Saturday, 3 September 2016

ICMI Akan Bantu BNPT Cegah Paham radikal di Kalangan Akademisi

Ketua Umum ICMI, Jumly Asshiddiqie (kelima dari kiri) didampingi pengurus ICMI berfoto bersama dengan jajaran BNPT pimpinan Komjen Pol Suhardi Alius (keempat dari kanan) usai membicarakan fonomena terorisme yang saat ini sudah mulai menyebar di kalangan intelektual di kantor ICMI, Jakarta, Jumat (2/9/2016) . ICMI sendiri siap membantu BNPT untuk mencegah paham tersebut di lingkungna pendidikan. (Foto - Dok. BNPT)
 Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) akan membantu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam mengatasi radikalisme dan teterorisme yang saat ini sudah mengarah kepada kalangan akademisi atau intelektual.

Hal tersebut dikatakan  Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Prof Dr. Jimly Asshiddqie,SH, saat menerima kunjungan Kepala BNPT Komjen Pol Drs. Suhardi Alius, MH di kantor pusat ICMI, Jl. Proklamasi No.53, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (2/9/2016).

“Kita membicarakan fonomena yang terjadi di dunia kampus kita. Jadi sekarang ini radikalisme sudah berkembang, bukan hanya di tingkat grassroot saja  seperti dikalangan orang miskin, terbelakang dan sebagainya yang selama ini diasumsikan, tetapi sekarang ini sudah melibatkan orang-orang yang berpendidikan tinggi,” ujar  Jimly Asshiddqie,

Menurut Jimly, sekarang ini sudah banyak orang yang bergelar Doktor, Profesor sudah terpengaruh paham radikal terorisme. Dirinya mencontohkan seorang dokter yang di Kalimantan beberapa waktu lalu yang diduga bergabung dengan kelompok radikal. “Jadi metode brainwash yang dilakukan kelompok teroris ini ternyata efektif, dan itu merebak kemana-mana,” ujarnya.

Bahkan di kampus sekarang ini menurutnya sudah mulai kemasukan seperti dengan gerakan dengan mengataskanaman pengajian mahasiswa, pengajian dosen. “Baru sebulan ngaji celananya sudah cingkrang, dalam artian cingkrang yang ektrim bagi mereka sudah terpapar radikalisme, ini yang sangat dikhawatirkan.  Jadi inilah yang kita bahas,” ujarnya.

Dikatakannya, pihaknya juga sampai terkaget-kaget dengan data-data yang dibawa Kepala BNPT. Pihaknya selama ini sebenarnya sudah tahu ada gelombang yang harus diatasi di lingkungan perguruan tinggi ternyata ini lebih gawat lagi.

“Bukan hanya di perguruan tinggi, tetapi juga di lingkungan sekolah. Bahkan di anak-anak jenjang Sekolah Dasar pun sudah mulai terpengaruh Media Sosial ini sudah sangat membahayakan,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi ini menjelaskan

Oleh karena itu ICMI menurutnya,  tidak hanya berpikir tentang kelas kaum intelektuail atau para sarjana di kampus. Tetapi kita juga punya program untuk anak SMA. Intinya ICMI bersepakat dengan BNPT untuk melakukan partnership. Dan  BNPT sendiri sudah melakukan dengan semua kalangan.

“Kita mengpresiasi dengan apa yang sudah dilakukan BNPT dengan memperluas parnership dengan kesadaran bahwa mengatasi radikal terorisme tidak bisa sendirian. Kita mesti bareng-bareng. Karena peradaban Indonesia yang sudah maju ini tidak bisa ditopang dengan unsur kekerasan,” katanya.

Dan ICMI menyadari bahwa masalah ini adalah masalah yang sangat serius, harus bersama-sama dengan kekuatan islam moderat dan semua kekuatan moderat kebangsaan untuk mendukung upaya ini, bukan hanya mendukung BNPT, tetapi ini membantu Indonesia supaya maju.

“Kita tidak bisa maju kalau memelihara kekerasan. Budaya kekerasan yang selama ini ada ya harus dihilangkan dari budaya kerja Indonesia. Untuk itu ICMI akan membantu BNPT dalam mengatasi radikalisme terorisme dengan menggerakkan roda deradikalisasi dan kontra radikalisasi,” katanya mengakhiri.

Dalam pertemuan tersebut Ketua ICM didamping pengurus seperti  Wakil Ketua Umum ICMI Drs, Priyo Budi Santoso, MAP, DR. Sri Astuti Buchori, M.Si dan Sekjen ICMI DR. Ir. Muhammad Jafar Hafsah. Sementara.Kepala BNPT didampingi Deputi I BNPT bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi, Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir dan Direktur Pencegahan Brigjen Pol. Drs. Hamidin. (Adri Irianto)


BAGIKAN

0 comments: