Tuesday, 6 September 2016

Masyarakat Harus Terus Waspada Penyebaran Paham Radikal Melalui Dunia Maya

Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH (kanan) menjawab pertanyaan dari audience saat acara sarasehan nasional 4 pilar MPR RI dan Kesadaran Bela Negara yang digelar di Gedung Nusantara V, MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (5/9/2016). Dalam kesempatan tersebut Kepala BNPT meminta kepada seluruh masyarakat untuk mewaspadai penyebaran paham radikal terorisme melalui dunia maya yang saat ini semakin masif. (Foto : Dok. BNPT)
 Kepala BNPT Komjen Pol Drs. Suhardi Alius, MH menjadi pembicara dalam acara Sarasehan Nasional Empat Pilar MPR RI dan Kesadaran Bela Negara yang digelar di Gedung Nusantara V, MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (5/9/2016).  Sarasehan tersebut digelar dalam rangka menyambut dan memperingati HUT MPR-RI ke-71.

Dalam paparannya yang bertema “Meningkatkan Kewaspadaan Guna Mengantisipasi Radikalisme dan Terorisme”, Kepala BNPT meyakini jaringan teroris di Indonesia masih ada dan terus berkembang. Untuk itu, masyarakat wajib mewaspadai keberadaan teroris serta gerak-geriknya.

“Gerakan teroris ini sekarang beraksi dalam kelompok kecil. Masyarakat harus terus waspada. Apalagi saat ini menjadikan seseorang sebagai pelaku teror tidak perlu lagi harus mengenyam pendidikan militer di Afghanistan atau di tempat lainnya, seperti yang dilakukan kelompok teror yang dulu,” ujar Kepala BNPT.

Pria yang pernah menjabat sebagai Kabareskrim Mabes Polri dan Kapolda Jawa Barat ini mengatakan bahwa dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, saat ini generasi teroris baru cukup diasah dengan perjumpaan yang intensif melalui media sosial dengan memanfaatkan internet.

“Apalagi sekarang ini kalau mau membaiat seseorang cukup melalui chatting saja. Seperti yang terjadi di Medan kemarin. Pelaku cukup dicuci otaknya melalui dunia maya, tidak perlu harus datang ke yang membaiat sambil di doktrin-doktrin deskruktif yang dibungkus dengan militansi keagamaan,” kata mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan dan Depok  ini.

Media-media sosial seperti facebook, twitter, youtube dan sebagainya menjadi sarana yang paling efektif digunakan oleh kelompok radikal dalam melakukan penyerabaran pahamnya. “Salah satu contoh yang percobaan peledakan bom di gereja dan menyerang pendeta, pelakunya banyak belajar dari chatting melalui media sosial,” tuturnya.

Oleh karena itu, Jenderal kelahiran Jakarta, 10 Mei 1962 berpangkat bintang tiga yang dalam karir Polisinya banyak dihabiskan di korps Reserse ini juga meminta peranan orang tua dan keluarga menjadi sangat penting sekali agar anak-anaknya tidak mudah terpapar paham radikal terorisme.

“Disini peran keluarga itu sangat penting. Orang tua harus sudah mulai bisa mendeteksi sejak dini jika melihat anaknya sudah mulai sering menyendiri, tidak mau lagi berkumpul bersama teman-teman yang biasanya bermain bersama, atau kadang sudah sering menyendiri di kamar apalagi kalau sudah pegang gadget. Itu harus diwaspadai,” ujar Alumni Akpol 1985 ini.

Selain itu menurut Kepala BNPT, terorisme yang berkembang di Indonesia ini juga dipengaruhi oleh sejarah masa lalu yang mengatasnakan agama seperti kelompok DI/TII, NII. “Bahkan ada survey di kalangan pesantren di Jakarta dimana 25 persen setuju dengan adanya Negara Islam. Ini yang patut diwaspadai bersama,” kata  mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri ini. (Adri Irinto)


BAGIKAN

0 comments: