Thursday, 8 September 2016

Kepala BNPT Resmikan Pembangunan Pesantren Rehabilitasi dan Deradikalisasi Bagi Mantan Terorisme


 Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH meresmikan dan melakukan peletakan batu pertama pembangunan pesantren Darusy Syifa, yang berada di Dusun IV, Desa Sei Mecirim, Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (07/09/16). Ini akan menjadi pesantren pusat rehabilitasi dan deradikalisasi pertama di Indonesia.

Dalam sambutannya, Kepala BNPT mengapresiasi keberadaan pesantren ini, dan secara khusus kepada ust. Khoirul Gazali yang telah menginisiasi pendekatan deradikalisasi melalui pendidikan pesantren.

“Sentuhan penanggulangan terorisme tidak cukup dengan kekerasan, tetapi harus dengan pendekatan lunak dalam bingkai kemanusiaan yang salah satunya melalui pendidikan dan pembinaan” ungkapnya.

Kepala BNPT juga menjelaskan bahwa pesantren ini akan dijadikan role model bagi proses pendekatan baru dalam deradikalisasi. Harapannya di beberapa daerah akan dibangun pesantren sama yang dapat membina anak dan keluarga mantan teroris sehingga dapat mereduksi penyebaran paham radikal terorisme.

Suhardi mengharapkan bantuan seluruh pihak dalam merealisasikan pembangunan masjid di area pesantren tersebut. Dalam acara tersebut diserahkan pula secara simbolis hewan kurban dan hibah al-quran dari BNPT kepada pesantren.

Sementara itu mantan teroris Khiorul Gazali, sekaligus Pengasuh Pesantren Darusy Syifa mengatakan bahwa pendidikan di pesantren merupakan cara efektif dalam memutus mata rantai terorisme. Gazali menjelaskan bahwa pesantren ini dibangun berdasarkan keperihatinan atas kondisi anak dan keluarga narapidana terorisme dan mantan teroris yang kurang mendapatkan perhatian.

Kondisi demikian akan membangkitkan rasa dendam baru bagi anak teroris jika tidak didekati dengan pendekatan lunak melalui pendidikan. Karena dalam doktrin mereka dikenal biirul walidain (berbakti kepada orang tua) yang berarti berbakti dengan dengan cara menebus kematian dan perlakukan aparat terhadap orang tua mereka.

Lebih lanjut, Gazali menjelaskan bahwa pendidikan seperti pesantren ini akan memutus mata rantai dendam generasi terorisme. Inilah sebenarnya inti program deradikalisasi yang harus dilakukan oleh BNPT. Penyebaran paham dan dendam terorisme akan dihentikan apabila banyak ditemukan pesantren seperti ini yang dapat menampung anak-anak dan keluarga mantan teroris.

Sebagaimana diketahui Pesantren Darusy Syifa ini merupakan pesantren yang selama ini menampung anak dan keluarga narapidana terorisme, mantan teroris dan mereka yang sudah terpapar paham radikal. Saat ini jumlah santri yang menempuh pendidikan di pesantren ini berjumlah 20 orang.

Di dalam pesantren ini tidak hanya diajarkan pendidikan keagamaan, tetapi juga keterampilan dan pendidikan skill bagi para santri. Di area pesantren ini terdapat kolam ikan dan persawahan yang digunakan para santri untuk belajar kewirausahaan. Dalam perencanaan pembangunan mendatang akan dibangun pula sekolah menengah pertama dan sekolah kejuruan.

Turut hadir dalam peresmian ini antara lain Kapolri yang diwakili oleh mantan Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT Brigjen Pol Drs. Rudy Suprihadi yang saat ini menjabat Kapolda Sulawesi Tengah yang juga Penanggung Jawab Komando Operasi Tinombala 2016, Direktur Pelindungan BNPT Brigjen Pol Drs. Herwan Chaidir, Anggota Komisi III, HR. Muhammad Syafii dan perwakilan Forkopinda Sumatera Utara. (Kumala Dewi)


BAGIKAN

0 comments: