Tuesday, 13 June 2017

Bulan Ramadhan Momen Untuk Meningkatkan Rasa Bertoleransi

Bulan Ramadhan harus bisa menjadi sebuah momentum untuk saling bertoleransi dan hormat-menghormati bagi antar umat beragama. Sebagaimana kita ketahui bahwa kita hidup dalam sebuah masyarakat majemuk yang tidak hanya dari aspek etnis, adat istiadat atau tradisi, tapi juga keyakinan atau agama. atau yang biasa dikenal dengan Alissa Wahid

“Sebagai warga negara yang hidup dalam masyarakat yang majemuk, bulan Ramadhan ini harus bisa dijadikan sarana untuk mengasah spirit toleransi dan kerukunan antar sesama umat tersebut,” ujar Koordinator jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Qotrunnada Munawaroh, di Jakarta, Selasa (13/6/2017) 

Dijelaskan putri sulung Presiden RI ke-4, (Alm.) KH. Abdurrachman Wahid atau Gus Dur ini, toleransi itu pada dasarnya sikap untuk saling menghormati. Dan sikap saling menghormati itu sendiri dasarnya adalah keyakinan bahwa semua manusia itu adalah ciptaan tuhan. Dan karena itu setiap manusia memiliki posisi yang setara yang nantinya akan dinilai oleh Tuhan.

“Jadi yang membedakan atau manusia berbeda hanya dari ketaqwaannya. Dan Tuhan akan menilai manusia hanya dari ketaqwaan. Bukan manusia yang menilai. Tetapi selain itu manusia di muka bumi ini adalah setara,” ujar wanita yang biasa dikenal dengan nama Alissa Wahid ini.

Dan dari situlah menurutnya kita sebagai manusia yang beragama kemudian bisa untuk saling hormat-menghormati dan bisa saling bertoleransi antar sesama umat. Untuk itu dirinya meminta kepada seluruh umat manusia untuk memulainya dari berpikir adil.

“Kalau kita bisa berpikir adil, lalu kalau kita mengikuti ajaran di dalam kitab suci bahwa Tuhan itu menciptakan manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku untuk saling mengenal dan saling membantu, maka toleransi seharusnya tidak menjadi masalah,” ujar wanita yang meneruskan perjuangan pemikiran Gus Dur dalam bidang sosial, budaya dan keagamaan  melalui The Wahid Institute ini.

Dirinya tidak menampik atas kekhawatiran yang terjadi selama ini terhadap pesan permusuhan yang beredar di media sosial yang semakin menguat. Pihaknya pun melakukan penelitian terhadap masalah intoleransi dan masalah terorisme.

Menurutya ada dua hal yang cukup menarik yang muncul dari penelitian tersebut dalam dua kutub. Dimana kutub yang pertama adalah 88% anak muda di Indonesia itu sebenarnya tidak setuju dengan terorisme. Tidak menganggap terorisme itu wujud sebagai keberagamaan, bahwa ini adalah jihad atas nama tuhan, itu tidak dipercaya oleh mereka.

“Tapi  pada saat yang sama, sikap intoleran itu ternyata juga semakin menguat. Jadi walaupun tidak setuju dengan terorisme pada saat ini, tetapi ada sikap-sikap tidak menyukai atau tidak setuju kepada orang-orang yang berbeda agama, berbeda suku,” ujarnya menyangkan.

Kelompok ekstrimis ini menurutnya menggunakan istilah-istilah yang menyulut kemarahan. Yang pertama adalah soal bagaimana kelompok agama tertentu itu ditindas dan memandang orang lain menjadi musuh. “Jadi bahan bakarnya adalah permusuhan, rasa takut dan kebencian,” ujarnya

Untuk itu Wanita yang telah menyelasaikan studi master bidang psikologi.di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini mengingatkan agar kita sebagai umat manusia tidak perlu ketakutan dengan orang yang berbeda pendapat, kelompok, berbeda agama maupun berbeda latar belakang. Karena, justru perbedaan itu yang menjadi ruang untuk kita saling bekerjasama dan saling mengisi.

“Dan momentum bulan ramadhan ini adalah kesempatan buat kita semua untuk mengikis rasa benci, rasa curiga dengan memperkuat rasa saling percaya dan saling rasa keinginan untuk saling membantu sesama umat manusia,” ujarnya mengakhiri.  (Adri Irianto)

BAGIKAN

0 comments: