Monday, 26 September 2016

Berlakukan Petrus, Menlu Filipina Melarang Negara Lain Ikut Campur

Di fillipina penembakan misterius (Petrus) untuk membasmi genk Narkoba sudah mulai diberlakukan, terlihat Olaires menangisi jasad suaminya yang tewas terkapar ditembak orang tak dikenal.
 Dalam pidatonya di hadapan para pemimpin negara di Sidang Majelis Umum PBB di New York Menteri Luar Negeri Filipina, Perfecto Yasay minta kepada negara lain agar tidak ikut campur urusan dalam negeri Filipina.

Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh Yasay terkait adanya tantangan domestik yang dihadapi negaranya.

"Kami mendesak setiap orang mengizinkan kami menghadapi tantangan dalam negeri untuk bisa mencapai tujuan nasional kami tanpa campur tangan yang tidak perlu," ujar Yasay, seperti dikutip dari kantor berita AFP, Senin (26/9)

Bukan hanya itu, Yasay mengungapkan kegeramannya kepada beberapa negara yang justru dianggap menghalangi upaya penegakan hukum diwilayahnya khususnya dalam hal ini penindakan terhadap pelaku pengedar Narkoba.

Diketahui, pemerintahan Filipina sejak berada dibawah Presiden Duterte sudah sekitar 3.000  pengedar dan pemakai Narkoba yang dibunuh. Sepertiganya dibunuh oleh polisi dan sisanya dilakukan penyerang tidak dikenal sejenis penembakan misterius (Petrus) yang pernah diberlakukan di Indonesia saat era Presiden Soeharto.

Hal ini juga yang membuat PBB, Uni Eropa dan Amerika Serikat bersuara keras terkait tindakan pemerintah Duterte yang dianggap melakukan pembunuhan tanpa peradilan.

"Kami tidak punya dan tidak akan pernah memberdayakan penegak hukum untuk menembak atau bahkan membunuh orang-orang yang diduga penjahat narkoba," ucap Yasay yang dilansir dari laman Merdeka.com.

Menurutnya, pembunuhan ekstrayudisial tidak memperoleh tempat dalam masyarakat dan sistem peradilan pidana Filipina. Tak hanya itu, Yasay menyebutkan 92 persen masyarakat Filipina setuju atas tindakannya.

Yasay menuturkan, kampanye perang narkoba yang dilakukan Duterte sepertinya telah disalahpahami oleh masyarakat dunia.

"Aksi kami, bagaimana pun, telah menjadi berita utama nasional dan perhatian internasional dan ada kesalahpahaman di sana," tuturnya.

Yasay dengan tegas mengatakan, negaranya tidak akan bisa memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) baru PBB yang diadopsi tahun lalu, jika tidak menangani korupsi dan narkoba di Filipina.

BAGIKAN

0 comments: