Tuesday, 27 September 2016

Lecehkan Tugas Wartawan, Irene Terancam Masuk Bui dan Denda Rp. 500 Juta


 Persidangan terkait perampasan kamera wartawan yang saat ini tengah berjalan di Pengadilan Negeri Surabaya antara Slamet Maulana wartawan media online dengan Irene Madalena seorang ibu rumah tangga telah memasuki babak baru. 

Irene selaku terlapor akhirnya dipanggil dan dihadirkan sebagai terdakwa atas tuduhan perampasan kamera wartawan yang saat itu tengah melakukan tugas jurnalistiknya terkait peristiwa tabrak lari yang terjadi sekitar 4 tahun silam.

Atas sikapnya tersebut, Irene terancam dikenai sanksi pidana yakni pasal 18 ayat 1 UU RI Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers dengan hukuman penjara maksimal 2 tahun atau denda sebesar Rp 500 juta. Namun, dalam persidangan ini Hakim Efran Basuning S.H, MH, dari Pengadilan Negeri (PN) Surabaya tidak melakukan penahanan terhadap terdakwa.

Dalam persidangan, Slamet selaku saksi mata yang mengalami perampasan kamera diminta menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya. Dalam kesaksiannya, Slamet menceritakan  jika aksi perampasan kamera tersebut terjadi pada sekitar bulan Oktober 2012 saat dirinya sedang dalam perjalanan pulang usai melakukan tugas jurnalistik di beberapa lokasi hiburan malam sekitar Kota Surabaya.

Ketika melintas di jalan HR Muhammad, Slamet dicegat oleh salah seorang satpam dan diberitahukan jika ada kejadian tabrak lari sedangkan pelakunya menggunakan mobil Toyota Wish yang terus melaju kencang mengarah ke diskotik M-One Mall PTC Pakuwon City.

“Setelah diberitahu Satpam saya langsung menuju diskotik M-One untuk menemui pelaku dan memintai keterangan sekaligus ambil gambar. Saya sempat memperkenalkan diri sebagai wartawan yang tengah meliput kejadian laka lantas yang melibatkan terdakwa, merasa terganggu terdakwa lantas merampas kamera yang saya pegang,” ujar Slamet dihadapan hakim.

Tak terima dengan perlakuan tersebut, Slamet kemudian melaporkan Irene ke Polisi yang saat itu sedang di tempat kejadian perkara (TKP). Bukannya minta maaf, Irine justru memaki dan membentak petugas polisi yang saat itu juga hendak mengamankan Irine untuk dimintai keterangan di kantor polisi. 

Usai memaki tidak lama kemudian Irene langsung mengembalikan kamera yang dirampasnya dari Slamet melalui orang lain yang saat itu juga kebetulan posisinya tidak jauh dari TKP.

“Kamera yang pernah dirampas dikembalikan, tapi bukan dia yang menyerahkan melainkan kamera itu diserahkan oleh orang lain,” paparnya Slamet.

Tapi Slamet kaget setelah diperiksa ternyata memory card yang ada didalam kamera miliknya sudah tidak ada pada tempatnya dan saat ditanyakan kembali Irene mengaku tidak tahu.

Kesaksian Slamet sempat dibantah oleh Irene dengan mengatakan jika apa yang dikatakan Slamet itu adalah bohong dan tidak benar. Bahkan dirinya sempat menantang balik untuk dikonfrontir dengan petugas kepolisian dari Polrestabes Surabaya yang saat itu juga ada di lokasi kejadian.

“Keterangan saksi bohong Pak, saya berani dikonfrontir,” kata terdakwa Irene seperti dikutip dari laman Buserkriminal.com. (Baca juga : Kasus Perampasan Wartawan, Slamet Mendapat Ancaman Hendak Dibunuh)

Seperti diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ferry Rahman dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya akhirnya mendudukkan Irine Madalena (45) di kursi pesakitan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Surabaya.

BAGIKAN

0 comments: