Thursday, 29 December 2016

BNPT Siapkan Modul Deradikalisasi Jelang Dioperasikannya Lapas Khusus Terorisme

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) khusus napi terorisme yaitu Lapas Kelas IIB Sentul yang berada di areal komplek Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) akan mulai beroperasi pada awal 2017 mendatang. Dengan akan beroperasinya Lapas tersebut, BNPT pun juga sudah menyiapkan modul deradikalisasi. Selain modul deradikalisasi, BNPT juga berkewajiban menyiapkan modul materi pengamanan Lapas, sementara modul administrasi Lapas disiapkan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pemasyarakatan (PAS) Kementrian Hukum dan HAM.

"Saat ini penyelesaian Lapas Kelas IIB Sentul dalam tahap finishing. Lapas ini akan menjadi Pusat Deradikalisasi bagi napi terorisme yang selama ini tersebar di Lapas-Lapas seluruh Indonesia. Keberadaan Pusat Deradikalisasi ini juga untuk menjawab keinginan banyak pihak agar napi terorisme tidak dicampur dengan napi biasa," kata Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT MayjenTNI Abdul Rahman Kadir di sela-sela Rapat Evaluasi Program Pelaksanaan Deradikalisasi Tahun 2016 di Hotel Millenium, Jakarta, Kamis (29/12/2016).

Abdul Rahman Kadir menegaskan bahwa keberadaan Lapas khusus napi terorisme mengharuskan BNPT dan Ditjen PAS, dalam hal ini Lapas dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) wajib menjalin sinergi dan kerjasama yang lebih baik lagi. Ini penting karena menyangkut pelaksanaan program deradikalisasi yang lebih efektif dan tepat sasaran.

"Saya berharap sinergitas BNPT dengan Ditjen PAS bisa semakin baik demi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari penyebaran paham radikal dan terorisme, khususnya di dalam Lapas," tutur alumni Akmil tahun 1984 yang dibesarkan di pasukan Baret Merah, Kopassus TNI-AD ini.

Terkait pelaksanaan Rapat Evaluasi Program Pelaksanaan Deradikalisasi Tahun 2016, Mayjen Abdul Rahman Kadir mengungkapkan kegiatan evaluasi ini  untuk melihat apa yang sudah dilakukan, serta melihat kelebihan dan kekurangan pelaksanaan program deradikalisasi. Dari evaluasi ini, BNPT dapat mengetahui  kinerja apa saja yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki. Rapat evalulasi ini digelar selama tiga hari, 28-30 Desember, dengan dihadiri 123 peserta meliputi Kepala lembaga Pemasyarakatan (Kalapas), Balai Pemasyarakatan (Bapas) se-Indonesia, Ditjen PAS Kemenkumham, dan akademisi/praktisi.

Ia berharap rapat evaluasi ini dapat merumuskan dan memformulasikan  metode-metode  yang baru untuk pembinaan  napi terorisme di tahun yang akan datang. Dengan mengevaluasi secara komprehensif dari desain program, waktu pelaksanaan, capaian dan sasaran, metode serta materibdan tenaga pelaksana (ahli psikologi, ahli agama), akan mengefektifkan program deradikalisasi yang dilakukan BNPT.

"Konsep deradikalisasi yang telah terlaksana dari beberapa tahapan misalnya dari tahap Identifikasi, Rehabilitasi, Reedukasi dan Resosialisasi, bisa dibahas bersama dalam forum evaluasi ini. Bagaimanapun ini menjadi penting karena evaluasi akan mempengaruhi program dan kinerja di tahun 2017," ujar pria yang pernah menjabat sebagai Komandan Satuan 81/Penanggulangan Teror Kopasssus ini.

Sementara itu dalam kesempatan tersebut Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi Ditjen PAS Kemenkumham Ilham Jaya SH, MH, Mpd, menyampaikan apresiasi terkait pelaksanaan rapat evaluasi ini. Hal ini sangat penting untuk mendorong pola pembinaan napi terorisme yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

"Semoga sinergi BNPT dengan Ditjen Pas dapat memberbaiki pola pembinaan didalam Lapas. Bagaimanapun pola pembinaan napi terorisme ini akan berbeda dengan napi lain karena napi terorisme ini terkait dengan paham atau ideologinya yang ada pada mindset napi terorisme," ujar Ilham. (Adri Irianto)

BAGIKAN

0 comments: