Thursday, 1 September 2016

Ibadah Haji Momentum Persatuan Umat dari Keaneka Ragaman Budaya


Idul Adha atau Hari Raya Haji adalah momentum untuk mempersatukan seluruh umat muslim diseluruh dunia. Meskipun terdapat perbedaan bahasa, suku, budaya dan adat istiadat tentunya tidak menghilangkan esensi utamanya yakni kesatuan rohania yang saat ini tengah dijadikan alat oleh kelompok radikalisme untuk melakukan upaya adu domba mengatasnamakan agama.

Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Prof Asep Usman Ismail guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah saat memaparkan pandangannya ke sejumlah awak media.

“Ibadah Haji memang sebuah ritual tapi tidak sekadar itu, karena harus kita lihat esensinya. Bukan sekadar ritual dimana kita naik haji kemudian pulang mendapat gelar haji, bu hajjah dsb. Haji sebenarnya mengandung makna simbolik yang dalam sekali untuk persatuan dan kesatuan umat Islam di Indonesia maupun dunia,” kata guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Asep Usman Ismail, kepada media, Rabu (31/8/2016).

Lanjutnya lagi dalam momen Idul Adha ini ia mengajak seluruh umat manusia terutama muslim untuk memperkuat persatuan dan tali persaudaraan, terutama dalam memerangi bahaya radikalisme dan terorisme. Dikarenakan, radikalisme dan terorisme tidak dibenarkan Islam, apapun bentuknya. Seperti halnya yang terjadi pada serangan di halaman Masjid Nabawi, Madinah beberapa waktu lalu.

Asep mengingatkan, perayaan Idul Adha merupakan puncak ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim. Seperti kita ketahui bersama, Idul Idha disebut pula sebagai Idul Qurban atau Lebaran Haji. Ia juga menegaskan islam tidak melihat dimana tempat seseorang dilahirkan.

“Itu hanya masalah tempat tinggal, lalu dari tempat tinggal itu lahir sistem sosial, itu lahir cinta tanah air, muncul nasionalisme, kebangsaan, budaya dll. Nasionalisme itu pangkalnya tempat tinggal, lalu muncul cinta tanah air. Itu kenyataan yang tak bisa dihindari.  Lahir di Mekah atau Indonesia maka dia cinta pada tanah kelahiran. Itu perbedaan dan Islam yang mempersatukannya,” terangnya.

“Ajaran dasar Islam itu dirancang sistematik, sistemik, dimana semua komponen satu sama lain saling menguatkan. Simbolik yang mempersatukan umat Islam itu sebetulnya banyak, salah satunya adanya Ka’bah. Itu yang mempersatukan umat,” katanya.

Sholat itu adalah doa jarak jauh, sedangkan haji adalah jarak dekat. Jutaan orang dari berbagai belahan dunia berkumpul di satu titik.

“Di momentum itu, orang akan merasa satu misalnya ketika mengelilingi Ka’bah dan berada di Mina untuk melempar jumroh. Puncaknya dimana umat merasa bersatu adalah ketika wukuf di mana semua memakai kain putih. Jadi semua identitas, atribut dilepas dan hanya memakai kain putih. Kain putih itu sebenarnya bukan warna. Putih itu menggambarkan kesucian, kebersihan dan persamaan. Ada makna folosofisnya yaitu menggambarkan kematian. Karena ketika mati , semua orang muslim itu akan ditutup dengan kain kafan yang warnanya putih,” katanya. (Adri Irianto)


BAGIKAN

0 comments: