Saturday, 5 March 2016

Musim Hujan, Dinkes Jatim Terus Pantau Kasus Leptospirosis


 Kurangnya masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta tingginya curah hujan, membuat penyakit leptospirosis (penyakit akibat bakteri Leptospira sp yang dapat ditularkan dari hewan tikus ke manusia) timbul kembali.

“Awal tahun kami menemukan dua kasus leptospirosis yang berasal dari dua daerah yaitu Trenggalek dan Ponorogo," kata Kepala Dinkes Jatim, dr Harsono.

Dikatakan Harsono kasus leptospirosis dari tahun ketahun mengalami penurunan. Pada  2013 jumlah kasus leptospirosis sebanyak 135 kasus, pada 2014 sebanyak 32 kasus, sedangkan 2015 sebanyak 24 kasus. "Pada awal tahun ini baru dua kasus yang berhasil kami temukan, ini menjadi permasalahan kita bersama," tuturnya.

Sebagai pengambil kebijakan, Dinkes Jatim akan berusaha kerasa dalam memberikan pelayanan dan pendidikan kepada masyarakat. Di ataranya dengan asistansi teknis kepada petugas kesehatan, menyediakan rapid test diagnosis dan melakukan penyelidikan epidemologi dengan melibatkan BBTKL dan BBLK untuk dukungan laboratorium.

Sementara Kasi Pemberantasan Penyakit Dinkes Jatim, Setyo Budiono, mengaku, salah satu penyebab seseorang tertular leptospirosis karena kurangnya masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Banyak masyarakat yang tidak sadar akan kebersihan lingkungan sehingga membuat perkembangan tikus semakin banyak. ''Jika tikus banyak maka penularan penyakit leptospirosis akan semakin meningkat,'' ucapnya.

Untuk diketahui, leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri Leptospira sp yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis).Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urine (air kencing) dan individu yang terserang penyakit ini dapat menjadi sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. Kemampuan leptospira untuk bergerak dengan cepat dalam air menjadi salah satu faktor penentu utama dapat menginfeksi induk semang (host) yang baru.

''Hujan deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir. Di Indonesia sendiri, penularan jenis penyakit ini paling sering terjadi melalui tikus pada kondisi banjir,'' ucapnya.
Dijelaskannya, dalam keadaan banjir menyebabkan adanya perubahan lingkungan seperti banyaknya genangan air, lingkungan menjadi becek, berlumpur, serta banyak timbunan sampah yang menyebabkan mudahnya bakteri leptospira berkembang biak. ''Jadi sebelum musin hujan datang lagi diharapkan masyarakat segera membersihkan lingkungan di sekitar rumah,'' ucapnya.

Perlu diketahui, pada 2013 Pemkab Sampang pernah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) leptospirosi. Sebanyak 95 orang terserang jenis penyakit karena terinfeksi kencing tikus, dan sebanyak 10 orang diantaranya meninggal dunia.

Untuk mengatasi penyakit leptospirosis Pemkab Sampang melakukan langkah-langkah pengendalian kasus melalui pembentukan tim penangulangan KLB Leptospirosis, meningkatkan penyelidikan epidemiologis (PE) dan deteksi dini penemuan kasus serta kegiatan gerakan kebersihan. (Adi/Kominfo)

BAGIKAN