Friday, 1 April 2016

Kepala BNPT Tegaskan ISIS Lebih Bahaya Daripada Al Qaeda

Kepala BNPT, Komjen Pol Drs. Tito Karnavian, MA, PhD, memberikan pemaparan saat menjadi keynote speaker pada acara Dialog Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan ISIS di Kalangan Imam Masjid dan Dai Muda se-Jawa Tengah di Solo, Kamis (31/3/2016). (Foto : Dok. Humas BNPT)
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Pol. Drs.  Tito Karnavian, MA, Phd, menilai kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) lebih bahaya daripada kelompok Al Qaeda. ISIS juga meniru cara Nabi Muhammad SAW dengan konteks yang disamakan dengan kondisi saat ini.

“Mereka memiliki teritorial sehingga punya sistem dan network. Sekarang mereka memiliki daerah untuk menerapkan dan membangun network itu seakan ISIS itu adalah Daulah Islamiyah yang ditunggu-tunggu sehingga semua berangkat ke sana. Dari Eropa, Afrika, Australia, Asia, bahkan dari Indonesia sudah lebih 500 orang berangkat sana,” terang Tito saat memberikan pemaparan pada Diskusi Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan ISIS di Kalangan Imam Masjid dan Dai Muda se-Jawa Tengah di Solo, Kamis (31/3/2016).

Irjen Tito menjelaskan, ISIS adalah gabungan dua kelompok utama yaitu kelompok tauhid wal jihad di Irak yang didirikan Abu Muhammad Magdisi, dilanjutkan Abu Mussaf Jarkawi, yang kemudian mengenalkan doktrin baru doktrin takfiri. Setelah itu dilanjutnya muridnya, pendiri ISIS Abubakar Al Baghdadi.

Selain itu, ISIS juga meniru konsep perang Nabi Muhammad SAW. Seperti hijrah, mereka lakukan dari berbagai negara ke Suriah. Nabi Muhammad menjadikan Madinah sebagai Qoidah Aminah. ISIS menggunakan Suriah sebagai Qoidah Aminah, sehingga mereka juga mengenal ada Anshor. Mereka juga menterjemahkan cara-cara nabi itu dengan kondisi saat ini. 

Lebih bahaya lagi ISIS menggunakan doktrin takfiri dengan konsep tauhid. Artinya, bagi orang yang tidak menggunakan konsep mereka, dianggap boleh dihancurkan atau dibunuh.

“Kita dapat tumpahannya. Ingat tahun 2012 masjid di Cirebon meledak oleh bom bunuh diri saat Salat Jumat. Kalau Jamaah Islamiyah tidak melakukan itu, tapi bagi ISIS bisa melakukan itu kepada orang-orang yang tidak mau ikut mereka,” jelas Irjen Tito.

Keberadaan ISIS inilah yang membuat BNPT harus bekerja keras untuk membendung masuknya paham mereka ke bumi pertiwi. Apalagi mereka telah menggunakan network atau jaringan untuk melancarkan aksi dan merusak ideologi bangsa. Munculnya internet, membuat ideologi mereka semakin keras dan memunculkan adanya self radicalitation atau menjadi radikal tanpa guru. Juga munculnya fenomena lone wolf yaitu berani melakukan serangan sendirian, seperti seekor serigala.

“Dalam konteks ini, ideologi bisa kalah hanya dengan ideologi itu sendiri.  Ideologi tidak bisa kalah dengan kekerasan. Itulah yang menjadi dasar BNPT dalam menjalankan pencegahan di Indonesia, termasuk menggandeng imam masjid dan dai muda untuk memenangkan perang ideologi dan agama. Harapannya melalui imam masjid dan dai, para penganut paham radikal terorisme bisa melunak dan kembali ke ajaran Islam yang rahmatan lil alamin,” papar Tito.

Di tempat yang sama, anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH Hasyim Muzadi mengungkapkan, saat ini di Suriah ada ratusan ribu pengungsi dan 257 korban tewas akibat ISIS. Itu sangat menyedihkan, sehingga bangsa Indonesia harus waspada menghadapi ancaman ISIS.

“Mungkinkah keadaan seperti Suriah akan terjadi di Indonesia? Embrionya sudah ada, sekalipun belum eksklusif, Indonesia harus ada kewaspadaan nasional secara total dari ancaman ISIS. Alhamdulillah sekarang ada BNPT,” kata KH Hasyim Muzadi.

Senada dengan Kepala BNPT Irjen Tito Karnavian, Kiai Hashim menilai, pencegahan terorisme tidak cukup dilakukan BNPT, Polri, atau TNI saja. Itu karena basis ideologi tidak bisa diserahkan ke polisi atau militer, sehingga harus diserahkan kepada orang yang lebih dalam ideologi yaitu ulama, imam masjid, dan dai.

Fungsi ulama itu sangat penting pertama untuk meluruskan ideologi takfiri yang merupakan embrio perpecahan umat Islam. Kedua juga menyadarakan umat Islam yang teracuni paham radikalisme dan dibawa ke ranah politik negara dan internasional. Kalau itu terjadi, Indonesia akan menjadi ring peperangan seperti Suriah.

“Lihat di Suriah, di sana ada Rusia, Amerika, China, Turki, Arab Saudi, Perancis, dan lain-lain. Apa mau kita seperti itu? Marilah kita bersatu dan bersinergi mencegah ISIS demi keutuhan NKRI,” tutur KH Hasyim Muzadi.



BAGIKAN