Sunday, 25 September 2016

Si Mayor dengan Wawasan Jenderal, Petarung Muda Pilgub DKI 2017 dari Cikeas


 Peta pertarungan politik memperebutkan kursi Pilgub DKI 2017 semakin panas dan seru dengan hadirnya sosok Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berpasangan dengan Sylviana Murni. AHY yang secara tiba-tiba menyerahkan surat pengunduran dirinya ke Markas Besar Angkatan Darat telah mengejutkan banyak pihak karena tidak ada yang menduga putra sulung SBY yang mengawali kariernya di militer dengan gemilang secara mendadak mengambil langkah berani dengan meletakkan “tongkat komando” kebanggaannya untuk bertarung di Pilgub 2017 melawan incumbent Ahok dan cagub lainnya.

Ada sebagian suara publik yang menyayangkan langkah ini namun tidak sedikit juga yang mendukung langkah AHY sebagai langkah menuju perubahan untuk warga DKI jika terpilih.

Oleh sejumlah pengamat, keputusan AHY dinilai cukup berani dan strategis. Dikatakan strategis karena targetnya tidak hanya Pilgub tapi bisa lebih dari itu jika dalam Pilgub 2017 ini berhasil memperoleh kemenangan.

Dimata publik, AHY dikenal sebagai sosok yang kharismatik dan smart. Saat menempuh pendidikan di sekolah militer Angkatan Darat Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat (AS), AHY dianugrahi tiga gelar yaitu Distinguish International Honour Graduated, Medali The Order of Saint Maurice, dan The Commandants List.

Siapakah sosok fenomenal AHY ini?
AHY adalah anak pertama pasangan mantan presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ani Yudhoyono putri seorang tokoh terkenal di korps baret merah Kopassus Sarwo Edhie. Di usianya yang ke 18 tahun AHY mengenyam pendidikan sekolah menengah di SMA favorit Taruna Nusantara Magelang tahun 1994, dan diakhir pendidikannya AHY berhasil meraih medali Garuda Trisakti Tarunatama Emas tahun 1997 dimana medali tersebut hanya diberikan pada siswa yang memiliki predikat sebagai lulusan terbaik.

Selesai mengikuti pendidikan di Taruna Nusantara, AHY kemudian memilih mengembangkan kariernya dimiliter sebagai Taruna di Akademi Militer (Akmil) Magelang untuk mengikuti jejak ayahnya. Sekali lagi, ia berhasil menorehkan prestasi yang cukup membanggakan dengan keberhasilannya mendapat penghargaan pedang Tri Sakti Wiratama serta medali Adhi Makayasa pada Desember 2000. Kemampuan AHY semakin teruji saat dirinya mulai mengikuti Pendidikan Dasar Kecabangan Infanteri (Sarcabif) dan Kursus Combat Intel tahun 2001. Dalam pendidikan tersebut AHY kembali menunjukkan kemampuan akademisnya dengan predikat lulusan terbaik.

Tahun 2002, AHY mengawali karier militernya sebagai Komandan Peleton (Danton) di Yonif Linud 305/Tengkorak Kostrad. Ilmu kepemimpinannya semakin terasah saat dirinya ditugaskan ke Aceh bersama prajurit TNI lainnya dalam rangka operasi pemulihan keamanan.

Di Singapura saat dirinya mengikuti pendidikan Master tahun 2005, Ia lulus dengan predikat sangat memuaskan dan berhak atas gelar Master of Science in Strategic Studies dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University. Selain itu ia juga menjadi salah satu peserta forum the Asean 100 Leadership, dan setelahnya kembali menjadi peserta forum Asean Leadership ketiga di Malaysia pada tahun 2006. Antara tahun 2008 s.d 2009 AHY didaulat menjadi observer pada event seminar The Pacific Armies Management.

Tahun 2008, Kementerian Pertahanan (Kemhan) meminta AHY membentuk sebuah tim kecil terkait rencana pendirian Universitas Pertahanan (Unhan) yang mana universitas ini nantinya didirikan sebagai perguruan tinggi negeri untuk menyelenggarakan pendidikan akademik dan vokasi serta pendidikan profesi dibidang pertahanan  dan belanegara setaraf Magister atau S-2 dengan standarisasi kelas dunia (World Class).

AHY pernah digadang-gadang memiliki kecerdasan melebihi SBY yang juga salah satu peraih medali Adhi Makayasha tahun 1973. Bahkan Panglima TNI Gatot Nurmantyo sendiri mengakui AHY sebagai salah satu perwira muda berdedikasi tinggi yang pernah disiapkan sebagai salah satu pemimpin TNI dimasa depan beserta perwira terbaik lainnya.

Jelaslah sudah, dengan segudang pengalaman dan prestasi yang melekat pada dirinya tersebut akan menjadikannya sebagai salah satu petarung muda  yang cukup diperhitungkan dalam Pilgub 2017 kali ini. Baginya, enam belas tahun dinas aktif dimiliter sudah cukup untuk membuktikan kemampuannya berpikir dan bertindak strategis. Tidak hanya itu, sebagai salah satu putera mahkota Cikeas sangat tidak mungkin ia tidak tahu bagaimana lika-liku menjalankan sebuah roda pemerintahan mengingat ayahnya pernah menjabat sebagai Presiden RI ke 6.

Tidak heran jika ada yang mengatakan AHY ini meski berpangkat mayor tapi wawasannya sudah setingkat jenderal.

Muncul sejumlah prediksi, jika AHY berhasil meraih kemenangan dalam Pilgub DKI 2017 ini, ia akan memiliki modal utama untuk maju ke Pilpres 2019. Tapi jika kalah, Partai Demokrat sudah siap menarik AHY dan menjadikannya sebagai figur pemimpin partai yang akan datang mengingat saat ini belum ada figur yang cocok menggantikan SBY sebagai Ketua Umum.

Jadi tidak ada kekalahan bagi AHY dalam pertarungan sengit kali ini karena semua sudah terukur dan terencana.

"Salam"

BAGIKAN

0 comments: