Tuesday, 25 July 2017

Masyarakat Harus Sadar dan Paham Untuk Melawan Radikalisme

Masyarakat harus sadar dan paham terhadap perlunya untuk melawan radikalisme, termasuk yang disebarkan lewat media sosial atau dunia maya. Pelibatan masyarakat dalam memerangi radikalisme, termasuk yang ada di dunia maya menjadi penting agar mereka paham dan mengerti bahwa kontraradikalisme itu harus terus digiatkan.

"Penyadaran sikap dan pemahaman pentingnya antiradikalisme ini harus melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak muda yang ahli di bidang teknologi informasi (TI) guna memerangi berita-berita atau unggahan yang bersifat negatif," ujar Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol. Hamli di sela-sela acara Pelatihan Duta Damai Dunia Maya di Malang, Selasa (25/7/2017)

Berdasarkan hasil penelitian dilakukan BNPT bekerja sama dengan sejumlah pihak, lanjutnya, 72 persen masyarakat di Tanah Air merupakan masyarakat yang antiradikalisme, namun masyarakat tersebut bersikap toleran pasif yang seharusnya toleran aktif.

Sementara itu, dalam hasil penelitian itu juga disebutkan rakyat yang terlibat dalam aksi radikalisme tak lebih dari 1 persen, 7,7 persen mau radikalisme dan 0,4 persen sudah melakukan radikalisme. Data tersebut bersumber dari hasil penelitian ilmiah kerja sama BNPT dengan sejumlah lembaga peleliti terpercaya.

Namun demikian, Hamli menekankan perlunya kewaspadaan terhadap paham radikalisme sekecil apapun."Semua elemen patut mawas diri dan waspada terhadap radikalisme," kata Hamli.

Ia mengakui upaya pihak-pihak menyebarkan teror dan berita-berita "hoax" di Tanah Air sudah merambah seluruh aspek dan dimensi kehidupan tanpa memandang status sosial, agama, ras, suku dan jenjang lembaga pendidikan.

Menyinggung efektifitas latihan yang digelar bagi anak-anak muda ahli TI untuk memerangi radikalisme di dunia maya, Hamli mengaku saat ini masih belum bisa diukur. "Hasil dari pelatihan ini baru bisa dilihat pada akhir tahun. Harapan kami paling tidak bisa mengimbangi orang-orang atau kelompok yang mengunggah berita-berita negatif," ujarnya.

Seperti diketahui, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melatih sekitar 60 anak muda Kota Malang yang memahami dan ahli teknologi informasi (TI) untuk memerangi radikalisme di dunia maya. Pelatihan yang digelar BNPT di salah satu hotel di Kota Malang itu berlangsung selama empat hari (24-27 Juli 2017) dan bertajuk "Pelatihan Duta Damai Dunia Maya se-Kota Malang dan sekitarnya. Peserta pelatihan tersebut rata-rata adalah mereka yang ahli di bidang TI, blogger dan desain komunikasi visual (DKV).

"Teroris sangat pintar bermain di dunia maya, bahkan mereka mampu memanfaatkan dunia maya yang memiliki pembaca tidak terbatas itu untuk menyebarkan ideologi dan merekrut anggota baru, terutama kalangan anak muda," kata Kasubdit Kotra Propaganda BNPT Kol Pas Drs Sujatmiko di Malang, Jawa Timur, Selasa.

Ia menerangkan pelatihan Duta Damai Dunia Maya di Malang ini merupakan kali ketiga yang digelar BNPT tahun ini setelah Bandung dan Semarang. Dan, yang keenam sejak program ini digulirkan pada 2016. (Adri Irianto)



BAGIKAN

0 comments: