Friday, 15 April 2016

Filipina Diminta Izinkan Pasukan Indonesia Bantu Pembebasan Sandera


 Pemerintah Filipina seharusnya mengizinkan pasukan Indonesia membantu upaya pembebasan 10 warga negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf.

Sebab, hingga lebih dari dua minggu sejak penyanderaan dilakukan 26 Maret lalu, upaya pembebasan belum juga membuahkan hasil.

"Kami berharap dalam waktu dekat ada perubahan sikap yang signifikan dari pemeritah Filipina karena waktu terus berjalan dan ancaman keselamatan bagi sandera kian hari kian besar," kata Anggota Komisi III DPR Sufmi Dasco Ahmad di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (14/4/2016).

Sebagai negara sahabat, Dasco menilai wajar jika kedua negara saling membantu. Filipina membantu menyelamatkan sandera WNI dan Indonesia membantu menghadapi pemberontak Abu Sayyaf.
Dasco memaklumi konstitusi Filipina 1987, yang menyebutkan pangkalan militer, pasukan, dan fasilitas militer asing tak diperbolehkan berada di Filipina. Namun, dalam konteks hukum internasional, sebenarnya sikap pemerintah Filipina tersebut masih bisa dinegosiasikan.

Menurut Politisi Partai Gerindra ini, setidaknya ada tiga hal yang bisa dijadikan alasan pelibatan Indonesia dalam pembebasan sandera.

Alasan pertama adalah kawasan hutan Tipo Tipo, Basilan memang secara de facto dikuasai oleh kelompok Abu Sayyaf sehingga pengiriman pasukan Indonesia dapat disamakan dengan pengiriman ke daerah yang tidak ada kekuasaan seperti halnya Somalia.

Alasan kedua, secara prinsip kehadiran pasukan Indonesia adalah justru untuk membantu pemerintah dan negara Filipina menghadapi pemberontak separatis yang mengganggu keamanan.

Sehingga pasukan Indonesia hadir di Filipina bukanlah sebagai musuh tetapi justru sebagai sahabat.
Alasan ketiga, secara teknis pasukan Indonesia akan berkoordinasi dengan militer Filipina dengan batasan waktu dan wilayah operasi yang sepesifik.

"Kasus penyanderaan 10 WNI oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan, hal tersebut menjadi preseden yang amat buruk bagi keamanan kawasan Asia Tenggara," ujar Dasco. (CSE/Kompas)

BAGIKAN