Thursday, 11 August 2016

Tidak Terima Gurunya Dikeroyok, Ratusan Siswa SMKN 2 Makassar Mendatangi Kantor Polisi

Ratusan siswa SMKN 2 Makassar mendatangi Mapolsekta Tamalate membela gurunya yang dikeroyok siswanya sendiri (Foto : Kompas)
Tingkah anak dan orang tuanya satu ini memang bisa dibilang keterlaluan dan tidak tahu aturan, gara-gara tidak terima ditegur karena tidak mengerjakan PR murid siswa SMKN 2 Makassar memaki dan mengajak orang tuanya mengeroyok seorang guru hingga babak belur.

Dahrul (52) korban pengeroyokan MA (15) dan orang tuanya yang bernama Adnan Achmad (43) kemudian melaporkan perkara ini ke Polsekta Ternate untuk menuntut keduanya agar diproses hukum, Kamis (11/8/2016).

Akibat penganiayaan tersebut Dahrul mengalami luka memar di wajah dan tulang hidungnya patah akibat pukulan keras yang diterimanya.

Kasus tersebut bermula saat MA tidak mengerjakan tugas sekolah sehingga mendapat teguran dan disuruh keluar kelas oleh Dahrul. Tidak terima, MA menghubungi orang tuanya Adnan yang kemudian mendatangi Dahrul di ruang kelas kemudian mengeroyoknya.

Ratusan Siswa SMKN 2 Makassar Mendatangi Polsekta Mendukung Dahrul
Tidak terima gurunya diperlakukan kasar dan dikeroyok hingga mengalami luka, ratusan siswa SMKN 2 Makassar didampingi PGRI Sulawesi dan guru se-Kota Makassar mendatangi Mapolsekta Tamalate, Kamis (11/8/2016) untuk memberikan dukungan pada Dahrul.

Mereka meminta aparat kepolisian segera menindak tegas pelaku dan memberikan hukuman setimpal atas perbuatannya mengeroyok seorang guru.

Dari pihak siswa dengan suara lantang menggunakan pengeras suara juga meminta kepada pihak sekolahan agar pelaku dikeluarkan dari sekolahan mengingat selama berada di lingkungan sekolah pelaku kerap mengganggu siswa lainnya.

Aksi siswa, guru-guru, dan PGRI Sulsel ini dikawal ketat aparat kepolisian. Kepala Polsekta Tamalate Komisaris Polisi Muh Azis Yunus memberikan penjelasan bahwa pihaknya tetap menegakkan hukum sesuai aturan yang berlaku.

"Siswa dan orangtuanya yang memukul kita sudah tetapkan sebagai tersangka. Sejak kemarin sampai sekarang masih ditahan. Keduanya kita kenakan Pasal 170 tentang Pengeroyokan," kata Azis di hadapan pengunjuk rasa.

Ketua PGRI Sulsel Wasir Thalib berjanji akan tetap mengawal kasus ini dan menyiapkan dua pengacara untuk mendampingi korban.

"Kita tuntut proses hukum. Sudah banyak juga guru yang diproses hukum gara-gara siswa. Jadi, kasus guru dipidana terjadi di Kabupaten Bantaeng, Selayar, Sinjai, dan Enrekang. Saatnya guru yang bertindak juga," kata Wasir.

BAGIKAN

0 comments: