Monday, 15 August 2016

Dunia Penerbangan Indonesia (71 Tahun Merdeka)

(Credit foto : Big Foot)
Terlepas dari siapa yang benar atau siapa yang salah dan bukan pula mencari pembenaran atas suatu golongan bahwa kemerdekaan sepatutnya akan selalu disertai oleh senyuman berbagai pihak yang menikmatinya. Begitu pula seharusnya dengan dunia penerbangan Indonesia. Dunia penerbangan sejatinya telah ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia baik militer maupun sipil. Sejarah yang tak bisa dilupakan adalah bukan milik pemenang perang, namun ada pada diri kita dan keturunan kita nantinya.

Memasuki usia kemerdekaan Indonesia yang ke 71, dunia penerbangan semakin menempati dirinya pada posisi yang memiliki taruhan tinggi dari segi perekonomian negeri. Tentu saja, karena wilayah Nasional Indonesia yang kita ketahui adalah dua per tiga lautan, dan hanya satu per tiga daratan serta semua bagian ter-cover oleh tiga per tiga bagian wilayah udara. Walaupun kedirgantaraan baru eksis sejak awal abad ke dua puluh, dimana sebelumnya segala perhubungan untuk penunjang utama perekonomian adalah kapal laut.

Sejak Wright bersaudara berhasil menerbangkan karyanya dan kemudian terus dikembangkan maka pada akhirnya dunia kemaritiman seluruh dunia menggunakan pesawat terbang demi tercapainya efektifitas dan efisiensi waktu sehingga perputaran perekonomian dunia dapat semakin cepat dan tepat sasaran. Ekspansi dari satu Negara ke wilayah lainnya baik bertuan maupun tak bertuan semakin tinggi diminati dari akibat semakin mudahnya mobilisasi maritim akibat adanya pesawat terbang dan bertransformasi dalam dunia kedirgantaraan.

Hanya disayangkan, ketika dalam 71 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, dunia penerbangan nasional Indonesia kerap saja diliputi berbagai permasalahan. Semakin bertambahnya pekerja pilot asing bercokol di negeri Indonesia berbanding lurus dengan jumlah lulusan Sekolah Pilot Ab Initio pilot-pilot muda yang kurang mendapatkan kesempatan untuk bekerja di negeri sendiri.

Sejatinya, medio satu dekade yang lampau, Indonesia melakukan ekspansi bisnis dunia penerbangan dengan berkembangnya berbagai macam maskapai baru. Saat itu dengan adanya Sekolah Pilot PLP Curug (sekarang STPI) yang tidak mampu mencukupi jumlah lulusannya demi mengisi posisi pada maskapai-maskapai baru tersebut. Ada dua langkah positip yang diambil Indonesia saat itu, dengan memberi ijin Sekolah Pilot swasta ikut mendidik para calon penerbang dan membuka kesempatan para pekerja pilot asing masuk ke Indonesia hingga beberapa posisi kosong terisi.


Satu dekade lebih terlewati, dari defisit menjadi surplus. Sungguh memperihatinkan, karena beberapa gejolak ekonomi dunia menyebabkan beberapa maskapai ataupun perusahaan penerbangan kolaps menjadi salah satu sebab semakin cepatnya pertumbuhan pilot baru tanpa lapangan pekerjaan yang memadai. Karena kondisi ekonomi pula, dapat menjadi sebuah kemungkinan penyebab beberapa perusahaan penerbangan lebih memilih mempertahankan kontrak pilot asing daripada mendidik generasi muda lulusan asli Indonesia karena biaya mendidik seorang pilot diduga sangat mahal.

Prinsip ekonomi, dimana dengan sedikit pengeluaran dapat memperbesar profit adalah hal yang wajar bagi sebuah perusahaan. Tidak ada satu pun perusahaan yang ingin jatuh dari dunia bisnis yang digelutinya. Dilematis, benar sekali bahwa banyak pula diantara pekerja pilot asing tersebut kebanyakan hanya mengambil jam terbang saja dan ketika mencukupi mereka kembali lagi ke negaranya dan bagi pilot ahli akan dipertahankan berbanding terbalik dengan pilot-pilot muda jobless yang semakin bertambah jumlahnya.

Resiko menganggur setelah lulus menjadi pilot adalah mimpi buruk anak-anak muda Indonesia. Siapa yang lupa, bahwa menjadi pilot adalah cita-cita mulia dan sangat favorit bagi anak-anak sekolah di seluruh dunia. Seperti Dokter, Insinyur bahkan Presiden bahwa menjadi pilot adalah cita-cita luhur dan sangat membuat generasi muda menjadi mampu bermimpi tinggi demi sebuah cita-cita. Dengan biaya sekolah yang mencapai delapan ratus juta rupiah, juga menjadi mimpi buruk bagi setiap orang tua ketika habis banting tulang demi tercapainya cita-cita sang anak, namun harus berakhir tragis karena setelah lulus Sekolah Pilot ternyata si anak jobless.

Dalam semangat kemerdekaan Indonesia yang ke 71 ini, sewajarnya dunia penerbangan Indonesia berharap akan ada solusi dari permasalahan ini dan setiap mimpi buruk regenerasi dunia penerbangan Indonesia dapat terselesaikan dengan baik. Dengan membuka “keran” yang tertutup, yakni ucapkan kata “STOP” dan lakukan! bagi ketidakkelanjutan kontrak kerja pilot asing di negeri Indonesia agar putra-putri terbaik bangsa ini bisa berkarya dengan penuh kebanggan di atas bumi Indonesia yang “gemah ripah loh jinawi”.

Salam Penerbangan!!!

Merdeka!!!

Oleh: Capt Teddy Hambrata Azmir (Komite Penerbangan Umum Ikatan Pilot Indonesia)

BAGIKAN

0 comments: