Sunday, 2 October 2016

GBN Yogyakarta : PKI Sudah Menyusup ke Pemerintahan

Tampak sejumlah pejabat daerah dan TNI menyaksikan prosesi pengukuhan pengurus Ormas Gerakan Bela Negara (GBN) DIY di Titik Nol Monumen Serangan Oemoem Satu Maret, Yogyakarta.
 Di Plaza Serangan Oemoem Satu Maret (Titik Nol) Yogyakarta, Sabtu (1/9/2016) telah dideklarasikan Organisasi Masyarakat (Ormas) Gerakan Bela Negara Daerah Istimewa Yogyakarta (GBN DIY) yang dihadiri oleh pengurus pusat Mayjen TNI (Purn) Budi Sudjana dan Marsda TNI (Purn) Amirullah Amin.

Seperti yang tertulis di press realase, Organisasi GBN ini dibentuk oleh masyarakat DIY sebagai salah satu wujud sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai atas kecintaannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Selain itu juga untuk menjamin kelangsungan hidup WNI dalam berbangsa dan bernegara. Khususnya dalam mengamankan ideologi negara yakni Pancasila dan NKRI dari ancaman ideologi komunis dan ideologi non Pancasila lainnya.

Dalam press realase juga diceritakan tentang bagaimana perkembangan ideologi komunis dari masa ke masa yang mana saat itu negara Indonesia telah mengalami beberapa kali fase pemberontakan Komunisme sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1926, Peristiwa Tiga Daerah tahun 1945, Pemberontakan Cirebon tahun 1946 serta Peristiwa Madiun tahun 1948 dan terakhir pada era pemerintahan Soekarno (1965). Pada pemberontakan G30S PKI 1965 tidak sedikit rakyat Indonesia yang menjadi korban keganasan PKI sehingga menimbulkan rasa traumatik yang luar biasa.

Namun, sejarah dan dinamika sosial politik Indonesia terus berubah, dan PKI (Partai Komunis Indonesia) telah dibubarkan melalui supersemar (surat perintah 11 maret) dan dikuatkan pula oleh Ketetapan MPRS no 25/1966 dan lebih dikuatkan lagi dengan UU no 27 Tahun 1999. Akan tetapi bagi para penggiat Komunisme, PKI tidak pernah mati dan tidak pernah pula bubarkan oleh para pendirinya. Sebagaimana pesan DN Aidit, Sudisman serta para tokoh PKI yang lain.

Berbagai gejala kebangkitan PKI bisa dilihat dari maraknya atribut dengan lambang PKI di berbagai wilayah Indonesia, buku-buku yang mengajarkan komunisme, simposium nasional yang membela PKI, Festival Sastra yang menyanyikan lagu genjer-genjer dan membela PKI, serta munculnya petisi penghancuran monument Pancasila Sakti Lubang Buaya yang dipimpin oleh Shinta Miranda (anak tokoh Gerwani PKI) di Taman Ismail Marzuki pada awal Mei 2016 lalu.

Kondisi yang demikian membuat warga DIY khususnya yang tergabung dalam Front Anti Komunis Indonesia (FAKI) khawatir dan meningkatkan kewaspadaan, sehingga meleburkan diri dengan GBN sebuah organisasi massa yang berpusat di Jakarta.

FAKI sendiri di Yogyakarta, merupakan komunitas aktifis anti Komunis yang terdiri dari para relawan yang memiliki kesamaan visi untuk membendung bangkitnya ideologi komunis di wilayah DIY. FAKI juga kerap menggalang gelar pasukan dan pawai massa akbar anti komunis, untuk mengingatkan masyarakat tentang Bahaya PKI pada perayaan hari peringatan Pemberontakan G30S/PKI, setiap tahun.

Kini FAKI yang sudah meleburkan diri menjadi GBN melihat perkembangan situasi dan kondisi sosial masyarakat saat ini sudah mulai masuk taraf mengkhawatirkan dimana para aktifis Komunis yang sudah tidak lagi berbaju PKI diketahui telah masuk dan menyusup ke dalam lini kehidupan masyarakat Indonesia secara luas.

“Mereka ada di DPR RI (Pusat), di DPRD Provinsi Kabupaten dan Kota. Beberapa diantara yang terindikasi Komunis itu menjadi pejabat publik; ada yang menjadi Gubernur, Bupati, Walikota dan lain-lain.” Seperti yang tertulis dalam press realasenya.

Mereka juga mencurigai hilangnya Film Tragedi G30S/PKI dari peredaran dan munculnya Film-film seperti Gadis berkalung Sorban, Senyap, Jagal, dan Pulau Buru Tanah Air Beta yang kental sekali aroma kirinya/Komunis merupakan cara PKI membalikkan fakta sekaligus mem-brainwash wawasan generasi muda tentang sejarah kelam yang terjadi di tahun 65. 

BAGIKAN

0 comments: