Tuesday, 4 October 2016

Sengketa Tanah : Pemilik Grand City Surabaya Pernah Tersandung Kasus Suap dan Korupsi

Siti Hartati Murdaya pemilik PT. Hardayawidya Graha yang mendirikan pertokoan modern Grand City Surabaya Mall di Jl. Gubeng Pojok, Ketabang - Genteng, Surabaya.
 Seperti dilansir dari laman Merdeka.com (22/7/2014) pemilik Grand City Surabaya Siti Hartati Murdaya ternyata pernah di vonis oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan hukuman penjara dua tahun delapan bulan serta denda Rp 150 juta dalam kasus suap di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, 2 tahun lalu.

Dalam keterangannya Hartati diketahui telah terbukti menyerahkan uang sejumlah Rp. 3 miliar ke Bupati Buol yang saat itu dijabat oleh Amran Batalipu untuk penerbitan Izin Usaha Perkebunan (IUP) dan Hak Guna Usaha terhadap tanah seluas 4.500 hektare yang dimiliki PT CCM, salah satu anak perusahaan milik Hartati.

Kali ini Hartati kembali bersengketa dengan Hj. Nuraini warga Jember yang kalap karena tanah waris miliknya seluas 5 hektar tiba-tiba “raib” dan berpindah tangan menjadi milik PT. Hardayawidya Graha salah satu perusahaan milik Hartati yang kemudian diatasnya dibangun pertokoan modern Grand City Surabaya Mall.

Hj. Nuraini selama memiliki tanah tersebut merasa tidak pernah menawarkan atau menjualnya kepada pihak manapun, dirinya terkejut ketika tahu status tanah di BPN II Surabaya tiba-tiba berpindah kepemilikan menjadi milik Hartati. (Baca juga : Kesal Dengan Kinerja BPN II Surabaya, Wanita Ini Sebut Sarangnya Mafia Tanah)

Berkali-kali dirinya mencoba menemui pemilik Grand City Surabaya tapi tidak pernah bisa. Begitupun juga saat dirinya menemui pejabat BPN II Surabaya namun hasilnya sama saja tidak ada perkembangan.

Menurutnya, kuat dugaan cara yang sama seperti yang dilakukannya pada Bupati Buol, pemilik Grand City Surabaya Mall yakni Hartati telah melobi pejabat Badan Pertanahan Nasional (BPN) II Surabaya yang menjabat saat itu untuk menerbitkan surat kepemilikan lahan miliknya agar beralih nama menjadi hak milik Hartati dengan nomor surat 671.672.673.471. Sedangkan saat ini Hj. Nuraini memegang bukti sah kepemilikan tanah seluas 48.100 M2 berdasarkan Eigendom Verponding No 6341.

“Petok C-nya ngarang. Tanah yang diakui dalam sertifikat itu terdiri dari 40.565 meter persegi dan 7.400 meter persegi, padahal hanya 40.100 meter persegi saja. Jadi ada indikasi gratifikasi antara PT HWG milik Hartati dengan BPN Surabaya, sehingga terbitlah surat kepemilikan tanah atas nama Hartati. Namun kenyataannya, sampai hari ini pembayaran jual-beli belum dilakukan," papar Kuasa Hukum ahli waris, Arius Sapulete yang dikutip dari laman Merdeka.com, Minggu (22/6/2014).

BAGIKAN

0 comments: