Saturday, 7 May 2016

Gawat! Dua Kontainer Berisi Senjata Raib, Ada Indikasi Untuk Mempersenjatai Kelompok Radikal Komunis

Illustrasi
 Hilangnya dua peti kontainer berisi senjata di pelabuhan Dili, Timor Leste membuat Indonesia was-was dan  semakin meningkatkan kewaspadaan sekaligus memperketat penjagaan disemua pintu masuk perbatasan. Kabar hilangnya dua kontainer berisi senjata tersebut menyebar setelah seorang Kepala Bea Cukai pelabuhan Dili berhasil ditangkap oleh kepolisian setempat di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motain, Prov. Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (2/5).

Hingga saat ini masih belum diketahui dimana posisi dua kontainer yang hilang tersebut berada dan memaksa aparat keamanan bekerja ekstra agar tidak kecolongan. Kekhawatirn pemerintah cukup beralasan mengingat saat ini paham radikal Komunis dan separatis semakin menggeliat sehingga berpotensi menimbulkan ancaman serius bagi keutuhan dan keselamatan negara.

Seorang pengamat sosial politik Rahman Sabon Nama mengingatkan pemerintah untuk terus meningkatkan kewaspadaannya terkait lenyapnya dua kontainer yang berisi senjata, karena kuat dugaan senjata-senjata yang raib tersebut akan diselundupkan ke Indonesia untuk mempersenjatai kelompok radikalisme seperti PKI yang saat ini terus menuntut adanya rekonsiliasi.

“Melihat situasi politik dan keamanan saat ini saya khawatir akan berdampak dan menimbulkan instabilitas Polkam” ujarnya.

Seorang aktivis pergerakan anti komunisme Ivan, S.H juga mengungkapkan pendapatnya jika tahun 1965 PKI juga nyaris mendapat pasokan senjata dari RRC sebanyak 100.000 pucuk jenis Chung dengan alasan mempersenjatai Angkatan ke V yang terdiri dari kaum buruh dan tani. Namun akhirnya upaya tersebut berhasil digagalkan oleh Menteri Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) yang saat itu dijabat oleh Letnan Jenderal A. Yani yang menganggap tidak efisien dan merugikan revolusi Indonesia. Selain Angkatan Darat, Angkatan Laut yang saat itu dibawah Laksamana Muda Martadinata juga menolak karena berpotensi disalahgunakan oleh PKI melalui Angkatan ke V.

“Indonesia tahun 1965 juga nyaris kemasukan senjata jenis Chung dari RRC, jangan sampai kali ini terjadi kembali, apalagi paham Komunisme saat ini sudah semakin mengkhawatirkan” Kata Ivan saat dikonfirmasi lewat selulernya.

Ivan juga menjelaskan, antara PKI dan TNI sejak dulu sering terlibat rivalitas Ideologi dimana PKI sangat berkepentingan merintis berdirinya negara Komunis sedangkan TNI sebagai unsur pertahanan negara berkepentingan mengamankan Pancasila sebagai Ideologi negara.

“Sejak dulu TNI dan PKI memang bersaing ketat memperjuangkan kepentingannya masing-masing, PKI dengan Ideologinya yang ingin mendirikan negara Komunis melawan TNI yang ingin mempertahankan Pancasila tetap sebagai dasar negara Indonesia” Ujarnya lagi.

BAGIKAN