Tuesday, 4 October 2016

Kesal Dengan Kinerja BPN II Surabaya, Wanita Ini Sebut Sarangnya Mafia Tanah

Dengan nada emosi Hj. Nuraini melabrak kantor BPN II Surabaya dan dihalangi oleh sejumlah petugas (Foto : AD)
 Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) II Surabaya mendadak dibuat gempar dengan kedatangan  seorang wanita setengah baya membawa sapu lidi dan kendi teriak-teriak di sekitar halaman dan mengatakan kantor BPN II Surabaya adalah sarang mafia tanah, Senin (3/9/2016).

Aksi nekat yang dilakukan oleh wanita tersebut yang ternyata diketahui bernama Hj. Nuraini warga Jember dipicu atas tindakan BPN II Surabaya yang dianggapnya telah melakukan “jual-beli” dan penggandaan sertifikat tanah keluarganya secara diam-diam ke pihak PT. Hardayawidya Graha pemilik Grand City Surabaya tanpa ijin.

Dengan suara berapi-api sambil menebas-nebas sapu lidi didepan semua pengunjung, Nuraini menuntut BPN II Surabaya segera mengembalikan tanah hak miliknya yang "dijual" pejabat lama BPN II Surabaya tanpa sepengetahuan dan seijin dirinya.

“Hati-hati jika mengurus sertifikat, dikantor ini banyak mafia nya, banyak sertifikat ganda dan palsu buktinya surat tanah orang tua saya tiba-tiba beralih nama orang lain” teriak Nuraini didepan pengunjung BPN.

Melihat Nuraini semakin menjadi meluapkan kekesalannya, pihak BPN II Surabaya tidak bisa berbuat banyak dan berjanji akan mempertemukan Nuraini dengan pihak PT. Hardayawidya Graha sekaligus melakukan mediasi.

“kami sebenarnya ingin mempertemukan (Nuraini) dengan yang bersangkutan, karena dia (Grand City) diundang tidak datang, kuasa hukum meminta untuk memediasi ” Ujar Naizum selaku Kepala BPN II Surabaya seperti yang dilansir dari laman Buserkriminal.com.

Menurut pengakuan Nuraini terkait pergantian status kepemilikan tanah dari pihak keluarganya ke PT. Hardayawidya Graha, dirinya sepeserpun tidak menerima uang ganti rugi dan tidak pernah berniat menjual tanah tersebut. Dirinya juga mengaku saat ini masih memegang bukti sah kepemilikan tanah seluas 5 hektar berdasarkan Eigendom Verponding 6341 yang diduga telah dipalsukan oleh PT. Hardayawidya Graha melalui pejabat lama BPN II Surabaya. (Baca juga : Sengketa Tanah : Pemilik Grand City Surabaya Pernah Tersandung Kasus Suap dan Korupsi)

Disebutnya juga BPN II Surabaya sengaja mengulur-ulur waktu dan hanya memberikan janji tanpa bukti, karena sudah bertahun-tahun dirinya mengurus sampai sekarang tidak ada realisasi hingga dirinya mengaku kesal dengan cara kerja BPN II Surabaya.

Tahun 2014 lalu, Nuraini juga sempat mendirikan sebuah patok kepemilikan tanah bertuliskan "Tanah milik ahli waris Nur Aini binti Muhammad Al Maghrabi" di sekitar area lokasi tanah yang saat ini berdiri Grand City Surabaya Mall.

"Karena ini tanah milik orang tua saya, saya jadi berani menaruh plakat disini, kalau bukan milik saya nggak mungkin saya berani. saya bukan orang gila" ujarnya.

BAGIKAN

0 comments: