Monday, 13 February 2017

Ahli Bahasa : Pidato Ahok Di Kepulauan Seribu Keluar Dari Konteks

Sidang lanjutan kasus penistaan agama terhadap terdakwa Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) di Auditorium Kementerian Pertanian (Kementan) Jakarta, Senin (13/2/2017) dengan agenda mendengarkan keterangan para ahli.

Ahli Bahasa Indonesia dari Universitas Mataram,Prof. Mahyuni, MA, Ph.D, yang merupakan saksi ahli kedua yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang Ahok tersebut menyatakan bahwa pidato Ahok di Kepulauan Seribu sudah keluar dari konteks.

"Kesan saya sebagai ahli itu topiknya mengarah ke kampanye, seolah-olah dia tidak yakin akan dipilih karena secara tiba-tiba berpidato soal gubernur memakai Surat Al-Maidah ayat 51," kata Mahyuni saat memberikan kesaksianya.

Ia pun menyayangkan pidato Ahok yang menyinggung Al-Maidah ayat 51 karena diketahui tujuan awalnya adalah kunjungan kerja sebagai Gubernur DKI Jakarta saat itu. "Tidak usah dikaitkan dengan yang lain, yang saya ketahui kan kunjungan kerjanya soal masalah ikan," ucap Mahyuni.

Seperti diketahui, Ahok dikenakan dakwaan alternatif yakni Pasal 156a dengan ancaman 5 tahun penjara dan Pasal 156 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara. Menurut Pasal 156 KUHP, barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Sementara menurut Pasal 156a KUHP, pidana penjara selama-lamanya lima tahun dikenakan kepada siapa saja yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. (Himawan Aji)


BAGIKAN

0 comments: