan pemerintah  dan Pancasila juga yang telah mengantar bangsa Indonesia menjadi bangsa multifungsi dan menjadikan bangsa Indonesoia yang bermartabat. Dan masalah ini juga merupakan amanah dari para ulama yang telah mendahului kita. Yaitu hubungan islam dengan Pancasila sebagai landasan perjuangan bangsa Indonesia. Jadi, antara agama atau islam dengan Pancasila adalah erat hbungannya dan tidak bisa dipisahkan.

Disamping itu, ulama kita juga terlibat langsung dalam membahas UUD’45 melalui PBHI dan pancasila meruapaka karya terbesar bangsa Indonesia. Pancasila yang mengajarkan kita dalam persaudaraan dan bersaudaraan Ukuwah islam. Oleh karena itu, Pancasila sebagai azas dan dasar Islam dan Agama sebagai aqidah, ( Pancasila bukan agama tetapi tidak bertentangan dengan agama).

Seminar Nasional sehari Kembali ke Pancasila  yang dimotori oleh PWNU ini mendatangkan empat pembicara baik dari pusat maupun dari jatim sendiri, yakni Gubernur jatim, Ketua PWNU jatim, KH. Mutawakil Alalh, EEp Saefulloh Fatah dan  Prof. Dr. KH A. Said Agil Siradj. 
(Adi/Humas pemprov. Jatim)

BAGIKAN